Surat untuk Kelak

Kamu belum mengenalku, namun kupastikan aku akan selalu berada di peringkat keempat sebagai manusia yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Pertama kali aku bertemu mata denganmu, aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagianmu. Ketika aku memelukmu, aku tahu bahwa langit mengabulkan satu permintaanku: manusia yang bisa kucintai hingga aku mati. Hari di mana aku melihatmu memang begitu menakjubkan, kamu boleh tidak percaya, tapi aku seakan mampu mendengar alunan musik pengiring surga. Aku tahu para malaikat saat itu ikut tersenyum dan mulai mendoakan kebahagian kita. Kamu melengkapi hidupku, dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi.

Namun, kamu akan membenciku. Meski sudah kujelaskan semua maksudku, kamu tidak mau mendengarnya. Kamu akan menangis, dan darahku mendidih karena tersulut amarah. Aku akan meneriakimu, memintamu untuk diam dan segera tidur. Setelahnya, aku akan merasa bersalah dan menangis dalam diam, seperti perintahku kepadamu. Suatu hari kelak, aku berharap kamu akan mengerti bahwa semua yang kulakukan saat itu adalah demi kebaikanmu, demi kesenanganmu. Aku akan berusaha semampuku untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kamu bagi kepadaku, dan aku berjanji untuk menepati semua janjiku kepadamu.

Suatu sore kita pergi berdua mengunjungi taman, dekat sebuah pasar di mana aku senang mencari buku-buku tua. Kita duduk di pinggir kolam yang berisi banyak ikan koi sambil makan es krim, makanan yang sebenarnya tidak boleh kamu makan karena kamu sedang flu tapi aku tak tega melihat wajah memelasmu ketika melihat tukang es krim yang lewat. Saat itu kamu bercerita bagaimana kawanmu mampu mengerjakan tugas lebih cepat darimu dan mendapatkan pujian. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa ada saatnya kamu akan bersinar, mungkin tidak hari ini, tapi esok selalu menjanjikan hal baru, kamu hanya perlu berusaha lebih giat dari yang lainnya. Kamu terdiam karena masih kesal mengingat kejadian di mana kawanmu dipuji, namun akhirnya kamu mengangguk dan membuat sumpah bahwa kamu akan selalu berusaha semampumu dalam mengerjakan tugas. Aku tertawa melihatnya, kamu tidak mungkin bisa lebih menggemaskan dari hari itu. Kemudian kita pulang berjalan kaki dan kamu menggenggam tanganku erat sekali.

Mungkin aku bukan yang terbaik, dan di saat kebencianmu kepadaku memuncak, kamu akan menghadirkan imaji sempurna yang mampu menggantikan peranku dalam hidupmu. Di malam ketika kita sudah saling berpamitan dan kamu seharusnya tidur, kamu berdoa kepada Tuhan untuk mendapat pengganti sosokku. Kamu ingin seorang yang lebih lemah lembut, yang bisa memberimu izin bepergian dengan kawanmu hingga larut malam, atau bahkan menginap di sebuah kota yang jauh dari kota kita. Tapi semoga suatu hari kelak kamu akan menyadari bahwa saat kamu berdoa, aku tak mau kalah dengan juga berdoa kepada Tuhan agar aku menjadi lebih baik lagi dalam menjagamu. Kita berdua berlomba dalam doa. Aku tahu bahwa aku sudah memenangkan hati Tuhan karena mengkhawatirkan dirimu tanpa memedulikan sikap yang kamu berikan kepadaku.

Kamu lebih senang menghabiskan waktumu bersama kawan-kawanmu. Kita menjadi jarang  bertemu, jarang berbicara, dan jarang memerhatikan satu sama lain. Setiap kita bertukar pandangan, ada jarak tak kasat mata yang menahanku untuk mencium kedua pipimu atau bahkan sekadar memelukmu. Kamu berubah menjadi gadis paling cantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Sesekali ketika kita keluar bersama untuk menghabiskan malam, kamu lebih senang menatap pesan-pesan yang tertangkap telepon genggamu meski makanan sudah dihidangkan dan kubilang kamu boleh memesan es krim sebanyak-banyaknya. Waktuku tidak begitu banyak tersisa, dan sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama berbicara kepadamu meski kamu sudah tidak tahan untuk duduk dan berbicara kepadaku demi menghabiskan waktu.

