Ada Melayu di Bangkok

Entah sejak kapan saya memiliki janji pribadi untuk tidak pernah menginjakan kaki di Malaysia. Berkali-kali tawaran teman yang mengajak berlibur ke Kuala Lumpur, Malaka, atau Penang saya tolak karena janji tanpa alasan tersebut. Sampai detik ini pun bila saya mencari tiket, saya menghindari penerbangan yang menyinggahkan penumpangnya di tanah Malaysia. Mungkin orang-orang bisa dengan mudah menyimpulkan janji saya itu didasari akan perang dingin antara Malaysia-Indonesia, saya tidak bisa mengamini pendapat itu karena saya sungguh tidak peduli dengan ‘perkelahian’ tersebut. Saya hanya tidak mau, dan sepertinya tidak perlu alasan untuk tidak mau.

Tapi mungkin janji saya nantinya bisa terpatahkan karena menemukan pengalaman bertemu ‘Malaysia’ di Kota Bangkok.

Semua teman saya yang sudah pernah ke Bangkok menyarankan untuk menaiki Airport Rail Link dari Suvarnabhumi menuju Phaya Thai dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi untuk sampai di daerah Songkran paling ramai, Khao San Road. Saya keras kepala. Saya memilih untuk menaiki Airport Rail Link dan turun di Hua Lamphong. Sungguh, di tiga peta Kota Bangkok yang saya dapatkan di bandara, Hua Lamphong lebih dekat daripada Phaya Thai. Masalah pun akhirnya datang. Hua Lamphong ternyata sebuah stasiun (sekaligus terminal?) besar yang menghubungkan hampir semua penjuru Thailand. Saya kebingungan mencari taksi dan tuk-tuk yang jarang sekali ditemui, kalau pun ada, terisi. Kalau pun kosong, mereka menolak mengantarkan ke daerah Khao San Road yang terlalu dekat dan macet. Hingga akhirnya dengan sok tahu saya berjalan sekitar Stasiun Hua Lamphong. Melihat-lihat sambil terus mencari kendaraan menuju Khao San Road.

Saat sedang berjalan (sok) percaya diri (padahal sudah panik), saya dicegat oleh seorang pria yang usianya sekitar akhir tiga puluh. Dia berbicara menggunakan bahasa Thailand, dan saya berkata, “Sorry, I’m not local.” Percayalah, saya melihat mata pria tersebut membesar dan senyumnya langsung mengembang. Kemudian dia bertanya apakah saya berasal dari Filipina, dan saya melongo. Saya pikir setelah dia mengira saya orang Thailand (karena dia mengajak saya berbicara dengan bahasanya), dia akan menganggap saya sebagai orang Malaysia. Saya menggeleng dan menjelaskan kalau saya berasal dari Indonesia. Percayalah, matanya kembali membesar. Dan semakin membesar lagi ketika tahu saya berasal dari Jakarta. Setelah bertanya apakah saya dalam rangka liburan dan saya mengangguk, dia segera memberikan sebuah peta Bangkok dan dengan cepat menjelaskan rute terbaik menuju Khao San Road. Di mulai dengan menggunakan tuk-tuk ke daerah A, kemudian menggunakan perahu (iya, melalui sungai!) ke daerah B, lalu menonton pertunjukan C sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke daerah D, kemudian E, lalu F, dan G, akhirnya sampai lah di Khao San Road.

“HAH?” Saya refleks berteriak ketika dia menyebutkan berapa harga Hua Lamphong-Khao San Road dengan rutenya tersebut … 3500 Baht! Lebih dari satu juta rupiah dan saya bahkan belum menemukan penginapan! Saya segera pamit saat itu juga, mencoba sopan dengan berkata bahwa saya masih ingin mengelilingi Hua Lamphong. Pria tersebut memaksa, “You can’t find anything here.” Dan saya berjalan tanpa arah, yang penting menghidar dari pria tersebut.

Jalan yang saya pilih membuat saya ketakutan sebenarnya, padahal saat itu masih pukul dua siang. Tapi suasananya sangat mencekam, bayangkan daerah Glodok yang penuh dengan pertokoan dalam keadaan tutup dan jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk tidak dilalui satu mobil pun. Semua warga Thailand sedang merayakan Songkran, sedangkan otak saya lebih memilih membayangkan peristiwa Mei 1998.

Saya memutar jalan untuk kembali ke Stasiun Hua Lamphong, menghindari pria yang menawarkan perjalanan satu juta rupiah ke Khao San Road. Sepanjang jalan, bila ada mobil pick-up yang lewat saya ‘ditembak’ oleh orang-orang yang berada di atasnya menggunakan pistol air mainan. Saya yang masih memanggul backpack, berjalan tanpa tujuan, masih mengenakan pakaian rapi karena baru sampai, menggunakan sepatu, dan akhirnya basah kena semprotan. Hebat! Saya bahkan belum enam jam di Thailand.

