Pacar Cantikku

Langkahku terus terpacu, ini adalah kencan pertamaku dengan kekasihku yang baru. Kami meresmikan hubungan kami beberapa hari yang lalu, dan hari ini adalah Sabtu. Waktunya berkencan kesebuah pusat perbelanjaan yang berada dikawasan Selatan. Entahlah, mungkin aku terlalu normal untuk ukuran manusia yang mengajak kencan pacarnya ke tempat selain pusat perbelanjaan. Jadi, menurut pendapatku pusat perbelanjaan bukanlah tempat yang buruk untuk berpacaran mengingat hampir semua manusia normal melakukannya.

Kulihat lagi pergelangan tanganku, sudah hampir pukul tujuh. Aku gelisah, pacar cantikku belum juga terlihat, seharusnya kami berdua bertemu disini, tepat didepan lambang XXI pusat perbelanjaan yang semakin malam semakin ramai saja. Baiklah baiklah, aku tahu apa yang ada dipikiran kalian, jangan menilaiku dulu. Pacarku ini mandiri, dia tidak suka diantar jemput. Jadi jangan salahkan aku bila aku tidak menjemput kerumahnya, walaupun sebenarnya aku ingin.

“Hey!” Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Ah, ini dia. Pacar cantikku akhirnya datang. Aku tersenyum kearahnya dan dia mencium kedua pipiku. Wow, malam belum berakhir tapi dia sudah menciumku. Setelah itu kugenggam tangannya dan kami berdua berjalan masuk kedalam XXI untuk membeli tiket pemutaran film.

“Kamu tadi naik apa kesini?” Tanyaku sambil menyuapkan sendok kedalam mulut. Setelah mendapatkan tiket pemutaran film pukul sembilan kami memutuskan untuk mengisi perut kami yang kosong. Tapi seperti layaknya wanita, pacarku yang cantik tidak menghabiskan setengah porsi makanannya, diet katanya. Akhirnya aku lah yang sekarang memegang kendali sendok dan garpu miliknya.

Pacar cantikku tersenyum, memainkan sedotan dimulutnya yang mungil. “Diantar sama Pak Budi, supirku.” Jawabnya sambil terus memainkan sedotan, sesekali dia memperhatikanku dan membuatku salah tingkah. Pacar cantikku benar-benar cantik. Kami berdua terlibat percakapan menyenangkan setelah aku berhasil menghabiskan setengah porsi makanan pacar cantikku. Kami berbicara tentang apa saja, dan itu sangat menyenangkan.

Waktu terasa cepat berlalu jika kita menikmatinya, begitulah kejadian yang aku alami sekarang. Sudah hampir pukul sembilan, kami berdua bergegas menuju XXI dan masuk kedalam salah satu studionya. Untunglah belum terlambat, lampu didalam studio masih menyala terang. Aku dan pacar cantikku dapat dengan mudah menemukan nomor kursi yang sama dengan tiket kami. Orang lain mulai memenuhi studio, lampu sudah diredupkan, trailer film telah dimainkan, dan kini filmnya akan dimulai.

***

“Gimana pasien kamar 185? Ada kemajuan?”

“Masih dengan cerita yang sama.” Ujar Suster itu dengan malas sambil meletakkan file pasien 185 diatas meja kerjanya. Setumpuk file pasien lain yang belum dia datangi masih menunggu untuk dijamah.

“Hahaha, pengalaman kencan pertama yang tidak pernah dia lakukan karena pacar cantiknya meninggal akibat kecelakaan menuju tempat kencan mereka?”

Suster itu mengangguk kearah temannya yang masih tertawa.