Enam

Malam semakin tua, jam di tangan kanan Rama sudah menujukan hampir pukul satu dini hari, tapi tentu saja malam tahun baru masih terlalu muda untuk disudahi.

Beberapa orang menuruni tangga, berpapasan dengan Rama dan Shesa yang kini sudah menjajaki anak tangga yang terakhir. Wajah orang-orang itu terlihat bahagia, mungkin ini salah satu malam tahun baru terbaik mereka, pergi bersama orang-orang tersayang sambil sekedar makan dan minum serta menyaksikan pesta kembang api yang berasal dari berbagai sudut kota.

“Eh, aku boleh ke Foodmart dulu? Mau beli rokok.” Kata Rama, teringat bahwa sebungkus rokok yang dia bawa dari rumah telah habis terbakar.

Shesa hanya mengangguk, lalu mengikuti Rama yang berjalan ke arah kanan, tempat dimana Foodmart berada.

“Rokok nggak baik buat kesehatan.” Tiba-tiba Shesa berbicara tanpa menoleh ke arah Rama.

Rama tersenyum. “Iya, soalnya bisa menyebabkan kanker, ya?”

“Itu kamu tau, selain itu, sayang bakar-bakar uang.”

“Kenapa kamu nggak bilang begitu ke mereka yang main kembang api tadi?”

Shesa tertawa, dia sangat tahu kalau perokok selalu mempunyai pembenaran untuk melakukan aktivitas mematikan itu.

Kemudian Rama dan Shesa masuk ke dalam Foodmart, di pintu masuk terdapat banyak sayur-sayuran dan bahan makanan olahan yang tinggal dimasak saja, Shesa tertarik untuk melihat-lihat. Rama menemani.

“Aku selalu suka ngeliat sushi maki, mereka berenam ngumpul, kayak lagi ngegossip.” Shesa berpendat polos saat melihat-lihat di counter sushi.

Rama yang sejak tadi bingung dengan bahan makanan yang dikomentari Shesa tergelak, “Hahaha! Kamu ini lucu, ya? Main sama si kembar gemini lah, sushi ngegossip lah. Hahaha!”

Shesa meninju lengan Rama sambil terus berjalan menuju kasir. “Ah, kamu ini nggak punya daya khayal. Padahal gemini harusnya punya daya khayal yang tinggi.”

Rama sedikit mengaduh, dan menyapu lengan kirinya. “Hmm, mungkin aku gemini murtad.”

Kali ini Shesa yang tertawa mendengar perkataan Rama. “Hahaha! Kamu juga aneh tau.”

Akhirnya setelah Shesa puas melihat-lihat bahan makanan, mereka berdua berjalan ke arah kasir yang hanya menerima sepuluh item belajaan setiap transasksinya, karena hanya disanalah counter kasir yang menjual rokok.

“Angka yang paling kamu suka?” Tiba-tiba Rama bertanya, membuat bahan pembicaraan baru selagi mengantri.

Shesa terdiam, berpikir. Bola matanya berputar, dan dahinya berkerut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Rama yang tiba-tiba.

“Enam, aku suka angka enam!”

“Kenapa? Karena Sushi tadi? Hahaha.”

“Bukan, dong.” Jawab Sesha sambil memukul kecil bahu Rama dengan belakang telapak tangannya.

“Terus, kenapa memilih enam?”

Shesa tersenyum, Sesha tidak langsung menjawab karena kini tiba bagi Rama untuk membayar rokoknya di cashier.

“Sampoerna Mild nya, Mbak. Dua.” Ucap Rama cepat sambil mengeluarkan dompetnya yg sejak tadi tersimpan di kantung belakang sebelah kanan jeansnya.

“Semuanya dua puluh dua ribu, Mas.”

Rama meraih selembar uang bergambar Otto Iskandar Dinata dan selembar uang bergambar Pangeran Antasari dan menyerahkannya. Tidak perlu menunggu kembalian.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama, Mbak. Selamat tahun baru, by the way.”

“Eh, iya, Mas. Selamat tahun baru juga.”

Setelah beberapa langkah Shesa tidak tahan untuk berkomentar. “Kamu ngucapin selamat tahun baru ke petugas cashier? So sweet banget.”

“Hahaha! Ya nggak apa-apa, kan? Kasian tau, lagi tahun baru begini dia kerja.”

“Iya, juga, yah. Apa perlu kita ajak ngobrol-ngobrol di Starbucks?”

“Ya, nggak perlu seramah itu juga kali.”

Tanpa dikomando, baik Rama dan Shesa tertawa, kali ini mereka tinggal berjalan lurus untuk mencapai kedai kopi internasional, Starbucks.

“Oh, iya. Kenapa enam?” Rama mendadak ingat pertanyaannya yang belum dijawab oleh Shesa.

“Karena enam batas yang sempurna, Ram.”

Giliran Rama yang mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti. Shesa tersenyum, tahu bila kalimatnya tidak dimengerti oleh Rama.

