Perihal Dendam dan 13 Reasons Why

31 Maret 2017 lalu Netflix mengeluarkan serial terbaru berjudul 13 Reasons Why. Kisah ini diangkat dari buku dengan judul yang sama. Selama tiga hari saya berkutat di depan Netflix untuk menonton ketigabelas episodenya. Sebuah tayangan yang sebenarnya begitu menarik dan menyenangkan hingga di suatu titik di mana saya mulai mempertanyakan ini: “Apakah saya orang baik?”

Premis 13 Reasons Why seperti ini; Hannah Baker memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, ia meninggalkan tujuh kaset berisi 13 alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. 13 alasan itu merujuk kepada orang-orang di sekelilingnya, dengan kata lain, Hannah Baker menuduh 13 (well, 12 sebenarnya karena ada tokoh yang disebut dua kali) orang di dalam kaset sebagai ‘pembunuh’nya.

Sangat menarik untuk diikuti! Kita akan diajak menyelami kehidupan Hannah Baker sebagai murid pindahan yang bingung bagaimana memulai ‘hidup’ di sekolah baru. Beruntung, Hannah dipertemukan dengan sesama murid baru sehingga hari-harinya tidak buruk.

Namun, di episode-episode selanjutnya kita akan melihat berbagai interaksi Hannah dengan ‘kelompok-kelompok murid’ di sekolah. Dan inilah yang membuat saya tidak menyukai Hannah Baker dan mempertanyakan baik tidaknya saya sebagai manusia karena tidak memiliki empati sedikit pun terhadap Hannah Baker yang malang.

Saya pribadi adalah murid pindahan. Anak umur 15 tahun yang terpaksa beradaptasi ke semua yang serba baru; gedung baru, teman baru, strata sosial baru, kelompok baru, dan sebagainya. Menjadi remaja itu rumit, perasaan lebih dipakai daripada logika, namun seberapa boleh perasaan bermain ketika kita menilai suatu masalah? Menurut saya, Hannah Baker kelewatan. Bahasa kininya: DRAMA!

13 Reasons Why membuat berbagai macam perdebatan, bagi tim yang membela Hannah Baker, bunuh diri bukan perkara gurauan, dan tujuan yang paling penting dari serial ini adalah agar kita (manusia) sigap dengan manusia-manusia sekeliling kita yang memiliki kecenderuangan bunuh diri. Itu betul. Tapi, bagi yang kontra terhadap keputusan bunuh diri Hannah dan menuduh orang lain atas tindakan tersebut, Hannah terlalu bermain perasaan, terlalu pedendam dan itu salahnya sendiri.

Pada suatu episode seorang murid yang sudah jengah dengan kelas bimbingan konseling mengenai pencegahan terhadap bunuh diri bilang kurang lebih seperti ini: “Bisa nggak kita selesai membahas bunuh diri dan pencegahannya? Kelas ini sungguh membuat depresi. Hannah Baker bunuh diri, betul, itu menyedihkan. Tapi semua orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri, can we just move on?” Dan saya setuju. Tepat di poin ‘semua orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri’ saya mengangguk dengan semangat. Kesalahan Hannah Baker lah yang tidak memiliki pegangan yang sebenarnya masih bisa ia dapatkan.

Hannah Baker datang dari keluarga yang baik-baik, rumah yang nyaman, dan lingkungan sosial yang lurus. Jika kita mau membandingkan dengan tokoh-tokoh lain seperti Justin, Courtney, Jessica, Alex, bahkan Bryce, mereka lebih patut dikasihani dibandingkan Hannah.

Dan mungkin ini yang paling perlu saya keluarkan dari otak saya, betapa kita sebagai manusia harus mengetahui batasan-batasan yang tidak boleh kita lewati.

Dalam 13 Reasons Why kita bisa dengan mudah membuat ‘kelompok-kelompok murid’ seperti ini:

Kelompok brengsek/populer/keren-dan-semua-siswa-mau-menjadi-mereka-atau-berteman-dengan-mereka: Justin, Zach, Alex, Jessica, Bryce

Kelompok pintar-namun-gaul-hingga-disenangi-banyak-orang: Marcus, Courtney

Kelompok nerd-dan-bodo-amat-karena-yakin-dengan-sesuatu-dan-sudah-tahu-tujuan: Ryan

Kelompok underdog-dan-sulit-bergaul-biasanya-objek-utama-bully: Tyler

Kelompok anak-baik-berteman-dengan-siapa-saja: Sheri, Clay, dan … Hannah!

