Kell

Saya tidak membawa Lonely Planet Thailand karena nantinya ada seorang teman yang membawa kitab suci tersebut. Sebagai gantinya, saya membawa Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Salah satu buku favorit saya sepanjang masa yang sudah saya baca lebih dari dua puluh kali. Di dalam buku tersebut, tokoh utama yang bernama Bodhi bertemu dengan tokoh bernama Kell di Bangkok, di Khao San Road. Maka tulisan kali ini saya dedikasikan untuk ‘Kell’ yang saya temui di Bangkok, di Khao San Road.

Saat itu saya sedang mengeringkan pakaian dari semprotan, siraman, sampai guyuran kemeriahan Songkran di sebuah gang yang dekat dengan Masjid. Wajah saya sudah dipeperi bubuk halus seperti bedak yang dicampur air, sebuah tanda mata dari seorang anak laki-laki berumur lima tahun ketika saya sedang berjalan di depan rumahnya. Ia, yang tingginya hanya sepaha saya, meloncat-loncat girang untuk memeperi saya bubuk halus tersebut, sampai akhirnya saya lah yang membungkuk, membiarkan pipi saya dipeperinya. Anak itu begitu manis, dan kelucuannya semakin bertambah ketika ia berkata, “Songkran krub.” kepada saya. Maka di situlah saya sadar bahwa saya baru saja resmi menyambut tahun baru Thailand, Songkran.

Akhirnya, tidak jauh dari rumah anak kecil itu saya berhenti berjalan. Karena tidak ada keramaian di sana, saya rasa cukup aman untuk duduk di pinggir jalan untuk mengeringkan pakaian tanpa takut terkena semprotan air lagi.

Saya bingung bukan main karena begini kondisinya: Saya kurang tidur, saya sudah berhadapan dengan penipu, saya belum makan, saya tidak tahu arah, saya basah, saya masih memanggul backpack, dan saya belum menemukan penginapan. Kondisi yang bisa dibilang tepat untuk bersumpah serapah. Maka saya duduk di sana, meletakan tas di samping saya, membaca peta yang sudah basah, mencoba memikirkan lekuk gang demi gang daerah Khao San Road sambil mengeringkan badan.

Lalu tiba-tiba seorang laki-laki dengan wajah kelelahan lewat di depan saya, ia menanyakan sebuah alamat dan mengeluh betapa sulitnya mencari penginapan dalam satu kalimat. Jujur saja, saya juga sudah memiliki daftar penginapan yang saya siapkan dari Jakarta, lebih dari sepuluh penginapan untuk berjaga-jaga, tapi … bagaimana caranya mencari alamat yang kita dapatkan dari internet dengan tulisan latin sedangkan di Thailand, hampir semua alamat ditulis dengan huruf Thai? Yes, good luck with that. Maka ketika ada seorang kaukasian bertanya kepada saya tentang alamat dan mengeluh, saya tertawa dan berkata bahwa saya bukan orang lokal, saya tidak ada beda dengannya, buta Thailand. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah mengelilingi semua jalan sekitar Khao San Road untuk mencari penginapan. Kebanyakan penuh, lebih banyak lagi yang pegawainya mengunci penginapan dan merayakan Songkran, tidak jelas lagi mana penjaga penginapan ini, mana penjaga penginapan itu. Entah bagaimana nasib tamu penginapan yang ingin masuk (atau bahkan keluar? semoga mereka tidak mengunci tamu mereka sendiri) ke kamar mereka. Ia tertawa mendengar penjelasan saya yang terakhir.

“We’re really screwed, aren’t we?”

“About that, I can’t agree more,” balas saya. Entah kenapa, kami bedua akhirnya dapat tertawa bahagia atas kesialan yang menimpa kami.

Saya memerhatikan laki-laki yang duduk di samping saya. Ia berumur tigapuluhan, memiliki rambut pirang yang dipotong rapi, hampir potongan ABRI, mengenakan t-shirt berwarna biru langit dan celana jeans pendek berwarna biru dongker, tubuhnya terpahat sempurna, backpack berwarna hitam polos menggantung di belakang punggungnya, di betis sebelah kanan terdapat tato entah gambar -lebih mirip sebuah simbol- yang saya tidak ketahui. Karena tato tersebut, saya memanggilnya Kell, tokoh yang ada di Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Dan percayalah, Kell gambaran sempurna seorang model pria yang bisa ditemui di majalah fashion luar negeri.

Kell orang yang menyenangkan, kami bertukar cerita tentang kejadian-kejadian yang masing-masing kami lalui di Bangkok dalam tempo kurang dari 24 jam. Kami menertawai diri sendiri, mengeluhkan huruf Thailand, mengagumi Songkran yang begitu riuh, sampai berbisik membicarakan Raja Thailand yang menurut saya terlalu narsis karena banyak baliho dan poster dengan gambarnya di seluruh penjuru Bangkok. Kell setuju dengan pendapat saya.