Kesibukanmu kian bertambah. Tugas-tugas yang mengharuskanmu menginap entah di tempat kawanmu atau bahkan hotel yang kupesankan membuat kita tak lagi bisa bertatap muka setiap hari. Namun aku memaklumi karena aku tahu bahwa segala yang kamu kerjakan adalah demi masa depanmu, dan aku tidak boleh menghalanginya. Aku ingin kamu menjadi manusia yang berguna bagi sesama, atau setidaknya bagi dirimu sendiri, tidak merepotkan orang lain. Aku selalu memanjatkan doa untuk keselamatanmu, di malam-malam kamu mengerjakan berbagai pekerjaan, aku sibuk meminta malaikat-malaikat mengawasimu.

Lalu pada akhirnya aku tahu ada laki-laki lain yang sedang kau kagumi. Aku merasa cemburu, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kembali berdoa kepada Tuhan agar laki-laki itu memperlakukanmu sama baiknya sepertiku, bahkan lebih. Sampai akhirnya aku harus melepasmu pergi dengan laki-laki itu, aku selalu menganggumu dengan pertanyanyaan-pertanyaan tidak penting perihal kesehatanmu, kegelisahanmu, ketakutanmu, dan hal-hal yang kini sudah malas kau bahas denganku. Di akhir percakapan aku akan merasa bodoh karena kamu sudah memiliki pendamping hidup yang bisa menjadi tempatmu berbagi. Maaf, aku tidak bisa tidak memikirkanmu.

Jika suatu saat kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi ada. Tapi kamu tenang saja. Seperti janjiku, aku akan selalu menjadi manusia keempat yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Kamu hanya perlu meyakini itu, dan aku merasa cukup.

father daughter

Dialog Diri Sendiri

Saya mendapatkan penginapan! Dan lucunya, penginapan yang saya temui tepat berdiri di depan rumah anak kecil yang memeperi saya bubuk putih. Mungkin karena saat itu saya terlalu fokus dengan anak kecil tersebut sehingga saya tidak melihat dan menanyakan ketersediaan kamar di penginapan yang berada tepat di seberang rumahnya. Sebenarnya saya tidak bergitu senang karena harga yang ditawarkan cukup tinggi, 550 baht atau setara dengan 165.000 rupiah untuk satu malam. Saya membaca di berbagai blog dan buku panduan di Jakarta, banyak orang yang mendapatkan kamar jauh di bawah harga tersebut, apalagi jika mendapatkan kamar type dorm yang berarti membagi kamar dengan beberapa orang lainnya, bisa seharga 50.000 rupiah!

“Huge room, I give you only 550 baht because you’re alone. Usually this room 700 baht!”, begitu penjelasan receptionist ketika saya menanyakan apakah ada kamar yang lebih murah dari kamar yang ia tawarkan.

Namun, setelah masuk ke dalam kamar penginapan yang berada di lantai dua, saya terkejut. Kamar itu dilengkapi dengan twin bed, televisi, kipas angin, AC, air panas, dan yang paling membuat saja takjub, adalah keberadaan kulkas. Dan bukan kulkas kubus, melainkan kulkas satu pintu setinggi dada saya. Well, 550 baht ternyata harga yang terlalu murah untuk fasilitas yang saya dapatkan di penginapan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaian serta meminum tolak angin dan membaluri tubuh dengan minyak angin (sungguh, ini bukan iklan, namun saat melakukan perjalanan, kedua ‘obat’ ini tidak mungkin saya tinggalkan) saya mencoba untuk berisitrahat. Sebenarnya saya lapar, tapi saat itu masih sore dan saya pikir, lebih baik sekalian makan malam saja untuk berhemat. Lagipula Khao San Road hidup 24 jam, dan sekarang sedang Songkran, pastilah nanti malam juga tetap ramai dengan pedagang. Dan semoga saja acara sempot-menyemprot sudah selesai sehingga saya bisa berjalan-jalan malam dengan tenang tanpa takut kebasahan.