Saya merenungi masa SMA saya dan akhirnya bisa mengelompokan teman, musuh, kenalan saya ke dalam kelompok-kelompok di atas karena memang kelompok di atas adalah tipikal struktur sosial di setiap sekolah.

Kesalahan Hannah adalah ia seperti tidak memiliki perlindungan diri terhadap apa yang ia hadapi, dan ini yang membuat saya jengkel setengah mati kepadanya. Sebagai anak yang datang dari kelompok terakhir, Hannah seperti tidak sigap atau waspada kepada kelompok lain.

Sebagai contoh, kita tidak selalu melihat Marcus atau Courtney ‘bergabung’ dengan kelompok brengsek/populer/keren karena mereka pada dasarnya adalah nerd, mereka bisa bergabung tapi tahu kapan harus menarik diri dari kategori itu. Sheri pun begitu, ia diundang ke berbagai pesta yang diadakan tapi tahu batasan karena ia ada di kelompok anak baik, hal yang sama berlaku terhadap Clay. Kelompok terakhir memang berisi ‘you’re not like us, but you can sit with us’, kelompok yang bisa dibilang stabil, cukup seru tapi tidak akan mau berbuat gila.

Sepanjang menonton, saya mendapatkan kesan bahwa Hannah tidak mau berada di kategori terakhir, ia ingin masuk ke dalam kategori pertama. Tapi ia tidak siap! Seperti anak baik-baik yang belajar nakal, ketika dinakali menangis habis-habisan. Ini menganggu sekali. Dan karena perasaan lebih dominan, maka Hannah mendendam dan menumpahkan itu semua melalui kaset dan menuduh tokoh-tokoh lain sebagai ‘pembunuh’nya. Buat saya, itu tidak adil.

Mungkin Hannah tidak tahu bahwa si A menjadi brengsek karena di rumah ia selalu dipukuli hingga berdarah. Mungkin Hannah tidak tahu bahwa si B diminta untuk selalu meraih nilai terbaik dan beban keluarga ada di pundaknya. Mungkin Hannah tidak tahu bahwa si C diminta untuk menuruti perintah-perintah yang dibuat demi sebuah contoh kepada masyarakat. Mungkin Hannah tidak tahu bahwa si D menyembunyikan jati dirinya demi nama baik keluarga. Mungkin Hannah tidak tahu bahwa si E hanya mendapatkan harta tanpa kasih sayang sedikitpun.

A, B, C, D, dan E bertingkah seperti itu karena di rumah mereka diperlakukan dengan tidak baik hingga saat sampai di sekolah mereka memakai perlindungan diri, mereka tidak mau lagi menjadi yang tertindas.

Karena serial ini, banyak remaja yang mengaku bahwa mereka juga merasakan hal yang sama seperti Hannah, mereka menghubungi suicide prevention di negara mereka. Dan saya hanya bisa menggeleng sedih betapa lemahnya (jika boleh berkata seperti ini) perlindungan diri remaja-remaja tersebut terhadap masalah hidup mereka. Beberapa mungkin memang perlu bantuan, namun jika sebentar-sebentar sudah mengeluh dan ingin bunuh diri? Wah, cukup mengganggu juga.

Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dan reaksi terhadap masalah yang dihadapi kembali kepada keputusan orang itu sendiri. Dan Hannah Baker, saya sungguh-sungguh sedih dengan apa yang terjadi terhadapmu, tapi alasan ke-14 adalah dirimu sendiri. Kamu yang membiarkan perlindungan terhadap dirimu rentan. Menjadi remaja memang sesulit itu, tapi kamu tidak sendirian.

Selesai menonton ketigabelas episode 13 Reasons Why, saya langsung menonton ulang film yang berkisah nyaris serupa namun dengan balutan humor dan reaksi yang baik dari tokoh utama mengenai bully yang dideritanya: EASY A.


Tulisan ini dibuat karena saya merasa perlu menumpahkan pendapat saya mengenai serial ini. Mengingat sebuah saran, jika suatu hal menghantuimu begitu hebatnya, maka kamu harus menumpahkannya. 13 Reasons Why adalah serial yang baik, buktinya ia mampu membuat saya harus susah-susah menuliskan ini.

Oh dan satu hal lagi, bisa jadi saya tidak menyukai Hannah Baker karena saya iri terhadapnya yang berani memutuskan bunuh diri dan tidak lagi menghadapi masalah hidup. Tapi siapa yang tahu jika saya ternyata depresi dan ingin mengakhiri hidup?

