Dititipkan

“Tapi mobilnya udah nggak muat. Kamu sama Bintang aja yah?”

Tanpa bermaksud untuk menguping pembicaraan antara Januar dengan Bulan, tapi sepertinya Januar memang sengaja membesarkan volume suaranya. Bintang mengerti, Januar sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya, pastilah dia lebih memilih untuk duduk di mobil bersama keluarganya dibanding dengan dirinya dan Bulan.

“Ya udah, tapi nanti kita ketemu kan?” Permintaan manja dari Bulan pasti tidak bisa ditolak oleh Januar. Dan benar saja, Januar mengangguk, walaupun Bintang tahu bahwa sahabatnya itu kelelahan.

Bulan tersenyum senang. Januar sempat memeluk Bulan lalu melambaikan tangannya ke Bintang. “Titip Bulan yah Bin.” Teriak Januar sambil berlari menuju keluarganya.

“Titip selamanya juga boleh.” Jawab Bintang tanpa dipikir.

Bulan sempat memalingkan mukanya kearah Bintang karena kaget. Januar yang mengangap itu sebagai candaan hanya tertawa sambil terus berlari.

“Kamu tuh apa-apaan sih?” Tanya Bulan saat mereka berdua berjalan menuju parkiran dimana mobil Bintang terparkir.

“Nggak sengaja.”

Bintang berjalan lebih cepat, meninggalkan Bulan beberapa langkah dibelakangnya. Pikirannya buntu, tidak ada jalan keluar dari masalah ini. Ada, tapi dia tidak mau melewati jalan keluar itu. Hanya ada dua jalan keluar, yang pertama adalah memaksa Bulan untuk memutuskan Januar, lalu menghapus nama Januar dalam hidup mereka. Sedangkan yang kedua, Bintang lah yang harus menyingkir dari kehidupan Bulan dan Januar. Tidak ada pilihan yang menyenangkan untuk Bintang.

Menjemput Ksatria

“Ya sudah, tapi kamu dianter sama Pak Budi yah.” Mama akhirnya mengalah, senyumku mengembang. Tangisan adalah jurus yang ampuh.

Mama segera keluar dari kamarku, mungkin memberitahu Pak Budi untuk bersiap-siap demi mengantarkan aku. Pakaian terbaik harus aku kenakan, itu yang ada dipikiranku saat Mama keluar kamar. Segera kubuka lemari pakaianku, kupilih gaun tercantik menurut pendapatku. Gaun itu berwarna biru muda, oleh-oleh dari Papa setelah pulang dari Australia. Kukenakan bedak yang kuambil dari kamar Kakak, bedak pasti akan memoles kecantikanku. Dalam waktu 10 menit sempurna sudah penampilanku.

Saat aku keluar dari kamar dan turun menuju ruang keluarga, kudengar perdebatan antara Mama dan Kakak. Kakakku itu sedikit berteriak, aku yang penasaran segera berlari berbaur dengan mereka.

“Tapi nanti aku telat Ma.”

Mama tidak bicara, beliau malah memperhatikanku. “Kamu cantik.” Katanya sambil tersenyum.

“Ah, udahlah. Batalin aja sekalian!” Kakak berlari menuju kamarnya, persis seperti apa yang aku lakukan saat aku tidak diizinkan pergi ke ulang tahun Ksatria.

“Kakak kenapa Ma?” Tanyaku penasaran.

“Mobil Papa kan lagi di service. Cuma mobil Kak Mesty yang ada. Kakak kamu mau pergi, tapi kan kamu harus dianterin sama Pak Budi.”

Aku tersentak, benar juga, Kak Mesty hari ini akan bertemu pacarnya. Pacar barunya. Tapi bagaimana? Aku juga butuh mobil itu demi bertemu Ksatria. Aku berpikir, bagaimana jalan keluarnya.

“Ya udah Ma, Pak Budi nya nganterin aku, terus langsung pulang. Nanti aku dijemput lagi aja. Malem banget nggak apa-apa kok. Atau aku naik Taksi.”

“Enggak, kamu nggak boleh naik Taksi sendiri.”

“Ya, gampang kok. Pasti ada temenku yang dijemput, aku bisa nebeng kan?”

Mama seperti menimbang perkataanku, cukup lama sampai akhirnya dia mengangguk setuju. Kak Mesty biarlah menjadi urusan Mama. Seperti tadi Kak Mesty membiarkan aku merajuk dan ditenangkan oleh Mama.