Buku Terpilih 2015

Terpilih 2015
Terpilih 2015

Selama lebih dari seminggu sudah kupikirkan untuk membuat daftar buku terbaik terfavorit terpilih yang terbit pada tahun 2015 menurut pandanganku. Namun, pikiran itu hanya membangkai di otak selama lebih dari seminggu, hingga akhirnya, pada malam ini aku tidak bisa memenangkan satu pun dari tujuh game yang kuikuti di permainan Get Rich dan aku batal ke Prodia untuk mengambil hasil cek gula darahku (akhir-akhir ini aku mudah sekali terserang gatal dan tidur lebih dari sepertiga hari) karena hujan sedang deras-derasnya, aku memutuskan untuk menumpahkan bangkai di otakku.

Daftar buku terpilih yang terbit tahun 2015 ini kususun berdasarkan abjad seperti pada daftar pustaka, entahlah, terlihat keren jika aku mengurutkannya menggunakan metode itu.

1. Armandio, Sabda | KAMU: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya | 7 Februari 2015

Salut! Aku mengetahui keberadaan buku ini saat aku sedang main ke lantai atas kantorku (jika kau belum tahu, kini aku bekerja di sebuah toko buku online) dan menemukannya di rak buku sebagai koleksi nomor lepas. Pertama kali melihat, jelas aku penasaran bukan kepalang. Selain judulnya yang sungguh memikat, buku KAMU memiliki figur yang menarik, ia tidak seperti buku terbitan Indonesia kebanyakan yang menggunakan dimensi 14 x 20 cm, ia seakan memilih untuk berbeda di dimensi 11 x 17 cm. Menyenangkan, karena buku tersebut bisa dipamerkan berkat keunikan bentuk tubuhnya ketika menunggu kereta di Stasiun Pondok Cina, pun ketika sudah di dalam gerbong.

Aku cukup terkejut bagaimana Sabda meracik cerita di buku ini. Bukan hanya tampilan luarnya yang bagus, namun bagian dalamnya juga memuaskan. Mungkin aku tidak terlalu banyak membaca buku, namun ini kali pertama aku merasa begitu dekat dengan tokoh yang direka, merasa aku sudah berkarib dengan tokoh utama begitu lama. Betapa mudahnya Sabda membuat pembaca terlena dengan lekuk kota Bogor serta jalan pintas dan orang utan yang dapat berbicara. Cerita luar biasa mengalir dan aku benci setengah hidup karena cerita berakhir tanpa ada aba-aba, kecuali bagian buku sebelah kanan tanganku sudah kian menipis dibandingkan arah sebaliknya yang tidak begitu kuperhatikan.

Sebuah artikel yang sempat terbaca olehku, Sabda disebut menggunakan aliran Haruki Murakami dalam bertutur di buku ini, dan aku membenarkan. Jika terus menggunakan aliran tersebut, aku tidak keberatan menjadi pengagum tetap Sabda Armandio.

Kamu diperbolehkan untuk tidak percaya dengan ulasan sangat sederhana ini. Aku memberikan lima bintang di Goodreads. Kamu boleh juga tidak percaya, suka-sukamu, lah.

2. Kurniawan, Eka | Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi | Maret 2015

Tentu, seperti kebanyakan pembaca di Indonesia (bahkan, dunia) yang lain, aku tergila dengan tulisan-tulisan Eka Kurniawan. Perkenalan pertamaku dengan Eka Kurniawan dimulai dari Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, lalu aku mundur membaca seluruh bukunya mengikuti tahun terbit. Semua kusenangi kecuali satu, Corat-Coret di Toilet, bukan berarti buruk, hanya saja… Katakanlah, ada dendeng balado dan ikan bakar di meja makan, aku lebih memilih dendeng balado meski aku tidak keberatan untuk memakan ikan bakar jika dendeng baladonya habis. Dan karena hal tersebutlah sebenarnya aku memiliki ketakutan bahwa aku akan kurang senang dengan buku kumpulan cerpen yang judulnya sulit untuk ditweet ini. Satu-dua cerita mungkin tidak menjadi kesenanganku (sangat wajar menurutku, mengingat selalu begitu yang kurasakan ketika membaca sebuah kumpulan cerpen dari satu penulis) namun beberapa cerita pada bagian akhir membuatku terperangah dan akhirnya membuatku memasukannya ke dalam daftar buku terpilihku di tahun ini.

Dan cerita pendek yang menjadi judul buku ini mengingatkanku kepada The Alchemist karya Paulo Coelho. Aku yakin bukan hanya aku yang berpandangan demikian.

3. Mansyur, M. Aan | Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi | 27 Mei 2015

Banyak yang memuja kumpulan puisi Melihat Api Bekerja, namun aku lebih menyenangi novel, maka aku senang ketika buku ini bertemu dengan ekspektasiku. Aku senang mengikuti cara berpikir tokoh di buku ini, senang betapa ibu sang tokoh utama bersetia hanya dengan satu suami, senang dengan kisah cinta yang begitu biasa namun luar biasa. Balutan kisah di buku ini mengajakku berpikir banyak tentang hidup. Aku ingat berkali-kali menempelkan buku ini di dada seakan mau melesapkannya ke hati. Buku ini begitu manis dan pahit di saat yang bersamaan.

