Bahagia Tanpa Jeda

Tulisan ini seharusnya dibuat satu tahun yang lalu, namun entah mengapa saya mengurungkan niat menulis pengalaman ini saat itu, saat di mana ingatan saya masih kokoh dan mampu menceritakan tiap kejadian dengan terperinci.

Satu tahun lalu saya pergi ke Jogja dengan tujuan mengikuti prosesi Waisak seperti yang dilakukan oleh Meimei, tokoh dalam film Arisan! 2. Norak? Saya rela bila dianggap demikian, tapi adegan Meimei di film tersebut memang sebegitu menyihir saya. Kemudian ditambah dengan ingatan saya akan lampion yang berarakan di langit dalam film animasi Walt Disney, Tangled. Keinginanan saya untuk merasakan pengalaman menerbangkan dan melihat lampion berlipat ganda. Maka saya memutuskan pergi seorang diri.

Perjalanan saya ke Jogja kala itu mungkin akan menjadi perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan. Dimulai dari bertemunya kembali saya dengan calo tiket yang sama yang menjual tiket kepada saya di tahun sebelumnya. Bertukar cerita dengan Ucok kelahiran Kendari yang tidak punya darah Batak sama sekali di kereta ekonomi Kiaracondong-Kutoarjo. Menemani teman saya, Emmy, mencari penginapan seharga 50ribu per malam (dan hebatnya, dapat!) di dekat losmen saya di pagi hari. Ikut menemani dua teman saya, Om Em dan Jia, yang sedang promo buku kumpulan cerpen Perkara Mengirim Senja. Loncat dari tebing yang tingginya 12 meter (dan teman saya, Mike, melakukan loncat indah!). Sampai sebuah doa yang dikabulkan Tuhan.

Iya, sebuah doa yang dikabulkan Tuhan.

Akan ada saatnya saya menceritakan acara reuni saya dengan calo tiket kereta, bercerita tentang Ucok yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Sumatera Utara, tentang di mana teman saya akhirnya menemukan penginapan seharga 50ribu per malam, tentang promosi buku yang berjalan menyenangkan di Alun-alun Selatan, dan tentang bagaimana rasanya loncat dari ketinggian 12 meter. Akan ada saatnya. Kali ini cukuplah doa yang saya ceritakan.

***

Sejujurnya beberapa minggu sebelum Waisak, saya sedang mengalami rasa yang tidak mengenakan. Masalah pendidikan dan percintaan mendominasi otak dan hati hingga ke titik di mana saya ingin bunuh diri. Berlebihan? Mungkin. Tapi biarlah, merasakan sekali dalam seumur hidup (semoga!) depresi yang begitu hebat mungkin tidak ada salahnya. Toh, sekarang saya bisa dengan bangga menyatakan bahwa saya mampu melewati itu semua.

Apa yang ingin saya lakukan ketika prosesi Waisak sebenarnya sederhana saja. Saya ingin menuliskan doa di lampion yang saya beli dan kemudian akan saya terbangkan sendiri. Hanya itu. Tanpa bermaksud meremehkan kekuatan doa di rumah ibadah, tapi mungkin saya membutuhkan sebuah simbol. Dan melepaskan lampion bertuliskan doa sepertinya simbol paling sederhana namun bisa memberikan rasa lega yang luar biasa.

Saya suka kata melepaskan. Terdengar menenangkan. Terdengar teduh. Terdengar sabar. Terdengar ikhlas. Tapi lucunya, sejak kecil kita tidak pernah diajar untuk melepaskan. Kita hanya diajarkan untuk terus meraih. Ingat ‘Kupegang erat-erat’?

Maka muncul lah sebuah pertanyaan, doa apa yang akan saya tuliskan di lampion? Berhari-hari saya berpikir. Doa ini harus luar biasa, terdengar menggelegar dan mampu membuat orang menggelengkan kepala saking hebatnya. Tapi sampai jam sebelas malam di hari Waisak di pelataran Candi Borobudur, ketika lampion sudah berada di tangan dan spidol yang sejak tadi bersembunyi di saku celana jeans merengek minta digunakan, saya tidak menemukan doa apa pun.

Untunglah saat diperjalanan menuju Jogja, saat Ucok tertidur dan saya tidak memiliki teman berbicara di kereta, dua teman saya menitipkan doanya melalui BBM. Doa teman saya yang pertama, ‘Berikan saya kekuatan untuk kembali melihat cahaya’. Saya kesal sebenarnya, karena ini doa yang luar biasa, doa yang saya rasa pantas untuk saya panjatkan. Sedangkan doa teman saya yang kedua adalah, ‘Bahagia tanpa jeda’. Saya lebih kesal lagi ketika membaca ini. Bagaimana mereka, kedua teman saya, dengan cepat menemukan kalimat yang begitu luar biasa ketika saya menawarkan jasa penitipan doa di lampion? Sedangkan saya yang sudah mencari-cari doa seperti itu berhari-hari, tak kunjung dihampiri.

Akhirnya saya mengalah tengah malam itu. Ketika orang-orang sudah menerbangkan lampionnya, saya sibuk menulis doa kedua teman saya. Om Em, Jia, Emmy, Liony, Mike, dan teman-teman saya yang lain yang seluruhnya berjumlah 12 orang mendadak ingin juga menuliskan doa. Tapi ketika melihat dua doa yang sudah tertulis, mereka batal membubuhkan tulisan lain di sana. Akhirnya kami sepakat bahwa doa ‘Bahagia tanpa jeda’ adalah doa kolektif kami. Orang waras mana yang tidak mau berbahagia secara terus menerus? Doa itu cukup.

Lucunya, lampion yang bertuliskan doa itu sangat lama proses penguapan udaranya, dan ketika berhasil terbang pun, dia naik dengan sangat perlahan. Kami pun bercanda dengan berkata bahwa lampion dengan doa itu keberatan permintaan, keberatan harapan. Tapi akhirnya, dengan susah payah lampion itu terbang, menyusul lampion-lampion yang sudah lebih dulu mencapai angkasa atau mungkin telah mendarat entah di mana.

Saya tidak lagi mampu melihat lampion milik saya. Saya sudah melepaskannya ke angkasa, membiarkannya pergi. Melepaskan dengan harapan. Malam itu hati dan otak saya lega, beban saya seakan terangkat. Saya sudah bisa lagi menertawakan apa pun yang sebenarnya tidak lucu. Masalah pendidikan dan percintaan tentu bukan masalah baru di dunia, saya tidak mungkin menjadi orang pertama yang membuat drama karena dua hal tersebut. Maka saya memutuskan untuk menertawakannya saja. Ribuan lampion masih dapat saya lihat di langit, namun doa saya sudah terkabul. Saya melihat kembali cahaya untuk membuat hidup yang bahagia tanpa jeda.

Dan sekarang, setelah satu tahun saya menuliskan doa di lampion, apakah saya bahagia tanpa jeda?

Saat menuliskan ini saya tersenyum, berharap teman-teman saya yang ada saat pelepasan lampion tersebut mampu menjawab pertanyaan itu serupa dengan saya.

Karena jawaban saya, “Iya, saya bahagia. Tanpa jeda.”

***

Bhavatu Sabba Mangalam/Semoga semua makhluk berbahagia

PS: Om Em, Jia, Emmy, Liony, Mike, Kiki, Dini, Tyas, Kak Bet, dan Anti, kapan kita jalan bareng lagi?