Saya berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Keramaian di luar pengiapan seperti menggedor pintu kamar saya. Suara tawa di luar penginapan, suara pembicaraan di kamar sebelah yang tidak bisa saya deteksi menggunakan bahasa apa, sampai suara tangisan anak kecil. Akhirnya saya homesick. Ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan luar bisa rindu akan rumah, rindu akan wajah-wajah yang telah saya kenal. Aneh, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan sendirian dan tidak pernah merasa begitu kesepian. Baru kali ini, dan konyolnya, saya baru meninggalkan Jakarta pagi tadi! Mungkin karena ini untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, langsung ke negeri yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dan di saat semua orang sedang merayakan kehidupan, bersenang-senang.

“Their happy is too loud,” — We Bought A Zoo (2011)

Berkat password wifi penginapan, saya bisa menghubungi adik saya, menanyakan kabarnya dan semua orang di rumah. Kenyataan bahwa ada orang yang tahu keberadaan dan kondisi saya meski jauh jaraknya dan peduli akan kabar yang saya berikan membuat pikiran saya menjadi lebih nyaman. Manusia-manusia tersayang ternyata memang mampu membuat suasana hati merasa lebih baik. Pikiran saya melayang jauh, saya memikirkan keluarga, teman-teman, para sahabat, mereka sedang melakukan apa? Apakah mereka pernah berpikir untuk melakukan perjalanan seorang diri ke tempat jauh yang asing, dan terlibat dalam pemikiran-pemikiran seperti apa yang sedang saya pikirkan?

Akhirnya di atas tempat tidur yang tidak begitu nyaman, berselimut rumah sakit yang sudah bolong-bolongnya akibat jatuhnya abu rokok pengunjung kamar sebelumnya, saya banyak memikirkan hidup, dan mati. Saya memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam hidup selama beberapa hari ke depan dan ketakuan akan imaji yang saya bikin sendiri. Berjalan sendiri memang kadang begitu menakutkan pada awalnya, tapi saya tahu, bahwa pengalaman saya nantinya akan membuat saya lebih kuat lagi. Bangkok adalah tempat pertama di mana saya berjalan jauh seorang diri. Ini bukan Jogja, bukan Bali, tempat di mana saya bisa lari ke kantor polisi dan berbicara dengan cepat apa yang saya keluhkan atau meminta pertolongan kepada orang yang terlihat baik-baik di jalan atas suatu kejadian buruk yang menimpa saya. Dan saya harus memaklukmi diri saya sendiri yang memiliki ketakutan akan hal tersebut.

Kesempatan ini membuat saya berpikir tentang apa yang sudah terjadi seharian ini setibanya saya di Bangkok. Dan saya tersenyum ketika kembali melihat tulisan yang dibuat Pak Zaki yang saya tidak pahami artinya, apakah dia sudah sampai ke kampungnya? Bisakah saya menepati janji untuk pergi ke Yala dan kembali bertemu dengannya? Lalu Kell, apa yang dia lakukan sekarang? Berpesta di Khao San Road, sudah mendapatkan teman untuk bersenang-senang? Rumahnya pasti lebih jauh dari Jakarta, apakah ia merasakan homesick juga? Dan penipu di Hua Lamphong, apakah ia sudah mendapatkan orang untuk ditipu?

Tidak lama kemudian sebuah kabar baik datang dari telepon genggam yang masih tersambung wifi. Seorang teman yang juga sedang ikut merasakan serunya Songkran di Bangkok memberitahu bahwa penginapannya tak jauh dari penginapan saya.

Sebuah wajah familiar di tengah riuhnya tempat asing? Saya tahu, saya akan baik-baik saja.

