Sebelum Tengah Malam di Singapura

Sejak kecil saya mendambakan tinggal di sebuah desa. Memiliki sawah yang dapat saya bajak dan memberi makan hewan ternak setiap hari, di penghujung hari saya akan duduk-duduk di teras rumah saya yang sederhana, atau main di warung kopi untuk mendengar cerita-cerita tetangga. Itu bentuk kehidupan ideal saya sampai saat ini. Maka tidak aneh jika saya selalu memilih tujuan perjalanan ke kota yang tidak terlalu ramai, saya menghindari pergi ke kota maju karena cukuplah bagi saya melihat Jakarta sejak lahir.

Tapi tanggal 3 September 2013 kemarin saya ke Singapura. Kota paling maju, kota paling aman, kota paling tepat waktu, kota paling bersih, kota paling taat, dan kota paling mapan di Asia Tenggara.

Untuk kedua kalinya saya ke negara kota itu seorang diri, alasannya sederhana saja, saya ingin menonton Before Midnight di bioskop karena bioskop Indonesia tidak menayangkannya. Walaupun saya sempat membaca kemungkinan blitzmegaplex akan menayangkan film tersebut, saya takut jika film itu tidak jadi diputar. Malam sebelum keberangkatan, saya melihat-lihat harga tiket pesawat. Beruntung, tiket pesawat Jakarta-Singapura-Jakarta lebih murah dibandingkan tiket pesawat Jakarta-Jogjakarta-Jakarta, maka setelah memeriksa jadwal Before Midnight di salah satu bioskop Singapura (hanya tinggal satu kali penayangan!), saya segera membeli tiket ke Singapura. Berangkat pagi tanggal 3 September, pulang petang tanggal 4 September. Saya memang tidak betah berlama-lama di Singapura selain biaya hidupnya yang memang mahal kelewatan.

Singapura bukan kota yang bisa dirayakan seorang diri. Kita membutuhkan teman ketika mengunjungi Singapura, untuk mengunjungi tempat-tempat gaul di sana, main ke Universal Studio, atau menonton pertunjukan di Esplanade. Singapura bukan tempat untuk mencari cerita, saya setengah mati memperhatikan orang-orang di sana hanya untuk mendapatkan pancaran mata yang berbeda dari warganya.

Sulit melihat pancaran mata yang berbeda di Singapura. Semua orang, sejak mendarat di Changi International Airport, disibukkan dengan gadgetnya masing-masing. Pemadangan serupa saat menunggu dan masuk MRT untuk menuju tengah kota. Di MRT semua orang diam, tidak ada yang bicara satu sama lain seakan bicara adalah larangan. Bahkan berdasarkan pengalaman saya, tidak ada anak balita Singapura menangis menyebalkan seperti apa yang sering dilakukan balita-balita di Indonesia yang bisa kita temui di transportasi publik. Semua orang tenang menunggu MRT datang di stasiun karena ada display yang menunjukan tanda berapa lama lagi MRT akan tiba. Tidak ada pancaran mata gelisah menerka kapan datangnya kereta.

Sejak dulu saya frustasi ketika menghadapi Singapura. Saya pernah berpendapat bahwa cinta tidak lewat Singapura. Semua statis, tidak ada ketidaksengajaan, tidak ada kejutan. Cupid bekerja berdasarkan waktu, dan bukankah mengerikan bila jatuh cinta dengan rencana?

Pukul sebelas siang saya sampai di Singapura, tanpa mencari peginapan terlebih dahulu, saya menuju Orchard Road tempat di mana bioskop yang menayangkan Before Midnight berada. Setelah membeli tiket penayangan jam tujuh malam, saya berkeliling Singapura menggunakan MRT, mencari cerita, mencari cinta. Karena saya tahu waktu check-in hostel biasanya pukul tiga.

