Kaya

Seharusnya semakin larut, semakin sepi. Tapi ini adalah malam pergantian tahun, semua orang memberikan pengecualian kepada malam ini. Guru TK tidak akan lagi menuliskan tahun 2011 di papan tulis besok pagi. Semua telepon genggam yang pengaturannya benar tidak akan berputar di angka 2011 lagi. Bank sudah mencatat pembukuan pemasukan dan pengeluaran yang terjadi di tahun 2011. Sudah tidak bisa diganggu gugat, 2011 sudah lewat.

“Harapan kamu di tahun ini apa?” Rama meneguk minumannya, pandangannya tidak ke arah Shesa. Rama menikmati pemandangan seorang anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob.

Shesa mengikuti arah pandangan Rama dan tersenyum. “Sama seperti tahun lalu, semoga aku kaya.”

Rama langsung menoleh, tidak menyangka jawaban Shesa akan sesederhana itu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Shesa yang mengerti dengan tatapan Rama tertawa. “Hahaha, nggak usah segitunya, Ram.”

“Ya lagian kamu, jawabannya gitu doang.”

“Tuh kan, berarti kaya versi kamu sama versi aku beda. Kamu liat anak kecil itu, kan?”

Rama kembali menoleh ke arah anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob. “Iya, aku liat. Kenapa emangnya?”

“Aku sangat yakin, kaya versi anak kecil itu adalah punya balon gas berbentuk SpongeBob.”

Rama mengangguk, mulai mengerti apa yang dimaksud Shesa dengan kaya. Bukan materi seperti apa yang tadi sempat dia pikirkan. Kata kaya memang tidak sesederhana kelihatannya. Kaya lahir memang perlu, tapi kaya bathin lah yang seseungguhnya kaya. Dan bukan perkara mudah untuk mendapatkan kekayaan bathin.

“Terus, kalo kamu? Harapan kamu tahun ini apa, Ram?”

“Lulus kuliah! Sumpah, akademik ini masalah paling ganggu dalam hidup aku, Sa.”

Shesa tertawa terbahak-bahak.

Tuhan

“Patra baik banget nraktir kita.” Kata Shesa, masih terus meneguk minuman kopinya yang pertama di dunia.

“Kamu kalau tau berapa banyak uang yang ada di mesin kasir itu pasti nggak akan mikir kalau Patra itu baik.” Balas Rama sambil tertawa.

Shesa heran, alisnya terangkat. “Maksud kamu?”

Rama tersenyum sambil mulai membuka plastik Sampoerna Mild, “Saking banyaknya uang di mesin kasir itu, Patra nggak akan ketahuan nyelundupin dua minuman gratis. Kita bukan ditraktir Patra, kita lagi ditraktir Starbucks.”

“Hahaha! Jadi kalau aku mau bilang terima kasih, ke siapa dong?”

“Hmm, ke Tuhan, aja. Atau kalau kamu mau ngirim e-mail ke yang punya Starbucks, ya, silakan.”

Shesa tiba-tiba terdiam. Tuhan?

“Kenapa? Kok diam?” Rama yang menyadari perubahan wajah Shesa, bertanya.

“Kamu percaya Tuhan, Ram?”

Rama tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Shesa, pertanyaan macam apa itu? Kamu atheis?”

“Jadi kamu percaya?” Shesa tetap serius, tidak bisa ikut tertawa dengan Rama kali ini.

“Tuhan yang mana dulu?” Rama tersenyum jahil.

Shesa ikut tersenyum, menyadari bahwa lawan bicaranya pasti seorang yang sangat terbuka sampai berani bertanya ‘yang mana’ sebagai jawaban. “Yang mana aja, Ram.” Jawab Shesa akhirnya.

“Oke, gampang. Aku percaya Tuhan, yang mana pun, karena aku percaya dengan sebab akibat. Kamu tahu, tidak mungkin ada ciptaan tanpa pencipta.”

Shesa mengangguk, setuju. Jawaban itu cukup bagi Shesa, ternyata Rama memilih untuk memahami bahwa apapun yang ada di dunia ini pastilah ada yang menciptakan, tidak hanya ada begitu saja, sama seperti dirinya.

“Terus, kamu percaya adanya surga dan neraka?” Lanjut Shesa.

Rama yang baru saja akan membakar rokoknya kembali tertahan, tangannya kembali turun. Lagi-lagi pertanyaan yang perlu dipikirkan sebelum dijawab. Rama berpikir, menyiapkan jawaban terbaiknya. Sampai akhirnya dia memilih untuk membakar rokoknya terlebih dahulu.

“Gimana, Ram?” Shesa tidak sabar dengan jawaban Rama.

Rama masih berpikir, setelah tiga kali tarikan pada rokoknya, Rama bisa menjawab. “Oke, aku percaya. Aku percaya adanya surga dan neraka.”

“Kenapa?”

“Aku nggak punya gambaran lain setelah mati mau pergi ke mana, kecuali ke surga atau neraka.”

“Reinkarnasi?”

Rama menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Itu menarik, sih. Tapi, apa nggak bosen ngulang kehidupan?”

Giliran Shesa yang tertawa mendengar jawaban Rama. Membuat Rama merasa kesal karena diremehkan jawabannya.

“Aku serius. Paling kalo nanti aku reinkarnasi, akan seperti ini lagi. Ketemu masalah yang sama: lahir, sekolah, kerja, nikah, punya anak, mati.”

Shesa semakin tertawa, “Hahaha! Oke oke, terus kamu mau masuk mana, surga atau neraka?”

“Ya, neraka dong.”

Shesa yang belum selesai tertawa langsung tersentak, diam. Dengan cepat otak Shesa berpikir alasan kenapa Rama memilih neraka dari pada surga. Jawaban yang mengalir cepat tanpa Rama pikirkan sama sekali, tidak seperti pertanyan-pertanyaan sebelumnya, mampu membuat Shesa terkejut. Atau mungkin, ajaran agama Rama memiliki sudut pandang yang berbeda dengan ajaran agama Shesa? Neraka itu surga, surga itu neraka?

“Kenapa, Ram? Kenapa kamu milih neraka?” Tanya Shesa akhirnya.

Rama tersenyum, “Aku anti-mainstream.”

Shesa tertawa terbahak-bahak. Malam belum selesai, masih banyak waktu untuk menanyakan Rama tentang Tuhan.