Saya akhirnya masuk ke Stasiun Hua Lamphong, mungkin Khao San Road bisa menunggu. Saya berpikir untuk langsung saja membeli tiket ke Ayutthaya, mumpung sudah berada di stasiun. Tapi saya memikirkan ulang keinginan tersebut. Jelas tujuan saya ke Bangkok adalah menghadiri Songkran, walaupun nantinya di Ayutthaya juga ‘main siram-siraman’, tentu Khao San Road lebih menarik. Maka akhirnya saya keluar dari Stasiun Hua Lamphong, berjalan sedikit ke arah sungai yang memiliki kursi-kursi di pinggirnya.

Saya duduk di sana, saya biarkan tubuh saya diterpa sinar matahari agar bagian-bagian yang basah dari pakaian mengering. Sambil merokok dan memikirkan langkah selanjutnya, saya menertawakan diri sendiri yang sok tahu menjelajahi Bangkok seorang diri. Tapi dengan cepat otak saya menimpali, “Loe bukan orang pertama yang pergi sendirian ke Bangkok untuk pertama kalinya. Nggak usah drama!”

Saat sedang melihat bus-bus yang singgah di Stasiun Hua Lamphong, seorang pria berumur sekitar lima puluhan duduk di samping saya. Sebenarnya saya agak terganggu, karena melihat masih banyak kursi yang kosong, saya tidak keberatan bila semua kursi sudah terisi.

Dia mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Thailand, lagi-lagi saya harus menjelaskan bahwa saya bukan orang Thailand. Dan sungguh aneh saat pria itu bertanya, “Are you Pinoy?” Dua kali dalam sehari dianggap orang Filipina jelas bukan kebetulan, sepertinya saya memang mirip dengan warga negara yang ibukotanya Manila itu. Saya memilih tertawa, berkata bahwa saya berasal dari Indonesia. Dan keajaiban pertama saya di Thailand dimulai.

“Indonesia? So, you bisa bahasa Melayu?”

“Bahasa Indonesia? Bisa.”

Saya keheranan saat pria sekitar lima puluhan ini berbicara menggunakan bahasa yang sangat saya mengerti.

“… Liburan di Bangkok? Naik ape?”

“Iya, tadi naik pesawat.”

“… Turun di mane? Don Mueang?”

“Bukan, Suvarnabhumi.”

“Sorry?”

“Suvarnabhumi.”

“Ah, Suvarnabhum.”

“Iya, Suvarnabhum. Baru saja sampai tadi jam sebelas.”

“Muslim?”

” … Iya, Muslim.”

“Saye Zaki.” Pria itu menawarakan berjabat tangan.

“Alvin.” Saya menyambutnya.

“Arifin?”

“Alvin.”

“Ya, Arifin. You nak ke mane … sekarang?”

“… Khao San Road.”

“Tahu … take with you untuk ke sana?”

“… I’m looking for cab or tuk-tuk, actually.”

“Sorry?”

“Taksi atau tuk-tuk.”

“Oh ya ya. Mahu saye tanya bus passing Khao San Road?”

“Sure! Thank you.”

Dan akhirnya pria yang bernama Zaki itu menanyakan bus nomor berapa yang bisa membawa saya ke Khao San Road kepada sopir bus yang sedang memarkirkan busnya tidak jauh dari tempat kami duduk.

“You … take bus number one. Do you … have any … paper and pen?”

“Wait.”

Setelah saya memberikan kertas dan pulpen kepada pria tersebut, dia menuliskan huruf Thailand yang sampai detik ini tidak saya pahami dan kertasnya masih tersimpan rapi di kamar saya. Saya sok tahu dengan mengartikan, “Anak ini mau ke Khao San Road, turunkan dia di sana.”

Dia memberikan kertas itu kepada saya dan berkata bahwa saya harus menunjukan kertas itu kepada sopir atau kondektur bus. Kami berdua akhirnya berjalan menuju tempat pemberhentian bus di Stasiun Hua Lamphong. Saat berjalan, Zaki meminta saya menunjukan isi dompet saya. Sungguh, saya kembali panik saat itu juga. Sepertinya Zaki tahu bila saya tidak suka dengan permintaannya, tapi akhirnya saya mengeluarkan dompet saya juga.

“Yang itu cukup untuk membayar.” Zaki menunjuk uang pecahan 20 Baht. Dia bahkan tidak menyentuhnya. Saya jadi menyesal sempat panik dan berpikiran yang tidak-tidak.