Welcome to your tape …

Buku Terpilih 2016


Sebenarnya beberapa minggu lalu saya sudah memikirkannya; membuat daftar buku terpilih terbitan tahun 2016. Tapi saya lupa. Sampai akhirnya tadi pagi, di saat saya sedang asyik bermain Super Mario Run, notifikasi dari Timehop mengabarkan bahwa pada hari ini, tahun lalu, saya membuat daftar buku terpilih terbitan 2015.

Maka sepanjang hari ini, di sela kesibukan bermain Super Mario Run (duh!) di ponsel dan pertemuan dengan penerbit, saya memikirkan untuk membuat daftar buku terpilih terbitan tahun 2016 pada malam nanti, yang berarti, saat ini.

Awal mula, tentu saya membuka Goodreads, untuk melihat buku-buku terbitan tahun 2016 yang saya baca. Dan dari 50+1 buku yang saya baca di tahun 2016, setelah menimbang dan mengingat sensasi membaca tiap judul buku yang tertera di daftar ‘read’ saya tahun ini, daftar buku terpilih saya untuk terbitan tahun 2016 seperti ini:

1. Dee | Intelegensi Embun Pagi | BENTANG PUSTAKA | 26 Februari 2016

[Periode baca: 26-28 Februari 2016]

Ini masalah romantisme. Saya satu dari sekian banyak yang tergila-gila dengan serial Supernova karangan Dewi Lestari. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa Intelegensi Embun Pagi terlalu ‘penuh’ karena semua tokoh berkumpul, mungkin penyelesaiannya tidak memuaskan, mungkin terlalu tipis (ya, buku tebal ini terasa begitu tipis, hahaha), dan mungkin mungkin yang lain. Tapi ini masalah romantisme. 15 tahun, sejak saya duduk di bangku SD (sumpah! saya masih ingat Dewi Lestari membaca kepingan Supernova: Akar di MetroTV ketika saya masih menggunakan seragam SMP), hingga kini sudah bekerja dan usia menikah, serial Supernova akan selalu menjadi kesukaan, terutama Akar dan Petir. Ah, Bodhi, Elektra, kalian luar biasa. Sekali lagi, ini masalah romantisme. Dan jika sudah cinta, mau bilang apa?

2. Pareanom, Yusi Avianto | Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi | BANANA | Maret 2016

[Periode baca: 1-26 Mei 2016]

Buku ini… anjing betul! Bisa dilihat bahwa periode membaca saya untuk membaca buku ini sangat panjang, hampir satu bulan sendiri. Buku ini bukan page turner? Oh, bukan begitu! Dari awal, sejak kalimat; “Rasanya begitu luhur, Raden.” saya tahu, saya harus menjaga buku ini dengan sepenuh hati. Tiap kalimat saya ratapi dalam-dalam karena belum tentu akan ada buku seanjing ini beberapa tahun lagi. Buku yang saya pikir seharusnya masuk ke dalam daftar buku-yang-harus-dibaca-sebelum-kamu-mati. Ya, kalaupun ada daftar semacam itu.

3. Zezyazeoviennazabrizkie, Ziggy | Jakarta Sebelum Pagi | GRASINDO | Mei 2016

[Periode baca: 23-25 Juni 2016]

Nama penulisnya belum bisa saya lafalkan dengan baik sekali pun tahun lalu bukunya yang berjudul Di Tanah Lada masuk ke dalam daftar buku terpilih saya terbitan tahun 2015. Ini buku populer, buku yang saya kira akan, ya sudah, begitu saja. Toh, ini buku pesanan (istilah pribadi untuk buku-buku tematik yang biasanya digagas oleh penerbit, dan penerbit menawarkan penulis untuk ikut ke dalam proyek tersebut), jadi tidak perlu ekspektasi macam-macam seperti Di Tanah Lada yang DKJ-ish. Tapi… kejutan! Jakarta Sebelum Pagi bisa saya bilang buku hybird, populer tapi tidak populer-populer amat, sastra juga bukan kategori yang tepat. Apa pun sebutannya, saya suka buku ini!

4. Kwan, Kevin | Kaya Tujuh Turunan (Crazy Rich Asians) | GRAMEDIA | 20 Juni 2016

[Periode baca: 19-20 Juli 2016]

Buku ini… wow! Saya hanya iseng mengambil dan membeli buku ini di toko buku pada suatu hari yang saya pikir mari-bersenang-senang-dan-habiskan-uang-yang-sudah-didapatkan-sebelum-merana-menunggu-gaji-berikutnya. Namun ternyata buku ini mengubah semua pandangan saya sebelumnya mengenai Singapura. Cerita begitu menyenangkan dan mengesankan sampai-sampai sungguh sulit menutupnya sebelum tamat. Penulisnya pintar sekali membagi kisah tokoh-tokoh di tiap bab, sehingga berkali-kali pembaca dibuat menanti kisah tokoh yang difavoritkan. Buku menghibur yang baik.

5. Triwikromo, Triyano | Bersepeda ke Neraka | KPG | 4 April 2016

[Periode baca: 24 September 2016]

Cukup satu hari untuk menyelesaikan buku ini. Buku ini mengejutkan, dalam arti yang sangat baik. Apalagi sebelumnya penulis mengeluarkan buku dengan judul Surga Sungsang, yang juga saya senangi. Seakan belum sempurna jika tidak menyinggung neraka, maka buku ini pelengkap sekaligus penghiburan bagi saya yang senang dengan tulisan ringkas dan tangkas. Banyak sekali cerita-cerita yang saya tandai di buku ini. Kisah-kisah yang, menurut saya, menyenangkan untuk dipikirkan. Untuk sekadar membuang waktu dengan; “Iya, ya, bagaimana jika… ”

6. Bohang, Lala | The Book of Forbidden Feelings | GRAMEDIA | 18 Juli 2016

[Periode baca: 29 September 2016]

Buku lain yang selesai sekali duduk. Sejujurnya, saya kurang begitu memahami seni lukis di buku ini yang bagi saya terlalu aneh. Tapi entah mengapa, gambar-gambar di buku inilah yang membuat tiap kalimat menjadi sangat tegas. Sebagai orang yang senang sekali dengan demotivasi diri (hahaha!), buku ini candu sekaligus refleksi tentang pemikiran-pemikiran yang sungkan untuk dituangkan. Ya, buku ini memang membawa kebahagiaan yang pahit. Oh ya, dengan cover minimalis yang sangat bagus, buku ini terlihat bergaya untuk dibawa-bawa. Ketika saya membaca buku ini di TransJakarta koridor 1, seorang bule (yang sebelumnya menanyakan rute kepada saya di halte Dukuh Atas) sangat antusias dengan buku ini dan memuji cover dan gambar-gambar di dalamnya. Ia berjanji, dengan sungguh-sungguh, akan mencari buku yang sedang saya pegang itu saat ia bermain ke toko buku selama ia di Jakarta.

7. Ramadhina, Windry | Angel in the Rain | GAGASMEDIA | 5 Oktober 2016

[Periode baca: 13-17 November 2016]

Saya membaca e-booknya. Dan, saking sukanya dengan cara penulisan penulisnya di buku ini, saya membeli versi buku cetaknya! Terima kasih kepada Windry Ramadhina yang membuat novel populer sangat menyenangkan untuk dibaca. Saya selalu terpakau dengan cara Windry menulis. Sebelum buku ini terbit, saya dibuat kagum dengan Interlude. Dan kini, dengan begitu ringan, namun memiliki muatan, Angel in the Rain berhasil membuat saya sungguh-sungguh bahagia dan puas. Meski tebal buku diluar kebiasaan GagasMedia, tapi terasa pas. Tokoh-tokoh begitu matang. Jahitan antar cerita sangat halus. Saya benar-benar mencintai buku ini.

8. Zezyazeoviennazabrizkie, Ziggy | San Francisco | GRASINDO | 25 Juli 2016

[Periode baca: 19-22 November 2016]

*baca ulasan nomor 3*

**beberapa minggu setelah selesai membaca buku ini, penulisnya dianugerahi Pemenang 1 Sayembara DKJ 2016, tak sabar!**

9. Rinni, Dyah | Asa Ayuni | FALCON | 12 Desember 2016

[Periode baca: 17 Desember 2016]

Sepertinya tahun ini tahun ‘populer’ bagi saya. Dari The Blue Valley Series yang diterbitkan penerbit baru, Falcon, ini, Asa Ayuni bagi saya adalah juaranya. Saat membaca buku ini, saya seakan disuguhkan berbagai keruwetan hidup. Ini buku Dyah Rinni pertama yang saya baca, tapi jelas bukan yang terakhir. Penulis ini menulis dengan sangat rapi dan menyenangkan, membuat adegan tutup buku hanya terjadi ketika saya berganti posisi atau tempat baca, dan tentu, ketika ceritanya habis.

—–

Jadi begitulah. Sembilan buku terpilih yang terbit di tahun 2016 yang saya sempat baca. Agak mengejutkan sebenarnya karena buku populer mendominasi daftar saya karena saya sering diledeki oleh teman-teman sebagai pemuja sastra. Kalimat dari Ada Apa Dengan Cinta: “Oh, surat saya dibaca juga? Kirain cuma mau baca bacaan penting aja; karya… sastra!” sering menjadi candaan yang kadang saya tanggapi dengan serius.

Mungkin 2016 menjadi tahun yang muram, semua orang hampir sepakat mengenai itu jika kita melihat postingan-postingan di media sosial. Dan secara tidak sengaja, kemuraman itu yang menggiring saya untuk memilih buku-buku populer yang ceria di tahun ini, buku-buku yang tidak perlu memiliki muatan sosial, budaya, hukum, atau agama.

Oh ya, untuk pertama kalinya, sejak mengikuti Reading Challenge di Goodreads pada tahun 2013, saya berhasil merampungkan goal saya, yaitu 50 buku. Prestasi pribadi yang ingin saya pamerkan ke orang-orang, meski tidak penting sama sekali. Dan perihal +1 di judul, saya sedang membaca dua judul buku secara bersamaan, fiksi dan non-fiksi, yang kemungkinan akan selesai sebelum malam tahun baru karena keduanya sudah sangat sedikit lagi sampai di penghujung.

Selamat menyambut tahun 2017! Semoga tahun depan buku-buku semakin baik kualitasnya, baik sastra maupun populer. Selamat berlibur.

Saat 26

Kubelah Sumatera dari ujung selatannya hingga ke utara. Babat sampai habis dengan tubuh tipis ini, seorang diri. Dari gagahnya Marlborough, cantiknya Ngarai Sianok, mistisnya Danau Toba, hingga Sabang yang tak memiliki lagi tetangga.

Kujalani perbatasan itu, Siem Reap hingga Bangkok, sudah dengan bus maupun kereta, sama debarannya. Selamat atau tidak ke tujuan dengan prasangka baik atau buruk yang berkecamuk sambil disertai berbagai bahasa yang tidak memiliki sejarah dengan bahasa ibuku sebagai pengiring.

Kutelusuri Bali dari kaki hingga kepalanya hanya untuk melihat Rahwana yang bertarung hebat dengan Hanoman, Kumbakarna Laga. Tempat di mana azan beramai-ramai bisa berkumandang tanpa perlu mengalah oleh dentuman musik.

Kujejakan kaki di Timur Jauh, Tokyo yang bising hingga Kyoto yang temaram sunyi. Menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya teman untuk berdiskusi. Sejauh-jauhnya seorang diri, jauh dari rumah.

Kucabik Surakarta hingga ke pecahan terkecilnya untuk menemukan piramida yang tersasar di Jawa. Memikirkan bagaimana bisa, bagaimana mungkin sesudah melihatnya dan kesenangan dengan hasil pemikiran sendiri yang tentu tidak jelas keabsahannya.

Kudatangi satu persatu reruntuhan tempat Patih yang bertahta dan bersumpah di Trowulan, tempat di mana tak jauh Bubat yang tak terelakan itu terjadi. Mengais dan membayangkan kerajaan yang pernah ditakuti di seluruh dunia.

Dan sempat kuhampiri Tuhan di rumah-Nya. Sebaik-baiknya Mekkah, mereka yang pernah ke sana tahu: Madinah selalu di hati.

Depok, 20 Januari 2016

Buku Terpilih 2015

Terpilih 2015
Terpilih 2015

Selama lebih dari seminggu sudah kupikirkan untuk membuat daftar buku terbaik terfavorit terpilih yang terbit pada tahun 2015 menurut pandanganku. Namun, pikiran itu hanya membangkai di otak selama lebih dari seminggu, hingga akhirnya, pada malam ini aku tidak bisa memenangkan satu pun dari tujuh game yang kuikuti di permainan Get Rich dan aku batal ke Prodia untuk mengambil hasil cek gula darahku (akhir-akhir ini aku mudah sekali terserang gatal dan tidur lebih dari sepertiga hari) karena hujan sedang deras-derasnya, aku memutuskan untuk menumpahkan bangkai di otakku.

Daftar buku terpilih yang terbit tahun 2015 ini kususun berdasarkan abjad seperti pada daftar pustaka, entahlah, terlihat keren jika aku mengurutkannya menggunakan metode itu.

1. Armandio, Sabda | KAMU: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya | 7 Februari 2015

Salut! Aku mengetahui keberadaan buku ini saat aku sedang main ke lantai atas kantorku (jika kau belum tahu, kini aku bekerja di sebuah toko buku online) dan menemukannya di rak buku sebagai koleksi nomor lepas. Pertama kali melihat, jelas aku penasaran bukan kepalang. Selain judulnya yang sungguh memikat, buku KAMU memiliki figur yang menarik, ia tidak seperti buku terbitan Indonesia kebanyakan yang menggunakan dimensi 14 x 20 cm, ia seakan memilih untuk berbeda di dimensi 11 x 17 cm. Menyenangkan, karena buku tersebut bisa dipamerkan berkat keunikan bentuk tubuhnya ketika menunggu kereta di Stasiun Pondok Cina, pun ketika sudah di dalam gerbong.

Aku cukup terkejut bagaimana Sabda meracik cerita di buku ini. Bukan hanya tampilan luarnya yang bagus, namun bagian dalamnya juga memuaskan. Mungkin aku tidak terlalu banyak membaca buku, namun ini kali pertama aku merasa begitu dekat dengan tokoh yang direka, merasa aku sudah berkarib dengan tokoh utama begitu lama. Betapa mudahnya Sabda membuat pembaca terlena dengan lekuk kota Bogor serta jalan pintas dan orang utan yang dapat berbicara. Cerita luar biasa mengalir dan aku benci setengah hidup karena cerita berakhir tanpa ada aba-aba, kecuali bagian buku sebelah kanan tanganku sudah kian menipis dibandingkan arah sebaliknya yang tidak begitu kuperhatikan.

Sebuah artikel yang sempat terbaca olehku, Sabda disebut menggunakan aliran Haruki Murakami dalam bertutur di buku ini, dan aku membenarkan. Jika terus menggunakan aliran tersebut, aku tidak keberatan menjadi pengagum tetap Sabda Armandio.

Kamu diperbolehkan untuk tidak percaya dengan ulasan sangat sederhana ini. Aku memberikan lima bintang di Goodreads. Kamu boleh juga tidak percaya, suka-sukamu, lah.

2. Kurniawan, Eka | Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi | Maret 2015

Tentu, seperti kebanyakan pembaca di Indonesia (bahkan, dunia) yang lain, aku tergila dengan tulisan-tulisan Eka Kurniawan. Perkenalan pertamaku dengan Eka Kurniawan dimulai dari Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, lalu aku mundur membaca seluruh bukunya mengikuti tahun terbit. Semua kusenangi kecuali satu, Corat-Coret di Toilet, bukan berarti buruk, hanya saja… Katakanlah, ada dendeng balado dan ikan bakar di meja makan, aku lebih memilih dendeng balado meski aku tidak keberatan untuk memakan ikan bakar jika dendeng baladonya habis. Dan karena hal tersebutlah sebenarnya aku memiliki ketakutan bahwa aku akan kurang senang dengan buku kumpulan cerpen yang judulnya sulit untuk ditweet ini. Satu-dua cerita mungkin tidak menjadi kesenanganku (sangat wajar menurutku, mengingat selalu begitu yang kurasakan ketika membaca sebuah kumpulan cerpen dari satu penulis) namun beberapa cerita pada bagian akhir membuatku terperangah dan akhirnya membuatku memasukannya ke dalam daftar buku terpilihku di tahun ini.

Dan cerita pendek yang menjadi judul buku ini mengingatkanku kepada The Alchemist karya Paulo Coelho. Aku yakin bukan hanya aku yang berpandangan demikian.

3. Mansyur, M. Aan | Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi | 27 Mei 2015

Banyak yang memuja kumpulan puisi Melihat Api Bekerja, namun aku lebih menyenangi novel, maka aku senang ketika buku ini bertemu dengan ekspektasiku. Aku senang mengikuti cara berpikir tokoh di buku ini, senang betapa ibu sang tokoh utama bersetia hanya dengan satu suami, senang dengan kisah cinta yang begitu biasa namun luar biasa. Balutan kisah di buku ini mengajakku berpikir banyak tentang hidup. Aku ingat berkali-kali menempelkan buku ini di dada seakan mau melesapkannya ke hati. Buku ini begitu manis dan pahit di saat yang bersamaan.

Adegan konyol yang tercipta di kehidupan nyata adalah: Aku bertemu dengan penulis buku ini dan berkesempatan menunggu shuttle bus di acara Ubud Writers & Readers Festival 2015 bersama. Aku memutuskan untuk menjauhinya karena beranggapan bahwa ia memiliki lemah jantung (demikian tokoh yang ditulisnya di buku ini) dan aku sedang merokok, namun tak lama kemudian ia juga menyulutkan rokok, dan dengan bodoh aku menyapa lalu mengaku kepadanya bahwa aku beranggapan tokoh dibukunya adalah ia sendiri. Dia hanya tertawa dan aku berbasa-basi seadanya.