Kisah Kekasihku

Kekasihku adalah seorang yang senang berlaku baik. Ia penuh kasih dan gemar membuat sekelilingnya tertawa bersama. Setiap langkah yang kekasihku jejak adalah demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Kekasihku selalu bangun lebih pagi, ia seakan memastikan matahari terbit di tempatnya dan berkata, “Hey, Matahari, berbaik hatilah kepada orang yang kusayangi.” Kekasihku selalu berusaha memenuhi keinginan mereka yang ia sayangi. Merasa kesusahan dan membenci dirinya sendiri ketika tak mampu mewujudkan impian mereka yang ia sayang meski itu bukan kesalahannya. Kekasihku memang begitu, ia tidak tega, ia tidak suka melihat yang lain tidak berdaya. Kekasihku pekerja keras, ia tidak suka berdiam diri di kamar dan tidur sepanjang hari. Ia selalu ingin melakukan sesuatu, membuat dirinya berguna bagi yang lain. Kekasihku memang tidak bisa diam, pikirannya selalu berputar ke mana-mana. Kadang ia memikirkan adiknya, lalu ia memikirkan kawannya, tanpa disadari ia memikirkan pekerjaannya, kemudian ia memikirkan pendidikannya, belum habis, ia memikirkan aku.

Kekasihku selalu peduli. Dan ia berulang tahun hari ini.

Kekasihku mencapai usia duapuluh lima, usia petaka. Usia di mana semua manusia tidak tahu apa yang perlu dilakukan, apa yang perlu ditinggalkan. Namun, aku tahu bahwa kekasihku cukup pintar untuk memilah mana yang terbaik untuknya, untuk masa depannya. Kekasihku senang sekali mengabaikan kondisi tubuhnya, meski lelah, kekasihku tidak mau melewatkan kehidupan yang terjadi, maka ia bepergian, ia mencari kemungkinan, ia melihat peluang, dan membuat sesuatu untuk merayakan kehidupan. Aku suka kesal saat kekasihku mengeluhkan apa yang di luar kuasanya, dan menganggap bahwa apapun yang ia pikirkan harus terjadi. Kekasihku seorang pemikir, namun ia selalu lupa memikirkan dirinya sendiri. Mungkin lain waktu aku harus mengingatkan bahwa ia juga berharga, bahwa ia juga bebas memilih untuk bahagia, untuk mengetahui bahwa ia kadang tak perlu memikirkan apapun selain dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun, selamat menjadi perak, Kekasihku.

Semoga Tuhan selalu berbaik hati kepadamu dan malaikat-Nya senantiasa memanjatkan doa demi keselamatanmu. Mulailah mengerti bahwa hidup selalu menyenangkan, bahwa hidup selalu menawarkan warna yang bisa dicicipi.

Kell

Saya tidak membawa Lonely Planet Thailand karena nantinya ada seorang teman yang membawa kitab suci tersebut. Sebagai gantinya, saya membawa Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Salah satu buku favorit saya sepanjang masa yang sudah saya baca lebih dari dua puluh kali. Di dalam buku tersebut, tokoh utama yang bernama Bodhi bertemu dengan tokoh bernama Kell di Bangkok, di Khao San Road. Maka tulisan kali ini saya dedikasikan untuk ‘Kell’ yang saya temui di Bangkok, di Khao San Road.

Saat itu saya sedang mengeringkan pakaian dari semprotan, siraman, sampai guyuran kemeriahan Songkran di sebuah gang yang dekat dengan Masjid. Wajah saya sudah dipeperi bubuk halus seperti bedak yang dicampur air, sebuah tanda mata dari seorang anak laki-laki berumur lima tahun ketika saya sedang berjalan di depan rumahnya. Ia, yang tingginya hanya sepaha saya, meloncat-loncat girang untuk memeperi saya bubuk halus tersebut, sampai akhirnya saya lah yang membungkuk, membiarkan pipi saya dipeperinya. Anak itu begitu manis, dan kelucuannya semakin bertambah ketika ia berkata, “Songkran krub.” kepada saya. Maka di situlah saya sadar bahwa saya baru saja resmi menyambut tahun baru Thailand, Songkran.

Akhirnya, tidak jauh dari rumah anak kecil itu saya berhenti berjalan. Karena tidak ada keramaian di sana, saya rasa cukup aman untuk duduk di pinggir jalan untuk mengeringkan pakaian tanpa takut terkena semprotan air lagi.

Saya bingung bukan main karena begini kondisinya: Saya kurang tidur, saya sudah berhadapan dengan penipu, saya belum makan, saya tidak tahu arah, saya basah, saya masih memanggul backpack, dan saya belum menemukan penginapan. Kondisi yang bisa dibilang tepat untuk bersumpah serapah. Maka saya duduk di sana, meletakan tas di samping saya, membaca peta yang sudah basah, mencoba memikirkan lekuk gang demi gang daerah Khao San Road sambil mengeringkan badan.

Lalu tiba-tiba seorang laki-laki dengan wajah kelelahan lewat di depan saya, ia menanyakan sebuah alamat dan mengeluh betapa sulitnya mencari penginapan dalam satu kalimat. Jujur saja, saya juga sudah memiliki daftar penginapan yang saya siapkan dari Jakarta, lebih dari sepuluh penginapan untuk berjaga-jaga, tapi … bagaimana caranya mencari alamat yang kita dapatkan dari internet dengan tulisan latin sedangkan di Thailand, hampir semua alamat ditulis dengan huruf Thai? Yes, good luck with that. Maka ketika ada seorang kaukasian bertanya kepada saya tentang alamat dan mengeluh, saya tertawa dan berkata bahwa saya bukan orang lokal, saya tidak ada beda dengannya, buta Thailand. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah mengelilingi semua jalan sekitar Khao San Road untuk mencari penginapan. Kebanyakan penuh, lebih banyak lagi yang pegawainya mengunci penginapan dan merayakan Songkran, tidak jelas lagi mana penjaga penginapan ini, mana penjaga penginapan itu. Entah bagaimana nasib tamu penginapan yang ingin masuk (atau bahkan keluar? semoga mereka tidak mengunci tamu mereka sendiri) ke kamar mereka. Ia tertawa mendengar penjelasan saya yang terakhir.

“We’re really screwed, aren’t we?”

“About that, I can’t agree more,” balas saya. Entah kenapa, kami bedua akhirnya dapat tertawa bahagia atas kesialan yang menimpa kami.

Saya memerhatikan laki-laki yang duduk di samping saya. Ia berumur tigapuluhan, memiliki rambut pirang yang dipotong rapi, hampir potongan ABRI, mengenakan t-shirt berwarna biru langit dan celana jeans pendek berwarna biru dongker, tubuhnya terpahat sempurna, backpack berwarna hitam polos menggantung di belakang punggungnya, di betis sebelah kanan terdapat tato entah gambar -lebih mirip sebuah simbol- yang saya tidak ketahui. Karena tato tersebut, saya memanggilnya Kell, tokoh yang ada di Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Dan percayalah, Kell gambaran sempurna seorang model pria yang bisa ditemui di majalah fashion luar negeri.

Kell orang yang menyenangkan, kami bertukar cerita tentang kejadian-kejadian yang masing-masing kami lalui di Bangkok dalam tempo kurang dari 24 jam. Kami menertawai diri sendiri, mengeluhkan huruf Thailand, mengagumi Songkran yang begitu riuh, sampai berbisik membicarakan Raja Thailand yang menurut saya terlalu narsis karena banyak baliho dan poster dengan gambarnya di seluruh penjuru Bangkok. Kell setuju dengan pendapat saya.

“Let me see.” Saya meminta Kell memperlihatkan kertas yang sejak tadi ia genggam, sebuah kertas yang berisi alamat penginapan yang diberikan temannya yang sudah pernah ke Bangkok, dan temannya itu sudah membuat reservasi atas nama Kell di penginapan tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat kertas yang diberikan Kell dituliskan dengan huruf latin dan Thai, bahkan ada nomor teleponnya. Sebelum saya bertanya mengenai nomor telepon, Kell buru-buru menjelaskan bahwa sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi tidak diangkat.

“At least, you have an address with Thai language,” kata saya akhirnya. “Let’s try my luck.”

Saya mengajak Kell berjalan, mencari orang Thai yang bisa membaca alamat di kertas Kell. Dengan wujud yang menyerupai warga lokal, tidak sulit bagi saya untuk berkomunikasi dibandingkan Kell. Kami berdua sudah tidak lagi peduli dengan semprotan air, kami menikmatinya, karena memang itulah tujuan Songkran, menikmati percikan air dari segala penjuru. Dan setelah kurang lebih lima belas menit hilir mudik, penginapan Kell ketemu.

