Setengah Jalan

Saya adalah salah satu orang yang kesal bukan main jika ada sekelompok orang yang memblokade jalan demi kepentingan kelompok atau pribadinya. Membuat orang lain kesusahan tentu bukan perilaku yang baik. Namun, bagaimana jika mungkin itu cara mereka untuk membuat kita lebih baik? Sebuah pengalaman membuat cara pandang saya menjadi berbeda.

Saya meninggalkan stasiun Hua Lamphong dengan kenangan baik dan buruk, bertemu dengan (mungkin bisa dibilang) scam dan bertemu orang yang membantu saya. Seimbang. Sekarang saya dengan tenang duduk di bus nomor satu menuju Khao San Road sambil sesekali tertawa melihat tuk-tuk atau bus yang disiram oleh warga yang sudah menyiapkan bergentong-gentong air di depan toko atau rumah mereka.

Meskipun sudah menunjukan tulisan Pak Zaki kepada supir bus (kondekturnya tidak ada) yang dijawab anggukan meyakinkan dari sang supir, saya tetap waspada dengan membuka google maps melalui telepon genggam. Selain memperhatikan layar, saya juga memperhatikan orang-orang yang naik-turun bus.

Ada yang janggal.

Semua orang yang naik tidak membayar kepada supir. Saya pun ketika naik tidak membayar, saya pikir nanti ketika turun saya akan menghampiri supir dan memberikannya sejumlah uang, seperti naik angkot di Indonesia. Tapi penumpang yang saya lihat seenaknya saja menekan bel di samping pintu bus menandakan mereka akan turun di halte berikutnya. Dan mereka turun begitu saja tanpa membayar ketika bus berhenti di sebuah halte. Apa naik bus di Thailand itu tidak perlu membayar? Begitu pikir saya. Tapi kenapa Pak Zaki meminta saya menunjukan uang 20 Baht untuk membayar? Pikir saya selanjutnya. Aneh.

Tiba-tiba saya menemukan kejanggalan lain. Bus yang saya tumpangi menjauhi Khao San Road saat saya melihatnya di google maps. Gawat! Akhirnya saya cepat-cepat menekan tombol di samping pintu bus, dan di halte berikutnya saya turun tanpa membayar (untung tidak diteriaki, mungkin memang gratis).

Jarak ke Khao San Road tidak begitu jauh dari tempat saya turun, sekitar dua kilometer. Tapi ya, lumayan juga, apalagi backpack masih tergantung di bahu. Dengan percaya diri saya berjalan menuju pusat keramaian tak jauh dari halte tempat saya turun. Di sana ternyata ada sebuah mall yang sepertinya setengah tutup, mungkin karena sedang ada perayaan Songkran, sehingga mall setengah tutup. Maksud saya setengah tutup adalah pintu utama mall tidak dibuka, gerai-gerai yang buka hanya gerai yang memiliki akses pintu dari luar mall, seperti McDonald’s.

Dan saya menemukan sesuatu yang menarik, di depan McDonald ada patung Ronald McDonald yang sedang memberikan salam ala Thailand. Seakan mengucapkan Sawasdee krub/ka kepada pengunjung yang datang. Saya tersenyum melihatnya. Ronald McDonald di Thailand memang tidak bisa diduduki, seperti Ronald McDonald di Indonesia karena dia memang dalam posisi asyik duduk dan seakan merangkul kita bila kita duduk disebelahnya karena tangannya yang memanjang di atas bangku, tapi Ronald McDonald di Thailand terkesan sangat ramah dengan kepalanya yang sedikit ditundukan.

Di depan mall setengah tutup itu terdapat halte yang (sepertinya) mengarah ke Khao San Road. Saya yang sebenarnya kelelahan karena kurang tidur ingin sekali duduk di kursi yang ada di halte, namun semua kursi tunggu penuh terisi. Tiba-tiba ada seorang Biksu yang saya taksir berumur sama dengan saya, sekitar pertengahan dua puluh, berjalan ke arah halte. Salah satu wanita yang duduk di kursi tunggu berdiri, kemudian dua wanita disebelah kanan kirinya pun ikut berdiri, memberikan tempat kepada Biksu muda untuk duduk. Kursi yang mampu menampung sekitar sepuluh orang kini hanya berisi delapan pria termasuk Biksu yang baru saja duduk. Saya heran, umur para wanita yang berdiri itu terlihat tidak lebih muda dari umur sang Biksu muda, malah satu orang wanita bisa dikatakan tua, kenapa pula mereka berdiri? Lagipula bukan kah Biksu muda itu hanya membutuhkan satu tempat? Lalu kenapa tidak ada pria yang berdiri? Saya melihat ada anak yang lebih muda (mungkin SMP) yang anteng saja melihat kejadian itu. Pertanyaan memenuhi otak saya.

Beberapa menit melihat kursi di sebalah kanan dan kiri Biksu muda tersebut kosong, membuat saya tidak tahan untuk mengisinya. Saya pun duduk di sana. Ketika mata saya dan matanya bertemu, saya mencoba tersenyum. Biksu muda tersebut membalasnya. Kemudian mata sang Biksu muda mengarah kepada bus yang datang, dia berdiri. Dan sebuah pemandangan yang awam untuk saya kembali terjadi. Para pria ikut berdiri kemudian melakukan semacam blokade kepada Biksu muda untuk jalan memasuki pintu bus, para wanita sabar menunggu Biksu muda untuk masuk. Setelah Biksu muda masuk, beberapa pria yang tadi ikut memblokade, naik ke dalam bus, disusul oleh para wanita. sisa pria yang lain duduk kembali. Sebelum bus berangkat, saya sempat melihat Biksu muda seakan dilapisi jaraknya oleh para pria dari wanita. Dan saat itulah saya tersadar, Biksu tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis!

Saya tertawa dengan pemikiran saya sebelumnya tentang para pria yang duduk di halte ini, mereka bukan tidak peduli, sebaliknya, mereka sangat peduli kepada para Biksu. Begitu juga dengan para wanitanya. Hebat! Saya kagum dengan cara warga Thailand memperlakukan Biksu muda, lain ceritanya bila Biksu yang tadi berumur lebih dari lima puluh tahun, mungkin saya akan merasa biasa saja dengan perlakuan mereka.

Entah mengapa setelah melihat kejadian Biksu tersebut membuat saya berpikir ulang tentang beberapa kelompok keagamaan yang menggelar acara di ruang publik. Mungkin memang mengganggu, tapi saya rasa tidak pantas melarang atau marah kepada mereka untuk mendapatkan satu jatah tempat di surga menurut agama mereka. Saya memang bukan orang yang taat beragama, dan mungkin itu cara mereka mengajak saya untuk lebih taat karena cara lain yang lebih ramah tidak lagi mampu membuat saya tergerak. Mungkin.

Dan Khao San Road masih setengah jalan.

Ronald McDonald - Thailand
Ronald McDonald – Bangkok, Thailand