“Let me see.” Saya meminta Kell memperlihatkan kertas yang sejak tadi ia genggam, sebuah kertas yang berisi alamat penginapan yang diberikan temannya yang sudah pernah ke Bangkok, dan temannya itu sudah membuat reservasi atas nama Kell di penginapan tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat kertas yang diberikan Kell dituliskan dengan huruf latin dan Thai, bahkan ada nomor teleponnya. Sebelum saya bertanya mengenai nomor telepon, Kell buru-buru menjelaskan bahwa sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi tidak diangkat.

“At least, you have an address with Thai language,” kata saya akhirnya. “Let’s try my luck.”

Saya mengajak Kell berjalan, mencari orang Thai yang bisa membaca alamat di kertas Kell. Dengan wujud yang menyerupai warga lokal, tidak sulit bagi saya untuk berkomunikasi dibandingkan Kell. Kami berdua sudah tidak lagi peduli dengan semprotan air, kami menikmatinya, karena memang itulah tujuan Songkran, menikmati percikan air dari segala penjuru. Dan setelah kurang lebih lima belas menit hilir mudik, penginapan Kell ketemu.

“I don’t know how to say thanks to you. Thank you, mate!” Kell menghujani saya ucapan terima kasih.

Saya tersenyum. Orang yang berkata bahwa membantu seseorang dapat membuat bahagia pastilah orang yang jenius. Karena benar, saya bahagia Kell menemukan penginapannya. Sayang, penginapan Kell sudah penuh, teman Kell membuat reservasi satu bed di dorm type, saya tidak bisa menumpang di penginapan Kell. Kell berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa membantu saya memecahkan masalah penginapan untuk saya. Saya menggeleng, karena sungguh ia tidak perlu meminta maaf karena masalah itu. Setelah duduk dan mengistiratkan badan di lobby penginapan Kell, saya pamit, berharap bertemu Kell lagi suatu saat.

Keluar dari penginapan Kell, saya kembali bingung. Tapi kemudian pemikiran lain menimpali, perasaan senang bukan main mendominasi karena saya baru saja mengalami sedikit bagian dari Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Saya menjelma Bodhi yang bertemu laki-laki kaukasian bertato simbol aneh di Bangkok, di Khao San Road.

Supernova: Akar - Dee
Supernova: Akar – Dee

Dan … Khao San Road

Mungkin saya sedang sial. Karena setelah beristirahat di halte dan mulai mencari petunjuk dari orang-orang tentang arah Khao San Road, tidak ada yang bisa membantu saya. Saya memiliki tiga peta Bangkok yang berbeda yang saya dapatkan dari Bandara Suvarnabhumi, seharusnya mudah saja bagi mereka untuk menunjukan arah Khao San Road. Namun aneh, dari tiga orang yang saya tanya, mereka semua menggeleng. Saya sampai harus mengganti pertanyaan dengan: “Di mana kita berada sekarang?”, berpikir setidaknya saya harus tahu tempat saya bediri di peta untuk kemudian berjalan ke arah Khao San Road.

Negatif. Bahkan tiga orang tersebut tidak tahu di mana kami berada menurut peta, padahal saya yakin benar Khao San Road tidaklah begitu jauh dari tempat saya berdiri. Saya memaklumi tiga orang tersebut karena mungkin saya bertanya pada orang yang salah, yang saya tanya adalah pedagang kelontong berumur tigapuluhan, seorang ibu yang membawa banyak belanjaan, dan seorang kakek yang baru saja turun dari bus, mereka bertiga mungkin tidak mengerti bahasa Inggris yang saya gunakan. Maka saya mencari orang yang seusia dengan saya, pelajar atau mahasiswa. Mereka pasti bisa bahasa Inggris, dan seminim apapun kemampuannya, mereka pasti tahu jawaban, “Where are we?”

Sampai akhirnya saya melihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh. Ia mengenakan t-shirt berwarna putih dan celana jeans pendek, lengkap dengan semacam nametag yang menggantung di lehernya, berfungsi untuk melindungi barang-barang berharga dari semprotan air, dan di semacam name tag yang ia gunakan itu terdapat iPhone serta beberapa pecahan uang, rambutnya naik berkat bangtuan gel rambut, wajahnya bersih, persis artis-artis di film Thailand. Otak saya seketika: “Dia anak gaul Bangkok! Dan anak gaul pasti bisa bahasa Inggris.” Maka saya bertanya. Tapi betapa mengejutkan karena laki-laki ini menggeleng begitu cepat bahkan sebelum saya sempat bertanya. Saya baru mengeluarkan kalimat “Excuse me, do you … ” sambil menunjukan peta, tapi ia begitu ketakutan seakan saya adalah dosen yang mendadak memberikan kuis. Ia pergi meninggalkan saya yang kebingungan. Saya menyerah. Saya fokus mencari taksi atau tuk-tuk meskipun agak mustahil mendapatkan kedua transportasi tersebut karena saya-tahu-Khao-San-Road-tidak-jauh.

Saya senang mencoba berbagai transportasi umum, di dalam maupun luar negeri. Ada kesenangan sendiri ketika saya berhasil menggunakan transportasi umum. Berperan sebagai warga lokal alih-alih wisatawan (lokal/mancanegara) selalu membuat saya berdebar senang. Selain itu, menggunakan transportasi umum jelas menghemat pengeluaran. Untungnya, saya bukan orang yang mudah mabuk dalam perjalanan. Maka saya bebas bertualang, menjelajah suatu kota dengan transportasi umum.

Dan pengalaman pertama saya menaiki tuk-tuk, kendaraan seperti bajaj namun terbuka di bagian belakang dan kanan kirinya, di Bangkok akhirnya terjadi. Saat itu saya yang sudah menyerah mencari tuk-tuk sepanjang jalan, berdiri mematung di sebuah perempatan besar. Saya memerhatikan mobil-mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala, sempat terpikir untuk mengetuk salah satu jendela mobil dan menumpang hingga Khao San Road, tapi jelas itu hal yang konyol karena saya sedang berada di kota besar, bukan pedesaan di mana hitchhiking menjadi hal yang lumrah. Tiba-tiba, saya mendengar suara berteriak di belakang mobil-mobil, supir tuk-tuk! Ia (seperti) memanggil saya. Maka saya berjalan ke arahnya. Ia mengajak saya berbicara Thai (saya sudah tidak bisa tertawa lagi karena dianggap warga lokal), namun setelah melihat raut wajah saya yang bingung, ia mengganti bahasanya menjadi bahasa Inggris yang lumayan baik.

“Where are you going?”

“Khao San Road.”

“I can take you, close to Khao San Road. There, traffic. Not good.”

“Okay, take me to the closest you can get. How much?”

“60 Baht.”

“40 Baht.”

“50 Baht.”

“Okay.”

Dan saya pun naik tuk-tuk. Sebelum tuk-tuk yang saya naiki jalan, karena masih menunggu lampu merah, sopir tuk-tuk bertanya apakah saya tidak bermasalah jika tersiram air sepanjang perjalanan. Saya mengangguk, saya siap basah. Semua perlengkapan elektronik sudah saya masukan ke dalam plastik dan dimasukan ke dalam lipatan pakaian. Saat itu hampir pukul tiga, pakaian yang saya kenakan sudah tidak lagi basah akibat semprotan sebelumnya, hanya sepatu yang masih lembab.

Percayalah, pengalaman menaiki tuk-tuk ini begitu mengesankan, karena sepanjang perjalanan saya disiram, disemprot, bahkan yang paling sial, saya nyaris diguyur menggunakan gayung ketika tuk-tuk yang saya tumpangi berhenti karena lampu merah oleh warga sekitar, untung supir tuk-tuk langsung menekan gasnya sehingga saya terhindar dari basah kuyup. Jalanan yang dipilih supir tuk-tuk adalah jalan-jalan kecil yang muat dua mobil jika dipaksakan, tiga menit yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Sampai akhirnya tibalah saya di jalan yang sangat besar. Supir tuk-tuk berkata bahwa Khao San Road ada di seberang jalan. Saya melihatnya, jalanan yang penuh dengan manusia, benar-benar penuh. Jalanan itu disulap seperti jalan-jalan ketika perayaan 17 Agustus, bendera yang terbuat dari plastik dan berwarna-warni mengelilingi jalan itu membentuk pola segitiga, dikaitkan dari satu tiang ke tiang lain. Air menari-nari di atas jalan. Saya girang bukan main. Saya memberikan 60 Baht kepada supir tuk-tuk karena itu harga yang pantas, bahkan mungkin kurang. Saya lebihkan dari kesepakatan untuk ungkapan rasa terima kasih. Lagipula, hey, 10 Baht hanya setara dengan 3000 Rupiah. Dan saya hanya iseng menawarnya.

Saya menyebrangi jalan yang luasnya mungkin setara dengan Sudirman-Thamrin. Tidak mungkin mengelak semprotan yang simpang-siur di sekitar saya. Semua orang menggenggam pistol air, dari yang kecil sampai besar bukan main. Saya rela basah meski masih mengenakan pakaian berangkat dari Jakarta yang bahkan sudah sempat basah kemudian kering kembali.

Akhirnya, saya sampai di Khao San Road. Seorang diri. Leonardo DiCaprio pasti bangga.

Tuk-tuk
Tuk-tuk