“I don’t know how to say thanks to you. Thank you, mate!” Kell menghujani saya ucapan terima kasih.

Saya tersenyum. Orang yang berkata bahwa membantu seseorang dapat membuat bahagia pastilah orang yang jenius. Karena benar, saya bahagia Kell menemukan penginapannya. Sayang, penginapan Kell sudah penuh, teman Kell membuat reservasi satu bed di dorm type, saya tidak bisa menumpang di penginapan Kell. Kell berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa membantu saya memecahkan masalah penginapan untuk saya. Saya menggeleng, karena sungguh ia tidak perlu meminta maaf karena masalah itu. Setelah duduk dan mengistiratkan badan di lobby penginapan Kell, saya pamit, berharap bertemu Kell lagi suatu saat.

Keluar dari penginapan Kell, saya kembali bingung. Tapi kemudian pemikiran lain menimpali, perasaan senang bukan main mendominasi karena saya baru saja mengalami sedikit bagian dari Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Saya menjelma Bodhi yang bertemu laki-laki kaukasian bertato simbol aneh di Bangkok, di Khao San Road.

Supernova: Akar - Dee
Supernova: Akar – Dee

Dan … Khao San Road

Mungkin saya sedang sial. Karena setelah beristirahat di halte dan mulai mencari petunjuk dari orang-orang tentang arah Khao San Road, tidak ada yang bisa membantu saya. Saya memiliki tiga peta Bangkok yang berbeda yang saya dapatkan dari Bandara Suvarnabhumi, seharusnya mudah saja bagi mereka untuk menunjukan arah Khao San Road. Namun aneh, dari tiga orang yang saya tanya, mereka semua menggeleng. Saya sampai harus mengganti pertanyaan dengan: “Di mana kita berada sekarang?”, berpikir setidaknya saya harus tahu tempat saya bediri di peta untuk kemudian berjalan ke arah Khao San Road.

Negatif. Bahkan tiga orang tersebut tidak tahu di mana kami berada menurut peta, padahal saya yakin benar Khao San Road tidaklah begitu jauh dari tempat saya berdiri. Saya memaklumi tiga orang tersebut karena mungkin saya bertanya pada orang yang salah, yang saya tanya adalah pedagang kelontong berumur tigapuluhan, seorang ibu yang membawa banyak belanjaan, dan seorang kakek yang baru saja turun dari bus, mereka bertiga mungkin tidak mengerti bahasa Inggris yang saya gunakan. Maka saya mencari orang yang seusia dengan saya, pelajar atau mahasiswa. Mereka pasti bisa bahasa Inggris, dan seminim apapun kemampuannya, mereka pasti tahu jawaban, “Where are we?”

Sampai akhirnya saya melihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh. Ia mengenakan t-shirt berwarna putih dan celana jeans pendek, lengkap dengan semacam nametag yang menggantung di lehernya, berfungsi untuk melindungi barang-barang berharga dari semprotan air, dan di semacam name tag yang ia gunakan itu terdapat iPhone serta beberapa pecahan uang, rambutnya naik berkat bangtuan gel rambut, wajahnya bersih, persis artis-artis di film Thailand. Otak saya seketika: “Dia anak gaul Bangkok! Dan anak gaul pasti bisa bahasa Inggris.” Maka saya bertanya. Tapi betapa mengejutkan karena laki-laki ini menggeleng begitu cepat bahkan sebelum saya sempat bertanya. Saya baru mengeluarkan kalimat “Excuse me, do you … ” sambil menunjukan peta, tapi ia begitu ketakutan seakan saya adalah dosen yang mendadak memberikan kuis. Ia pergi meninggalkan saya yang kebingungan. Saya menyerah. Saya fokus mencari taksi atau tuk-tuk meskipun agak mustahil mendapatkan kedua transportasi tersebut karena saya-tahu-Khao-San-Road-tidak-jauh.

Saya senang mencoba berbagai transportasi umum, di dalam maupun luar negeri. Ada kesenangan sendiri ketika saya berhasil menggunakan transportasi umum. Berperan sebagai warga lokal alih-alih wisatawan (lokal/mancanegara) selalu membuat saya berdebar senang. Selain itu, menggunakan transportasi umum jelas menghemat pengeluaran. Untungnya, saya bukan orang yang mudah mabuk dalam perjalanan. Maka saya bebas bertualang, menjelajah suatu kota dengan transportasi umum.

Dan pengalaman pertama saya menaiki tuk-tuk, kendaraan seperti bajaj namun terbuka di bagian belakang dan kanan kirinya, di Bangkok akhirnya terjadi. Saat itu saya yang sudah menyerah mencari tuk-tuk sepanjang jalan, berdiri mematung di sebuah perempatan besar. Saya memerhatikan mobil-mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala, sempat terpikir untuk mengetuk salah satu jendela mobil dan menumpang hingga Khao San Road, tapi jelas itu hal yang konyol karena saya sedang berada di kota besar, bukan pedesaan di mana hitchhiking menjadi hal yang lumrah. Tiba-tiba, saya mendengar suara berteriak di belakang mobil-mobil, supir tuk-tuk! Ia (seperti) memanggil saya. Maka saya berjalan ke arahnya. Ia mengajak saya berbicara Thai (saya sudah tidak bisa tertawa lagi karena dianggap warga lokal), namun setelah melihat raut wajah saya yang bingung, ia mengganti bahasanya menjadi bahasa Inggris yang lumayan baik.

“Where are you going?”

“Khao San Road.”

“I can take you, close to Khao San Road. There, traffic. Not good.”

“Okay, take me to the closest you can get. How much?”

“60 Baht.”

“40 Baht.”

“50 Baht.”

“Okay.”

Dan saya pun naik tuk-tuk. Sebelum tuk-tuk yang saya naiki jalan, karena masih menunggu lampu merah, sopir tuk-tuk bertanya apakah saya tidak bermasalah jika tersiram air sepanjang perjalanan. Saya mengangguk, saya siap basah. Semua perlengkapan elektronik sudah saya masukan ke dalam plastik dan dimasukan ke dalam lipatan pakaian. Saat itu hampir pukul tiga, pakaian yang saya kenakan sudah tidak lagi basah akibat semprotan sebelumnya, hanya sepatu yang masih lembab.

Percayalah, pengalaman menaiki tuk-tuk ini begitu mengesankan, karena sepanjang perjalanan saya disiram, disemprot, bahkan yang paling sial, saya nyaris diguyur menggunakan gayung ketika tuk-tuk yang saya tumpangi berhenti karena lampu merah oleh warga sekitar, untung supir tuk-tuk langsung menekan gasnya sehingga saya terhindar dari basah kuyup. Jalanan yang dipilih supir tuk-tuk adalah jalan-jalan kecil yang muat dua mobil jika dipaksakan, tiga menit yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Sampai akhirnya tibalah saya di jalan yang sangat besar. Supir tuk-tuk berkata bahwa Khao San Road ada di seberang jalan. Saya melihatnya, jalanan yang penuh dengan manusia, benar-benar penuh. Jalanan itu disulap seperti jalan-jalan ketika perayaan 17 Agustus, bendera yang terbuat dari plastik dan berwarna-warni mengelilingi jalan itu membentuk pola segitiga, dikaitkan dari satu tiang ke tiang lain. Air menari-nari di atas jalan. Saya girang bukan main. Saya memberikan 60 Baht kepada supir tuk-tuk karena itu harga yang pantas, bahkan mungkin kurang. Saya lebihkan dari kesepakatan untuk ungkapan rasa terima kasih. Lagipula, hey, 10 Baht hanya setara dengan 3000 Rupiah. Dan saya hanya iseng menawarnya.

Saya menyebrangi jalan yang luasnya mungkin setara dengan Sudirman-Thamrin. Tidak mungkin mengelak semprotan yang simpang-siur di sekitar saya. Semua orang menggenggam pistol air, dari yang kecil sampai besar bukan main. Saya rela basah meski masih mengenakan pakaian berangkat dari Jakarta yang bahkan sudah sempat basah kemudian kering kembali.

Akhirnya, saya sampai di Khao San Road. Seorang diri. Leonardo DiCaprio pasti bangga.

Tuk-tuk
Tuk-tuk