4. Muhammad, Damhuri | Anak-Anak Masa Lalu | Juni 2015

Boleh dikatakan aku cukup terkejut dengan pilihanku ini. Karena sesungguhnya aku bukan pengagum buku kumpulan cerpen, terlalu risiko terjadi pengulangan sehingga aku berasumsi tak lama setelah memulai membaca, aku akan bosan. Namun, buku ini sungguh sangat baik. Banyak kisah yang terjadi di pedalaman yang mungkin belum kau dengar, dan buku ini menceritakannya dengan cara yang paling mudah dipahami, paling mudah dimaklumi.

Dan aku terkesima bahwa pemikiran masa lalu, ketika masa kecil dihabiskan, bisa membuat pandangan seseorang begitu kukuh. Mengerikan sekaligus menyamankan, tergantung kau mau memandanginya dari sisi mana.

5. Oddang, Faisal | Puya ke Puya | 15 Oktober 2015

Aku pernah dengan ambisius membeli tiket UPG-CGK saat promo sebuah maskapai penerbangan berlangsung. Tiket itu batal kupakai dan hangus begitu saja karena kebodohanku yang tidak membeli tiket CGK-UPG (pembelaanku, aku ingin tiba di pulau Celebes untuk pertama kalinya menggunakan kapal Pelni, namun aku tak kunjung membeli tiketnya hingga hari kepulangan terlewati). Bukan hanya kerugian materi yang harus kutanggung, namun melihat keindahan Tana Toraja harus kupendam lebih lama.

Beruntung buku ini mengisahkan sosial budaya di Tana Toraja pada masa kini, meski tidak berbunga-bunga mengisahkan memukaunya pemandangan daerah tersebut, aku jadi paham berbagai sudut pandang adat istiadat di sana.

Betapa sangat tuanya peradaban di Tana Toraja, mengingatkanku akan istilah Melayu Tua yang pernah terselip di pelajaran Sekolah Dasar, begitu agung dan menarik membaca akulturasi yang terjadi setelah berabad-abad manusia hidup, turun-temurun. Mempertahankan kebiasaan atau membuat kebiasaan baru. Meninggikan adat atau melawan adat. Mengikuti keluarga, atau durhaka. Buku ini sungguh kaya akan cerita, dan aku senang sekali dengan kisah di pohon Tarra.

6. Zezsyazeoviennazabrizkie, Ziggy | Di Tanah Lada | 19 Oktober 2015

Mungkin aku harus memulainya dengan permintaan maaf kepada penulis buku ini. Aku tidak begitu senang dengan namanya (seorang teman pernah berkata itu nama aslinya, dan aku hanya bisa terperangah) sehingga mengurungkan niat untuk membeli dan membaca buku ini. Namun, saat antrean Star Wars begitu memukau, aku memutuskan untuk ke toko buku dan entah mengapa akhirnya membeli buku ini.

Salah satu keputusan terbaik sepanjang tahun 2015! Buku ini bahkan sudah memikat saat dibuka. Lalu saat aku harus menunda membacanya karena pintu studio di mana Star Wars akan ditayangkan, aku disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kelanjutan cerita di buku ini. Aku tidak tenang. Permainan psikologi anak yang luar biasa, sempat membuatku heran mengapa tidak ditetapkan menjadi juara pertama Dewan Kesenian Jakarta 2014, meski memang Kambing & Hujan terlihat lebih kaya dengan sosial budaya.

Demikian enam buku terpilih terbitan tahun 2015 yang bisa kurangkum. Banyak buku yang berkesan selama aku melakukan perjalanan dengan buku di tahun 2015, namun keenam yang sudah kusebutkan memiliki rasa tersendiri untukku.

Selain enam buku di atas, aku memilih tiga buku yang tidak terbit di tahun 2015 namun membekas diingatanku. Ketiga buku tersebut adalah:

  1. Simple Miracles: Doa dan Arwah | Ayu Utami | Oktober 2014
  2. South of the Border, West of the Sun | Haruki Murakami | 1 Desember 2006 (terbit pertama kali 1992)
  3. Habiskan Saja Gajimu | Ahmad Gozali | Februari 2013

Menurut catatan Goodreads, sampai postingan ini dibuat aku hanya sempat membaca 35 buku di tahun ini, dan sepertinya tidak akan bertambah mengingat waktu yang sudah dalam hitungan jam untuk berganti tahun. Sebenarnya tidak cukup banyak untuk membuatku sok mengerucutkan dan menjadikannya terpilih (aku menghindari kata terbaik karena sebenarnya tidak ada yang terbaik, kembali kepada selera masing-masing, bukan? Aku juga menghindari kata terfavorit karena akan mengesankan berurutan) karena, percayalah, banyak sekali buku baik yang terbit di tahun 2015 dan aku tidak memiliki waktu yang banyak untuk membacanya.