Adegan konyol yang tercipta di kehidupan nyata adalah: Aku bertemu dengan penulis buku ini dan berkesempatan menunggu shuttle bus di acara Ubud Writers & Readers Festival 2015 bersama. Aku memutuskan untuk menjauhinya karena beranggapan bahwa ia memiliki lemah jantung (demikian tokoh yang ditulisnya di buku ini) dan aku sedang merokok, namun tak lama kemudian ia juga menyulutkan rokok, dan dengan bodoh aku menyapa lalu mengaku kepadanya bahwa aku beranggapan tokoh dibukunya adalah ia sendiri. Dia hanya tertawa dan aku berbasa-basi seadanya.

4. Muhammad, Damhuri | Anak-Anak Masa Lalu | Juni 2015

Boleh dikatakan aku cukup terkejut dengan pilihanku ini. Karena sesungguhnya aku bukan pengagum buku kumpulan cerpen, terlalu risiko terjadi pengulangan sehingga aku berasumsi tak lama setelah memulai membaca, aku akan bosan. Namun, buku ini sungguh sangat baik. Banyak kisah yang terjadi di pedalaman yang mungkin belum kau dengar, dan buku ini menceritakannya dengan cara yang paling mudah dipahami, paling mudah dimaklumi.

Dan aku terkesima bahwa pemikiran masa lalu, ketika masa kecil dihabiskan, bisa membuat pandangan seseorang begitu kukuh. Mengerikan sekaligus menyamankan, tergantung kau mau memandanginya dari sisi mana.

5. Oddang, Faisal | Puya ke Puya | 15 Oktober 2015

Aku pernah dengan ambisius membeli tiket UPG-CGK saat promo sebuah maskapai penerbangan berlangsung. Tiket itu batal kupakai dan hangus begitu saja karena kebodohanku yang tidak membeli tiket CGK-UPG (pembelaanku, aku ingin tiba di pulau Celebes untuk pertama kalinya menggunakan kapal Pelni, namun aku tak kunjung membeli tiketnya hingga hari kepulangan terlewati). Bukan hanya kerugian materi yang harus kutanggung, namun melihat keindahan Tana Toraja harus kupendam lebih lama.

Beruntung buku ini mengisahkan sosial budaya di Tana Toraja pada masa kini, meski tidak berbunga-bunga mengisahkan memukaunya pemandangan daerah tersebut, aku jadi paham berbagai sudut pandang adat istiadat di sana.

Betapa sangat tuanya peradaban di Tana Toraja, mengingatkanku akan istilah Melayu Tua yang pernah terselip di pelajaran Sekolah Dasar, begitu agung dan menarik membaca akulturasi yang terjadi setelah berabad-abad manusia hidup, turun-temurun. Mempertahankan kebiasaan atau membuat kebiasaan baru. Meninggikan adat atau melawan adat. Mengikuti keluarga, atau durhaka. Buku ini sungguh kaya akan cerita, dan aku senang sekali dengan kisah di pohon Tarra.

6. Zezsyazeoviennazabrizkie, Ziggy | Di Tanah Lada | 19 Oktober 2015

Mungkin aku harus memulainya dengan permintaan maaf kepada penulis buku ini. Aku tidak begitu senang dengan namanya (seorang teman pernah berkata itu nama aslinya, dan aku hanya bisa terperangah) sehingga mengurungkan niat untuk membeli dan membaca buku ini. Namun, saat antrean Star Wars begitu memukau, aku memutuskan untuk ke toko buku dan entah mengapa akhirnya membeli buku ini.

Salah satu keputusan terbaik sepanjang tahun 2015! Buku ini bahkan sudah memikat saat dibuka. Lalu saat aku harus menunda membacanya karena pintu studio di mana Star Wars akan ditayangkan, aku disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kelanjutan cerita di buku ini. Aku tidak tenang. Permainan psikologi anak yang luar biasa, sempat membuatku heran mengapa tidak ditetapkan menjadi juara pertama Dewan Kesenian Jakarta 2014, meski memang Kambing & Hujan terlihat lebih kaya dengan sosial budaya.

Demikian enam buku terpilih terbitan tahun 2015 yang bisa kurangkum. Banyak buku yang berkesan selama aku melakukan perjalanan dengan buku di tahun 2015, namun keenam yang sudah kusebutkan memiliki rasa tersendiri untukku.

Selain enam buku di atas, aku memilih tiga buku yang tidak terbit di tahun 2015 namun membekas diingatanku. Ketiga buku tersebut adalah:

  1. Simple Miracles: Doa dan Arwah | Ayu Utami | Oktober 2014
  2. South of the Border, West of the Sun | Haruki Murakami | 1 Desember 2006 (terbit pertama kali 1992)
  3. Habiskan Saja Gajimu | Ahmad Gozali | Februari 2013

Menurut catatan Goodreads, sampai postingan ini dibuat aku hanya sempat membaca 35 buku di tahun ini, dan sepertinya tidak akan bertambah mengingat waktu yang sudah dalam hitungan jam untuk berganti tahun. Sebenarnya tidak cukup banyak untuk membuatku sok mengerucutkan dan menjadikannya terpilih (aku menghindari kata terbaik karena sebenarnya tidak ada yang terbaik, kembali kepada selera masing-masing, bukan? Aku juga menghindari kata terfavorit karena akan mengesankan berurutan) karena, percayalah, banyak sekali buku baik yang terbit di tahun 2015 dan aku tidak memiliki waktu yang banyak untuk membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *