Surat untuk Kelak

Kamu belum mengenalku, namun kupastikan aku akan selalu berada di peringkat keempat sebagai manusia yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Pertama kali aku bertemu mata denganmu, aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagianmu. Ketika aku memelukmu, aku tahu bahwa langit mengabulkan satu permintaanku: manusia yang bisa kucintai hingga aku mati. Hari di mana aku melihatmu memang begitu menakjubkan, kamu boleh tidak percaya, tapi aku seakan mampu mendengar alunan musik pengiring surga. Aku tahu para malaikat saat itu ikut tersenyum dan mulai mendoakan kebahagian kita. Kamu melengkapi hidupku, dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi.

Namun, kamu akan membenciku. Meski sudah kujelaskan semua maksudku, kamu tidak mau mendengarnya. Kamu akan menangis, dan darahku mendidih karena tersulut amarah. Aku akan meneriakimu, memintamu untuk diam dan segera tidur. Setelahnya, aku akan merasa bersalah dan menangis dalam diam, seperti perintahku kepadamu. Suatu hari kelak, aku berharap kamu akan mengerti bahwa semua yang kulakukan saat itu adalah demi kebaikanmu, demi kesenanganmu. Aku akan berusaha semampuku untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kamu bagi kepadaku, dan aku berjanji untuk menepati semua janjiku kepadamu.

Suatu sore kita pergi berdua mengunjungi taman, dekat sebuah pasar di mana aku senang mencari buku-buku tua. Kita duduk di pinggir kolam yang berisi banyak ikan koi sambil makan es krim, makanan yang sebenarnya tidak boleh kamu makan karena kamu sedang flu tapi aku tak tega melihat wajah memelasmu ketika melihat tukang es krim yang lewat. Saat itu kamu bercerita bagaimana kawanmu mampu mengerjakan tugas lebih cepat darimu dan mendapatkan pujian. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa ada saatnya kamu akan bersinar, mungkin tidak hari ini, tapi esok selalu menjanjikan hal baru, kamu hanya perlu berusaha lebih giat dari yang lainnya. Kamu terdiam karena masih kesal mengingat kejadian di mana kawanmu dipuji, namun akhirnya kamu mengangguk dan membuat sumpah bahwa kamu akan selalu berusaha semampumu dalam mengerjakan tugas. Aku tertawa melihatnya, kamu tidak mungkin bisa lebih menggemaskan dari hari itu. Kemudian kita pulang berjalan kaki dan kamu menggenggam tanganku erat sekali.

Mungkin aku bukan yang terbaik, dan di saat kebencianmu kepadaku memuncak, kamu akan menghadirkan imaji sempurna yang mampu menggantikan peranku dalam hidupmu. Di malam ketika kita sudah saling berpamitan dan kamu seharusnya tidur, kamu berdoa kepada Tuhan untuk mendapat pengganti sosokku. Kamu ingin seorang yang lebih lemah lembut, yang bisa memberimu izin bepergian dengan kawanmu hingga larut malam, atau bahkan menginap di sebuah kota yang jauh dari kota kita. Tapi semoga suatu hari kelak kamu akan menyadari bahwa saat kamu berdoa, aku tak mau kalah dengan juga berdoa kepada Tuhan agar aku menjadi lebih baik lagi dalam menjagamu. Kita berdua berlomba dalam doa. Aku tahu bahwa aku sudah memenangkan hati Tuhan karena mengkhawatirkan dirimu tanpa memedulikan sikap yang kamu berikan kepadaku.

Kamu lebih senang menghabiskan waktumu bersama kawan-kawanmu. Kita menjadi jarang  bertemu, jarang berbicara, dan jarang memerhatikan satu sama lain. Setiap kita bertukar pandangan, ada jarak tak kasat mata yang menahanku untuk mencium kedua pipimu atau bahkan sekadar memelukmu. Kamu berubah menjadi gadis paling cantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Sesekali ketika kita keluar bersama untuk menghabiskan malam, kamu lebih senang menatap pesan-pesan yang tertangkap telepon genggamu meski makanan sudah dihidangkan dan kubilang kamu boleh memesan es krim sebanyak-banyaknya. Waktuku tidak begitu banyak tersisa, dan sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama berbicara kepadamu meski kamu sudah tidak tahan untuk duduk dan berbicara kepadaku demi menghabiskan waktu.

Kesibukanmu kian bertambah. Tugas-tugas yang mengharuskanmu menginap entah di tempat kawanmu atau bahkan hotel yang kupesankan membuat kita tak lagi bisa bertatap muka setiap hari. Namun aku memaklumi karena aku tahu bahwa segala yang kamu kerjakan adalah demi masa depanmu, dan aku tidak boleh menghalanginya. Aku ingin kamu menjadi manusia yang berguna bagi sesama, atau setidaknya bagi dirimu sendiri, tidak merepotkan orang lain. Aku selalu memanjatkan doa untuk keselamatanmu, di malam-malam kamu mengerjakan berbagai pekerjaan, aku sibuk meminta malaikat-malaikat mengawasimu.

Lalu pada akhirnya aku tahu ada laki-laki lain yang sedang kau kagumi. Aku merasa cemburu, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kembali berdoa kepada Tuhan agar laki-laki itu memperlakukanmu sama baiknya sepertiku, bahkan lebih. Sampai akhirnya aku harus melepasmu pergi dengan laki-laki itu, aku selalu menganggumu dengan pertanyanyaan-pertanyaan tidak penting perihal kesehatanmu, kegelisahanmu, ketakutanmu, dan hal-hal yang kini sudah malas kau bahas denganku. Di akhir percakapan aku akan merasa bodoh karena kamu sudah memiliki pendamping hidup yang bisa menjadi tempatmu berbagi. Maaf, aku tidak bisa tidak memikirkanmu.

Jika suatu saat kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi ada. Tapi kamu tenang saja. Seperti janjiku, aku akan selalu menjadi manusia keempat yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Kamu hanya perlu meyakini itu, dan aku merasa cukup.

father daughter

Dialog Diri Sendiri

Saya mendapatkan penginapan! Dan lucunya, penginapan yang saya temui tepat berdiri di depan rumah anak kecil yang memeperi saya bubuk putih. Mungkin karena saat itu saya terlalu fokus dengan anak kecil tersebut sehingga saya tidak melihat dan menanyakan ketersediaan kamar di penginapan yang berada tepat di seberang rumahnya. Sebenarnya saya tidak bergitu senang karena harga yang ditawarkan cukup tinggi, 550 baht atau setara dengan 165.000 rupiah untuk satu malam. Saya membaca di berbagai blog dan buku panduan di Jakarta, banyak orang yang mendapatkan kamar jauh di bawah harga tersebut, apalagi jika mendapatkan kamar type dorm yang berarti membagi kamar dengan beberapa orang lainnya, bisa seharga 50.000 rupiah!

“Huge room, I give you only 550 baht because you’re alone. Usually this room 700 baht!”, begitu penjelasan receptionist ketika saya menanyakan apakah ada kamar yang lebih murah dari kamar yang ia tawarkan.

Namun, setelah masuk ke dalam kamar penginapan yang berada di lantai dua, saya terkejut. Kamar itu dilengkapi dengan twin bed, televisi, kipas angin, AC, air panas, dan yang paling membuat saja takjub, adalah keberadaan kulkas. Dan bukan kulkas kubus, melainkan kulkas satu pintu setinggi dada saya. Well, 550 baht ternyata harga yang terlalu murah untuk fasilitas yang saya dapatkan di penginapan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaian serta meminum tolak angin dan membaluri tubuh dengan minyak angin (sungguh, ini bukan iklan, namun saat melakukan perjalanan, kedua ‘obat’ ini tidak mungkin saya tinggalkan) saya mencoba untuk berisitrahat. Sebenarnya saya lapar, tapi saat itu masih sore dan saya pikir, lebih baik sekalian makan malam saja untuk berhemat. Lagipula Khao San Road hidup 24 jam, dan sekarang sedang Songkran, pastilah nanti malam juga tetap ramai dengan pedagang. Dan semoga saja acara sempot-menyemprot sudah selesai sehingga saya bisa berjalan-jalan malam dengan tenang tanpa takut kebasahan.

Saya berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Keramaian di luar pengiapan seperti menggedor pintu kamar saya. Suara tawa di luar penginapan, suara pembicaraan di kamar sebelah yang tidak bisa saya deteksi menggunakan bahasa apa, sampai suara tangisan anak kecil. Akhirnya saya homesick. Ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan luar bisa rindu akan rumah, rindu akan wajah-wajah yang telah saya kenal. Aneh, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan sendirian dan tidak pernah merasa begitu kesepian. Baru kali ini, dan konyolnya, saya baru meninggalkan Jakarta pagi tadi! Mungkin karena ini untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, langsung ke negeri yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dan di saat semua orang sedang merayakan kehidupan, bersenang-senang.

“Their happy is too loud,” — We Bought A Zoo (2011)

Berkat password wifi penginapan, saya bisa menghubungi adik saya, menanyakan kabarnya dan semua orang di rumah. Kenyataan bahwa ada orang yang tahu keberadaan dan kondisi saya meski jauh jaraknya dan peduli akan kabar yang saya berikan membuat pikiran saya menjadi lebih nyaman. Manusia-manusia tersayang ternyata memang mampu membuat suasana hati merasa lebih baik. Pikiran saya melayang jauh, saya memikirkan keluarga, teman-teman, para sahabat, mereka sedang melakukan apa? Apakah mereka pernah berpikir untuk melakukan perjalanan seorang diri ke tempat jauh yang asing, dan terlibat dalam pemikiran-pemikiran seperti apa yang sedang saya pikirkan?

Akhirnya di atas tempat tidur yang tidak begitu nyaman, berselimut rumah sakit yang sudah bolong-bolongnya akibat jatuhnya abu rokok pengunjung kamar sebelumnya, saya banyak memikirkan hidup, dan mati. Saya memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam hidup selama beberapa hari ke depan dan ketakuan akan imaji yang saya bikin sendiri. Berjalan sendiri memang kadang begitu menakutkan pada awalnya, tapi saya tahu, bahwa pengalaman saya nantinya akan membuat saya lebih kuat lagi. Bangkok adalah tempat pertama di mana saya berjalan jauh seorang diri. Ini bukan Jogja, bukan Bali, tempat di mana saya bisa lari ke kantor polisi dan berbicara dengan cepat apa yang saya keluhkan atau meminta pertolongan kepada orang yang terlihat baik-baik di jalan atas suatu kejadian buruk yang menimpa saya. Dan saya harus memaklukmi diri saya sendiri yang memiliki ketakutan akan hal tersebut.

Kesempatan ini membuat saya berpikir tentang apa yang sudah terjadi seharian ini setibanya saya di Bangkok. Dan saya tersenyum ketika kembali melihat tulisan yang dibuat Pak Zaki yang saya tidak pahami artinya, apakah dia sudah sampai ke kampungnya? Bisakah saya menepati janji untuk pergi ke Yala dan kembali bertemu dengannya? Lalu Kell, apa yang dia lakukan sekarang? Berpesta di Khao San Road, sudah mendapatkan teman untuk bersenang-senang? Rumahnya pasti lebih jauh dari Jakarta, apakah ia merasakan homesick juga? Dan penipu di Hua Lamphong, apakah ia sudah mendapatkan orang untuk ditipu?

Tidak lama kemudian sebuah kabar baik datang dari telepon genggam yang masih tersambung wifi. Seorang teman yang juga sedang ikut merasakan serunya Songkran di Bangkok memberitahu bahwa penginapannya tak jauh dari penginapan saya.

Sebuah wajah familiar di tengah riuhnya tempat asing? Saya tahu, saya akan baik-baik saja.

Kisah Kekasihku

Kekasihku adalah seorang yang senang berlaku baik. Ia penuh kasih dan gemar membuat sekelilingnya tertawa bersama. Setiap langkah yang kekasihku jejak adalah demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Kekasihku selalu bangun lebih pagi, ia seakan memastikan matahari terbit di tempatnya dan berkata, “Hey, Matahari, berbaik hatilah kepada orang yang kusayangi.” Kekasihku selalu berusaha memenuhi keinginan mereka yang ia sayangi. Merasa kesusahan dan membenci dirinya sendiri ketika tak mampu mewujudkan impian mereka yang ia sayang meski itu bukan kesalahannya. Kekasihku memang begitu, ia tidak tega, ia tidak suka melihat yang lain tidak berdaya. Kekasihku pekerja keras, ia tidak suka berdiam diri di kamar dan tidur sepanjang hari. Ia selalu ingin melakukan sesuatu, membuat dirinya berguna bagi yang lain. Kekasihku memang tidak bisa diam, pikirannya selalu berputar ke mana-mana. Kadang ia memikirkan adiknya, lalu ia memikirkan kawannya, tanpa disadari ia memikirkan pekerjaannya, kemudian ia memikirkan pendidikannya, belum habis, ia memikirkan aku.

Kekasihku selalu peduli. Dan ia berulang tahun hari ini.

Kekasihku mencapai usia duapuluh lima, usia petaka. Usia di mana semua manusia tidak tahu apa yang perlu dilakukan, apa yang perlu ditinggalkan. Namun, aku tahu bahwa kekasihku cukup pintar untuk memilah mana yang terbaik untuknya, untuk masa depannya. Kekasihku senang sekali mengabaikan kondisi tubuhnya, meski lelah, kekasihku tidak mau melewatkan kehidupan yang terjadi, maka ia bepergian, ia mencari kemungkinan, ia melihat peluang, dan membuat sesuatu untuk merayakan kehidupan. Aku suka kesal saat kekasihku mengeluhkan apa yang di luar kuasanya, dan menganggap bahwa apapun yang ia pikirkan harus terjadi. Kekasihku seorang pemikir, namun ia selalu lupa memikirkan dirinya sendiri. Mungkin lain waktu aku harus mengingatkan bahwa ia juga berharga, bahwa ia juga bebas memilih untuk bahagia, untuk mengetahui bahwa ia kadang tak perlu memikirkan apapun selain dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun, selamat menjadi perak, Kekasihku.

Semoga Tuhan selalu berbaik hati kepadamu dan malaikat-Nya senantiasa memanjatkan doa demi keselamatanmu. Mulailah mengerti bahwa hidup selalu menyenangkan, bahwa hidup selalu menawarkan warna yang bisa dicicipi.