Margonda, De Eerste Protestants Onderdaan Kerk

Kotaku bernama Depok. Sebuah kota yang akhirnya harus menjadi besar karena berbatasan langsung dengan ibukota negara, Jakarta. Kota yang seharusnya tenang karena, hey, bahkan bila kau tambahkan imbuhan pe- dan -an akan menghasilkan arti yang menenangkan, bukan? Menjadi tempat untuk menjernihkan pikiran atau bahkan untuk melakukan meditasi laiknya petapa yang mencari ilmu kebatinan.

Trivia: Depok sudah merdeka pada 28 Juni 1714, memiliki pemerintahan sendiri bahkan presiden yang dipilih setiap tiga tahun sekali oleh warganya.

Beban kotaku ini mungkin tidak seberat ibukota negara, namun percayalah, untuk masuk dan keluar Depok pada jam berangkat dan pulang kerja akan membuatmu sedikit frustasi. Hal yang sama pastinya berlaku bagi warga kota yang mengelilingi Jakarta, mereka harus melakukan commuting entah karena harus menuntut ilmu atau bekerja. Aku adalah salah satu yang melakukan commuting sejak Sekolah Menengah Atas karena kebetulan aku menuntut ilmu di Jakarta -sebenarnya ini terlalu dilebih-lebihkan karena sekolahku hanya terletak di Lenteng Agung, sebenar-benarnya perbatasan antara kota Depok dan kota Jakarta- sehingga aku harus menjalani kegiatan hilir mudik tersebut.

Dan tentu kalian tahu, atau kalaupun tidak pastilah pernah mendengar sebuah nama jalan yang hanya ditemui di kota Depok … Ya! Jalan Margonda. Jalan yang saat aku ketik di mesin pencarian Google hanya mengeluarkan satu hasil, jalan yang hanya dimiliki kota Depok. Jalan yang semua warga Depok yakini sebagai detak jatung kota, pusatnya. Di jalan ini kau bisa menemui markas besar pemerintahan kota Depok, Kepolisian Resor Kota, Terminal, dan Stasiun. Pusat perbelanjaan dari mulai Plaza Depok, ITC Depok, Depok Town Square, hingga Margo City berbagi alamat jalan yang sama, pun berbagai apartemen yang kini kian menjamur.

Jalan Margonda

Aku ingat, setiap pagi aku menumpang mobil ayahku, yang bekerja di Jakarta, untuk mencapai sekolahku. Kami biasa mendengarkan siaran radio sambil sesekali berbicara mengenai pembicaraan yang tidak penting selama kami menelusuri jalan Margonda, lalu biasanya akan menjadi pembicaraan penting ketika melewati Universitas Indonesia, kampus yang selalu dibesar-besarkan sebagai kampus terbaik di Indonesia itu memang salah satu kebanggan kota Depok karena letaknya yang berada di wilayah administrasi kota kami. Ya, saat itu siapa yang tidak mau berkuliah di Universitas Indonesia? Saat jalur masuknya hanya punya satu nama, SPMB. Biasanya ayahku akan bertanya mengenai pilihan jurusanku, menanyakan apakah yakin dengan pilihanku, menanyakan apakah persiapanku cukup untuk menghadapi ujian. Sampai akhirnya aku benar-benar resmi menjadi mahasiswa di Universitas tersebut.

Maka hubunganku dengan Margonda tidak lagi menjadi sekadar pengguna, aku sepenuhnya terikat dengan Margonda. Kau tahu, saat aku harus mengerjakan tugas kuliah, maka kosan temanku di apartemen Margonda menjadi pilihannya, jika bosan kami akan pindah ke tempat-tempat makan sekitar, juga di jalan Margonda. Tugas yang berhubungan dengan digital printing? Perkara mudah untuk menemukan kios yang bisa membantu. Belum lagi saat kami ingin menonton film-film keluaran terbaru dengan harga hemat di Depok Town Square atau menghabiskan uang di Starbucks Margo City hanya untuk terlihat bergaya atau ditraktir di D’Cost ITC Depok oleh teman yang berulang tahun. Bahkan kami juga pernah mencari dana dengan mengamen di jalan Margonda.

Saat aku menuliskan ini, aku terkejut betapa banyak kenangan yang aku lalui bersama jalan Margonda.

Ah, ya, Margonda juga menjadi saksi di mana aku bergandengan tangan dengan kekasihku, dan menjadi tempat di mana kami berdua memutuskan hubungan. Tapi cerita yang itu, mungkin akan kuceritakan di lain waktu.