Hingga pukul dua siang saya tidak menemukan cerita yang bisa saya ceritakan. Semua terlihat normal, terlalu normal. Tidak ada orang yang menyelak antrean, tidak ada orang yang menyebrang sembarangan, tidak ada orang yang membuang sampah seenaknya, semua orang merokok sambil duduk (ini yang paling menyebalkan untuk saya!), dan tentu, tidak ada balita yang menangis. Saya menyerah. Saya pergi ke daerah perbatasan daerah Bugis dan Little India, hostel tempat saya pernah menginap -dan sepertinya akan menjadi hostel tetap bila ke Singapura- untuk melakukan reservasi dan mengistirahatkan badan.

Saat masuk ke kamar tipe dorm, delapan tempat tidur berjajar tanpa penghuni. Wajar, karena saat itu adalah weekdays. Siapa yang sempat-sempatnya ke Singapura ketika hari kerja? Tanpa mandi, saya langsung tertidur.

Pukul lima alarm saya berbunyi, bangun kemudian mandi. Sempat bertegur sapa dengan orang Taiwan di kamar mandi, dia bersama empat temannya akan pergi ke Marina dan saya ditawari untuk bergabung, saya menolak karena harus menonton Before Midnight dan dia tertawa karena bulan lalu dia sudah menontonnya.

Satu jam berikutnya saya sudah berada di MRT menuju bioskop di daerah Orchard Road. Sempat makan di Burger King sebelum menonton karena saat itu saya baru ingat kalau seharian belum makan. Tepat pukul tujuh saya berada di dalam studio yang kapasitasnya tidak sampai lima puluh orang.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana cerita Before Midnight karena ini bukan resensi film. Saya akan menceritakan kisah sebelum tengah malam di Singapura yang saya dapatkan.

Sekitar pukul sepuluh malam saya beranjak pulang menuju hostel menggunakan MRT. Tujuan saya ke Singapura sudah terlaksana, menonton Before Midnight. Saya tidak menduga bila gerbong MRT yang saya pilih akan membuat saya tersenyum sepanjang sisa hari hingga esoknya.

Saya, yang ikut-ikutan warga Singapura (menggunakan earphone dan melihat layar telepon genggam), duduk tenang menuju stasiun Bugis. Karena saya tidak hapal benar rute MRT, sesekali saya menoleh ke atas dan ke samping untuk melihat sudah sampai mana MRT membawa saya. Tiba-tiba padangan saya teralihkan oleh sepasang kakek-nenek beretnis Cina yang duduk tepat di hadapan saya. Mereka terlihat beragumen, saya tertarik, maka saya melepas earphone dan mencoba mendengar apa yang mereka ributkan.

Berhubung mereka menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, saya memperhatikan tingkah mereka, menerka bahasa tubuh. Si nenek terlihat tidak suka wajahnya, sedangkan si kakek matanya begitu teduh, menjelaskan sesuatu dengan sabar. Suara mereka tidak begitu keras, malah terdengar berbisik. Saya tertawa karena betapa bodohnya saya yang mencoba mendengar kata-kata mereka, padahal saya tidak mengerti sama sekali. Mereka sempat melemparkan pandangannya kepada saya karena mungkin tawa saya terlalu keras. Dengan cepat saya membuang pandangan saya ke telepon genggam, mereka pun kembali berdebat. Saya mulai hati-hati untuk melihat apa yang ada di hadapan saya.

Tiba-tiba sepasang kakek-nenek yang saya taksir berumur tujuhpuluhan itu saling membuang muka. Entah mengapa saya panik. Kenapa mereka berkelahi? Apa yang salah?

Beberapa detik kemudian terjawab apa yang diperdebatkan kakek dan nenek. Kakek sepertinya mengalah, dia menoleh ke arah istrinya dan berbicara. Istrinya tersenyum. Sang suami kemudian duduk bersandar dan … istrinya membenarkan kancing kemeja suaminya. Ya, sejak tadi mereka meributkan kancing kemeja. Suami salah memasukan kancing nomor tiga ke lubang nomor dua. Istrinya tidak suka, dan suami mungkin berpikir nanti saja dibenarkannya. Tapi akhirnya suami mengalah, membiarkan istrinya menjadi istri. Setelah kancing kemeja suami rapi tanpa salah masuk, mereka saling berpegangan tangan. Sang istri meletakan kepala di pundak suaminya. Mereka bahagia.