“Paper and pen?” Lanjut Zaki ketika kami sudah sama-sama di ruang tunggu tempat pemberhentian bus.

“You someday … harus ke tempat saye. Banyak Muslim.” Kata Zaki sambil terus menulis. Saya mempehatikan dia menulis, berkali-kali dia terlihat kesulitan menuliskan sesuatu dalam huruf latin. Tapi akhirnya sebuah alamat, lengkap dengan kode posnya, bahkan nomor telepon genggam berhasil Zaki tulis menggunakan huruf latin. “Yala, rumah saye … tak jauh dari Masjid Besar Yala. Tanya saja.”

“I took train … jam empat nanti.” Kata Zaki akhirnya sambil menyerahkan kertas berisi alamatnya kepada saya. “Oh, see … bus number one! Don’t forget … to show the paper!”

“Yes, Sir. Thank you for your kindness.”

“Sorry?”

“Thank you!”

“Sama-sama. As-salamu alayikum, Arifin.”

“Wa alaykumu s-salam, Pak Zaki.”

Sepanjang perjalanan di bus nomor satu, saya tidak henti-hentinya tersenyum.

Bukan kebetulan Pak Zaki memilih untuk duduk di samping saya padahal masih ada kursi-kursi kosong yang tersedia di pinggir sungai di dekat Stasiun Hua Lamphong. Bukan kebetulan Pak Zaki berinisiatif untuk mengajak saya berbicara. Bukan kebetulan ternyata Yala adalah provinsi di Thailand yang paling selatan sehingga berbatasan dengan Malaysia yang membuat Pak Zaki bisa sedikit berbahasa Inggris dan Melayu serta menulis huruf latin. Bukan kebetulan kami mengimani Tuhan yang sama padahal Muslim di Thailand hanya 4,6% dari jumlah penduduknya.

Yang saya yakini sekarang sejak pertemuan itu, nama Islam saya adalah Arifin.

Hua Lamphong-Khao San Road
Hua Lamphong-Khao San Road

Tahu Diri

Ini adalah permintaan maafku karena diam-diam aku pernah berani bermimpi memilikimu.

Mimpi yang terlalu tinggi, tapi memang sebuah gagasan yang menyenangkan membayangkan kamu sebagai kekasihku. Maaf, aku kesulitan menolak berbahagia dengan pikiranku sendiri. Mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku berkata bahwa kita sudah berbagi begitu banyak malam, sudah terlalu banyak cerita, terlau banyak impian, dan terlalu banyak cita-cita yang kita aminkan bersama yang akhirnya membuat aku berani untuk memimpikanmu menjadi kekasihku.

Bukankah cinta datang karena biasa? Dan memang salahku lah membiasakan diri berada di sisimu.

Kini sudah saatnya aku tahu diri bahwa mimpi itu tidak lah mungkin. Memang sepertinya lebih mustahil jika dibandingkan cita-citaku yang ingin menjadi penyair, cita-cita yang selalu kamu tertawai. Aku harus kembali memijak bumi dan menghentikan kesenanganku melukis langit. Demi kebaikanku, dan mungkin kebaikanmu.

Bisa jadi ini adalah caraku untuk undur diri dari kehidupanmu. Ternyata sakit rasanya melihatmu berbahagia. Ternyata hatiku tidak sebesar itu. Ternyata cinta harus memiliki. Karena itu, jangan mencariku lagi, demi apa pun. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk menciptakan malam panjang yang lain bersama orang yang menginginkan aku sebagai kekasihnya. Yang mau menerimaku apa adanya. Yang mau memberikan segalanya bahkan tanpa aku pinta. Persis seperti yang dulu aku lakukan kepadamu.

Aku menyerah. Aku selesai menyiksa diri sendiri.

Usahakanlah untuk berbahagia sendiri tanpa mengajakku. Aku sudah ingin tidak peduli. Bantulah aku untuk berhasil dengan tidak terus hadir di hadapanku. Karena bukan suatu hal yang mudah bagiku untuk melihatmu terus menerus seperti ini. Kita tidak pernah bersama di saat kita bersama-sama. Cukup bagiku untuk mengerti bahwa memang bukan aku yang kamu cari.

Aku tahu diri.

Maka sekali lagi tolong maafkan aku yang pernah berani bermimpi memilikimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah. Berbahagialah.

 

Perahu Kertas

 

PS: tulisan dibuat setelah ‘mabok’ mendengarkan Tahu Diri (OST. Perahu Kertas) yang dinyanyikan ulang oleh Tri Suhariyagi.