Maka sejak malam itu saya merevisi pemikiran saya, cinta juga lewat Singapura.

Saya sampai di hostel sekitar pukul sebelas malam, menemukan dua buah tempat tidur terisi di kamar tipe dorm saya. Saya mandi kemudian tidur. Esoknya pada pukul sebelas saya check-out dan langsung menuju Changi International Airport untuk melanjutkan tidur. Pukul delapan malam, saya sudah kembali berada di Jakarta.

Before Midnight(s) ticket
Before Midnight(s) ticket

PS: Sepertinya Before Mignight tidak akan ditayangkan di Indonesia karena adegan topless Julie Delpy, apalagi ‘Before Midnight’ yang saya temukan di MRT. 🙂

Kebetulan Ubud

Saya pernah dikeroyok kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan datang bertubi-tubi sampai saya lelah sendiri diserang bahagia. Saya sampai takut, jangan-jangan jatah bahagia saya sudah banyak terpakai.

Sebelum saya menceritakan kebetulan-kebetulan, saya akan merunut kejadian pembukanya seperti ini; Mark Zuckerberg menciptakan Facebook pada tahun 2006 di Inggris. Dua tahun kemudian di sebuah kedai kopi yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, saya mendaftarkan diri sebagai salah satu anggotanya atas bantuan teman saya bernama Randita. Satu tahun kemudian, saya yang sedang bosan mencari sebuah bacaan di dunia maya yang akhirnya membuat saya mendarat di notes milik Fajar Nugros yang sedang membuat cerita bersambung berjudul Adriana. Setiap hari saya menunggui cerita sambungan Adriana, saling bertukar komentar dengan orang-orang yang juga membaca notes tersebut yang akhirnya membuat kami semua secara tidak sengaja memproklamirkan diri sebagai The Hermes (karena dalam cerita Adriana, tokoh utama memberikan sebuah kode yang berujung pertemuan di bawah kaki Dewa Hermes, Museum Fatahillah, Jakarta), semacam kelompok pembaca dan pada akhirnya penulis. Yang tadinya hanya berteman maya, sampai akhirnya saling mengenal wujud satu sama lain. The Hermes menjadi suatu kelompok yang menyenangkan, dari mulai menulis untuk disumbangkan berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia sampai mengisi berbagai acara yang berhubungan dengan sastra. Dua tahun setelah The Hermes lahir, tiba-tiba kelompok ini ditawari untuk membuat buku, siapapun yang memiliki naskah, boleh coba dikirim ke penerbit baru, PlotPoint, penerbit yang digagas oleh Salman Aristo dan istrinya, Gina S. Noer.

Dan rentetan kebetulan yang saya bicarakan di awal, dimulai.

Beberapa bulan kemudian saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah novel saya ke PlotPoint. Gina S. Noer berkata, “Maunya jadi novel populer atau novel sastra? Mau dibaca satu tahun, atau bertahun-tahun kemudian?”

Jelas saya mau yang kedua. Gina menjelaskan kalau naskah novel saya setengah-setengah, belum ketahuan akan jadi apa. Maka saya diminta membaca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer karena saya memilih yang kedua atas pertanyaannya. Sepulang dari kantor PlotPoint, saya menyempatkan diri ke Gramedia dan membeli Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru.

Semalaman di rumah saya membaca, sesekali mengeluarkan komentar di jejaring sosial, Twitter. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba tiga teman saya, Jia, Om Em, dan Emmy tertarik untuk membahas bersama buku Bumi Manusia, sebagian mereka sudah pernah membacanya dan ingin bertukar pikiran tentang karya Pramoedya Ananta Toer yang paling tersohor itu. Maka sebuah klub buku dibentuk, bulan berikutnya kami bertemu dan membahas kejadian-kejadian serta tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia. Menyenangkan, ini baru pertama kalinya saya membicarakan buku sedalam-dalamnya.

Tanpa diduga Ubud Writers & Readers Festival 2012 mengusung tema Bumi Manusia, hanya berjarak kurang dari tiga bulan sejak saya membahasnya dengan ketiga teman saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari-cari tiket ke Bali, menghitung-hitung biaya pulang pergi dan biaya hidup saya selama di sana. Saya mengabari ketiga teman saya untuk ikut serta, sayang Jia dan Om Em memiliki kesibukan, sedangkan Emmy masih belum tahu apakah mendapatkan jatah cuti atau tidak. Pada akhirnya Emmy mengabari bahwa dia tidak dapat ikut, dan memberikan kejutan bahwa dia memiliki voucher yang bisa saya pakai untuk terbang ke Bali. Emmy bahkan meminjamkan kartu kreditnya untuk membeli tiket kepulangan saya. (God bless you, Mmy!)

3 Oktober 2012 sekitar pukul dua siang saya sampai di Bali. Dengan bekal pengalaman-pengalaman sebelumnya di Pulau Dewata, saya santai saja berjalan kaki menuju travel Xtrans yang tidak jauh dari bandara Ngurah Rai, sekitar 10 menit. Ada yang berbeda dari perjalanan saya ke Bali kali ini, karena saya akan menuju Ubud. Tempat yang belum pernah saya kunjungi karena selalu kalah suara saat berlibur bersama teman-teman. Ubud (yang katanya) terlalu tenang memang bukan tempat yang dicari teman-teman saya bila kami berlibur ke Bali. Ini pertama kalinya saya seorang diri pergi ke Bali, saya bebas ke mana saja, termasuk ke Ubud.

Saya berdebar bukan main saat menunggu mobil elf yang akan mengantarkan saya ke Ubud. Hampir satu jam saya menunggu. Dan betapa terkejutnya saya, saya adalah satu-satunya pelanggan yang akan pergi menuju Ubud di mobil travel yang muat untuk sepuluh orang. Dengan membayar 40 ribu rupiah, saya seakan menyewa mobil beserta sopirnya!

Saya tertidur sepanjang perjalanan menuju Ubud. Saya kira perjalanan dari Kuta-Ubud memakan waktu lama, yaa, sekitar jarak Jakarta-Bandung, tapi ternyata saya salah. Kuta-Ubud hanya memakan waktu satu jam, saya dibangunkan oleh sopir ketika memasuki daerah Monkey Forest, dan dia bertanya saya mau diturunkan di mana. Berhubung saya buta akan Ubud saya hanya mengatakan yang banyak penginapannya, maka sopir travel akhirnya memutuskan untuk menurunkan saya di lapanganan terbuka, lapangan yang segala penjuru arahnya adalah penginapan. Saya turun, bingung sekaligus semangat. Saya sampai di Ubud!

Bada Dan Para Rahwana

Sudah sepatutnya Bada takut. Di hadapannya berdiri tiga orang yang bertubuh tiga kali lebih besar darinya. Tinggi dan kokoh, seperti tokoh antagonis Ramayana yang diceritakan Ibu sebelum ia berangkat tidur. Rahwana namanya.

Tiga Rahwana mencegat Bada ketika ia sedang bersenandung riang menuju sekolah. Di daerah persawahan yang sepi, tanpa rumah warga di sekelilingnya. Pagi, saat matahari masih bersinar malu-malu. Mereka meminta uang jajan Bada, tapi Bada tidak diberikan uang jajan oleh ibunya.

“Saya disiapkan bekal oleh Ibu. Saya tidak diberi uang jajan.” Begitu Bada berkilah ketika Rahwana yang paling besar tubuhnya meminta uang jajan Bada.

Rahwana-Rahwana tidak puas dengan jawaban itu. Mereka sulit percaya bahwa Bada tidak dibekali uang jajan. Anak ini pastilah berbohong, begitu pikir mereka. Maka Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya meninggikan suara. Suaranya menggelegar, ternyata meski tubuhnya paling kecil, suaranya mampu membuat Bada gentar.

“Periksa saja sendiri kalau tidak percaya.” Bada menyerahkan tasnya. Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya dengan segera mengambil tas Bada. Tidak sabar ia mencari. Membuka retlesting bagian besar tas Bada, dia mengobok-obok isinya, mengaduk-aduk.

Dua Rahwana lain tidak sabar melihat atraksi Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya. Mereka merenggut tas kemudian dengan jenaka, menurut penglihatan Bada, berebut untuk memeriksa tas Bada. Rahwana yang paling besar tubuhnya menang. Ia membuka retlesting lebih lebar hingga tas Bada menganga, mencari-cari namun tidak menemukan. Akhirnya ia membalik tas Bada hingga buku-buku pelajaran, tempat pensil, dan bekal makanan Bada serta botol minum kemasan yang diisi dari teko di rumah berserakan di tanah.

“Ah! Lama!” Akhirnya Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar mengambil alih, ia memeriksa isi tas Bada, kosong. Semua isinya sudah berhamburan di hadapan Rahwana-Rahwana dan Bada. Hanya ada satu tempat yang belum diperiksa, bagian depan tas yang lebih kecil bentuknya, diretlesting dan retlestingnya dipakaikan gembok kecil. Gembok itu dapat dibuka dengan kombinasi tiga angka.

“Berapa kodenya?” Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar bertanya. Suaranya lucu. Bada sempat tertawa dalam hati. Membayangkan tokoh kartun di hari minggu yang bisa jadi disulih suara oleh Rahwana setengah kecil setengah besar.

Bada menggeleng. Karena dia benar tidak tahu. Tas itu adalah tas bekas yang dibelikan Ibu di pasar loak tak jauh dari balai desa. Sejak dibeli, memang begitu bentuknya. Dan saat memakai tas itu, Bada tidak pernah menggunakan bagian yang terkunci. Bagian belakang cukup luas untuk menampung barang-barangnya. Untuk apa berusaha membuka bagian depan?

“Sungguhan. Saya tidak diberi uang jajan.”

“Bohong! Pasti ada di dalam sini!” Suara Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya semakin tinggi. Ia menunjuk bagian depan tas Bada yang dipamerkan Rahwana tidak kecil tidak besar. Wajahnya terlihat frustasi. Matahari makin tinggi dan sepertinya warga akan mulai melewati jalan antar desa ini.

Bada bingung bagaimana cara menjelaskannya bahwa ia sungguh benar tidak diberikan uang jajan sehingga Rahwana-Rahwana ini tidak menganggunya lagi. Jarak ke sekolah masih setengah jalan, dan ia akan terlambat untuk hadir di kelas jika ia berlama-lama berurusan dengan Rahwana-Rahwana. “Rusak saja gemboknya. Saya juga penasaran apa isinya.” Akhirnya Bada berbicara.

Tiga Rahwana saling berpandanganan. Gagasan yang luar biasa berani dari seorang anak putih-merah yang sedang dipalak. Rahwana yang paling besar tubuhnya mengambil batu, kemudian dengan sekuat tenaga ia mencoba membuka -menghancurkan- gembok yang bergelantungan di retlesting bagian depan tas Bada. Tidak berhasil. Ia terus mencobanya hingga keringat membasahi kepalanya.

Dua Rahwana yang lain menunggu, menyaksikan temannya baku hantam dengan gembok di tas Bada. “Berapa tanggal lahirmu?” Tiba-tiba Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya bertanya kepada Bada yang sejak tadi juga takjub melihat kualitas gembok di retlesting tasnya.

“12 November.” Jawab Bada jujur.

Tanpa diperintah, Rahwana yang paling besar tubuhnya mencoba kombinasi 121, gagal. 112, gagal. Rahwana-Rahwana semakin kesal. Bada pun sebenarnya menunggu-nunggu agar gembok itu terbuka. Tapi jelas kombinasi ulang tahunnya tidak akan membantu.

“Kemungkinannya 999 kan? Mau dicoba satu-satu?” Bada memberanikan diri bertanya. Ia sungguh jadi penasaran. Dan itu membuat Rahwana-Rahwana kesal, karena Bada terlihat tidak terintimidasi.