“Oke, gampangnya begini. Kalau kamu dapat nilai enam di, hmm, ulangan matematika. Kamu nggak remedial, tapi kamu punya motivasi untuk dapat lebih dari sekedar enam di ulangan berikutnya. Kamu nggak bisa sombong, karena masih ada nilai tujuh sampai sepuluh. Kamu dibuat bersyukur karena ada yang bernilai nol sampai lima.”

Rama terdiam, Shesa selesai berbicara. Mereka sudah sampai di depan pintu Starbucks.

“Mendadak, aku suka angka enam, nih.”

Shesa tertawa sambil membuka pintu Starbucks.

Sushi: California Roll

Mahadewi

“Lagian kenapa nggak kamu pindahin dulu troleynya?” Rama masih juga tertawa, tidak menyangka bila mobil yang terparkir sembarangan yang tepat berada di hadapannya ternyata mobil Shesa.

Shesa mengulum bibirnya, “Ya tadi ribet banget. Aku sendirian, masa aku turun dulu terus ngegeser troleynya, masuk mobil lagi?”

Rama tidak bisa berhenti tertawa membanyangkan kesulitan Shesa saat memarkir tadi.

I will never know, cause you will never show. C’mon you love me now, c’mon you love me now.

Shesa yang sedang sebal kepada Rama, yang tidak bisa berhenti menertawai dirinya, terkejut dengan ringtone yang berbunyi. Dengan cepat dia kembali mencari BlackBerrynya di tas tangan yang sejak tadi dipangku olehnya.

“Aduh, Nyokap.” Kata Shesa melihat layar BlackBerrynya. “Sebentar yah, Ram.”

Rama hanya mengangguk, sambil mencoba untuk berhenti tertawa.

“Halo Ma. Iya, ini aku di Citos. Ya ampun, ini malam tahun baru, aku sama temen-temen aku. Iya iya, sebelum Subuh aku udah nyampe rumah, kok.” Shesa kesal, umurnya sudah dua puluh dua, tapi masih saja diperlakukan seperti laiknya anak umur sepuluh tahun.

Akhirnya sambungan telepon itu putus setelah Shesa sedikit berteriak kepada ibunya untuk tidak perlu mengkawatirkannya karena sekarang dia berada di tempat yang aman.

“Nyokap nyariin?” Tanya Rama setelah Shesa meletakan kembali BlackBerrynya ke dalam tas.

Shesa mengangguk. Ini kekesalannya yang pertama di tahun 2012, dan Shesa tidak menyangka kekesalan pertama berasal dari ibunya.

“Enak ya, kamu masih punya ibu.” Kata Rama lirih.

Kalimat itu berdampak besar untuk Shesa, dia menoleh ke arah Rama, mencari mata Rama. Namun Rama hanya menunduk, seakan disanalah lawan bicaranya berada.

“Eh, sorry Ram. Aku nggak bermak.. ”

“Loh, santai, Sa. Aku biasa aja kok.” Jawab Rama cepat, memotong kalimat Shesa.

Shesa merasa tidak nyaman, bingung bagaimana harus bertindak. Shesa berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan keadaan seperti semula, penuh tawa dan keterkejutan. Shesa mengharapkan Rama kembali melemparkan topik pembicaraan, tapi hampir satu menit berlalu, Rama masih juga tidak menatapnya.

“Kapan?” Akhirnya Shesa menyerah, dia berpendapat mungkin Rama mau membahasnya. Sehingga Shesa berani untuk menanyakan itu.

Rama menoleh, menatap Shesa yang kini berharap cemas dengan jawaban yang diberikan olehnya. Rama tersenyum.

“Tepat di hari ulang tahun aku. Beliau meninggal waktu melahirkan aku, Sa.”

Pukulan kedua bagi Shesa, karena dia tidak menyangka akan begini ceritanya, bahwa Rama berarti tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Rama tidak tahu rasanya dikhawatirkan oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibuatkan masakan favorit oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibacakan cerita oleh seorang ibu sebelum tidur, tidak seperti Shesa yang merasakan itu semua, bahkan sampai dia kesal sendiri.

“Ibuku jago masak loh, kata ayah. Ibuku juga pintar kata kakakku yang pertama, beliau selalu menemaninya membuar PR. Dan ibuku luar biasa cantik kata kakakku yang kedua.” Lanjut Rama, masih dengan tersenyum.

Shesa tidak bisa menjawab apa-apa, dia membiarkan Rama bercerita tentang ibunya yang dia dengar dari orang lain. Rama tidak mempunyai kenangan apapun dengan ibunya, dan itu berhasil membuat Shesa merasa sedih.

“Kata nenek, ibuku anak yang baik. Tapi, ya, mungkin karena nenek orang tuanya, ya? Hahaha.”

Shesa tersenyum.

“Aduh, aku jadi sensitif begini. Malu ah!” Rama tertawa terbahak-bahak, matanya sudah berkaca-kaca.

“Cowok yang sayang sama ibunya itu, punya tempat tersendiri di hati para perempuan loh.” Timpal Shesa sambil tersenyum.

Tawa rama semakin meledak, dan dia tidak tahu apakah air mata yang jatuh adalah air mata kesedihan atau air mata karena tawa yang melebihi dosisnya. Dia biarkan saja dua air mata itu bertemu menjadi satu. Dileburkan.

“Ibuku namanya Dewi, tapi aku tahu kalau beliau lebih cocok menjadi Mahadewi.” Lanjut Rama sambil menyapu air matanya. “Semua ibu di dunia itu Mahadewi, setara dengan Durga, Parwati, Kali, Lakshmi, dan Saraswati.”

“Aku cuma tau Mahadewi lagunya Padi, Ram.”

Setelah mengucapkan itu, Shesa terdiam. Rama juga terdiam mendengar perkataan Shesa. Tidak berapa lama kemudian, mereka berdua tertawa bersama-sama. Sadar bahwa perkataan Shesa sangat jauh keluar dari topik.

“Lain kali, aku ceritain tentang kelima dewi itu, deh. Kamu mau denger?”

“Mau banget!” Jawab Shesa cepat, bersemangat.

Mereka berdua saling melempar senyum.

“Mau ke Starbucks lagi, nggak? Mungkin udah sepi disana. Disini mulai banyak nyamuk.” Kata Shesa akhirnya.

“Ayo.”

Akhirnya mereka berdua berdiri dari trotoar yang sejak tadi difungsikan sebagai tempat duduk, tepat di belakang mobil Shesa yang terparkir. Selama perjalanan menuju Starbucks, Rama tidak menyadari kalau Shesa sibuk dengan BlackBerrynya. Shesa tertinggal beberapa langkah dari Rama.

“Ma, maaf yah. Tadi aku kasar sama Mama. Aku tau Mama khawatir sama aku. Terima kasih ya, Ma. Nanti aku kabarin lagi. Selamat tahun baru, Ma. :)”

D

R

Tidak berapa lama suara PING! nyaring terdengar, membuat Rama yang sejak tadi menatap lurus ke depan tanpa mempeduliakn Shesa yang jalannya melambat karena menatap layar BlackBerrynya, menoleh.

“Iya sayang, nggak apa-apa. Mama juga yang nggak tau situasi untuk khawatir. Kamu kan sudah besar, bisa menjaga diri sendiri, dan ini malam tahun baru. Hati-hati yah, nak. Selamat tahun baru juga.”

Shesa tersenyum di depan layar, ketika wajahnya diangkat untuk mencari Rama, Rama sudah memandangnya dengan bingung.

“Kenapa Sa?”

“Nggak apa-apa.” Jawab Shesa dengan senyuman sambil memasukan BlackBerrynya ke dalam tas.

Kemudian Shesa berjalan menyusul Rama yang sudah ada tiga langkah di depannya. Setalah mereka bersebelahan, perjalanan pun dilanjutkan.

“Terima kasih yah, Ram.” Kata Shesa ketika mereka berdua sudah berada di tangga menuju ruangan kosong yang tadi dipenuhi oleh orang-orang untuk menonton pesta kembang api.

“Buat?”

“Ngenalin aku ke Mahadewi.”

Rama menoleh bingung, namun Rama memilih untuk tidak bertanya. “Sama-sama, Shesa.”

Durga
Parvati
Kali

Yogyakarta

“Sunday!”

Rama tertawa mendengar Shesa sedikit berteriak. “Iya, hari matahari.”

Akhirnya Rama berhenti berjalan, tepat di belakang sebuah mobil yang terparkir sembarangan, mobil itu tidak menyentuh besi belakang yang menandai batas parkir, sehingga memberikan ruang kosong antara mobil dan trotoar.

“Duduk sini aja.” Kata Rama sambil menoleh ke arah Shesa yang masih tersenyum.

“Oke.” Shesa dengan santai mengikuti Rama yang telah lebih dulu duduk di trotoar, menghadap ke arah mobil yang diparkir sembarangan oleh pemilikinya.

Baru 10 menit sejak kalender masehi resmi berganti menjadi 2012, tapi Shesa tau bahwa tahun ini adalah tahun miliknya, dia mengawali tahun baru dengan menyenangkan, bersama Rama.

“Yang markir bego. Padahal batas besinya masih jauh banget, kan kasian jatah jalan di depannya jadi berkurang.” Tiba-tiba Rama berkomentar, membuat Shesa yang sejak tadi mencari posisi nyaman untuk duduk, tertawa.

“Hahaha, kamu seenaknya aja ngatain orang bego. Belum tentu kamu tau tadi kondisinya kayak apa. Siapa tau tadi hectic banget, mobil parkir pararel, dan pemilik mobil ini kesusahan.”

Rama ikut tertawa, benar apa yang dikatakan Shesa, dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kadang kita memang dengan mudahnya membuat suatu pernyataan tanpa tahu masalah yang sebenarnya. Seperti saat ini, Rama tidak tahu alasan pemilik mobil memarkir mobilnya dengan tidak sempurna, lalu dia dengan mudahnya mengatai pemilik mobil.

“Alah, kamu juga kalo markir mobil, sembarangan, kan?” Rama memilih untuk menjahili Shesa.

Shesa yang sedang menikmati tawanya seketika terdiam. Lalu dengan cepat dia memukul kecil bahu Rama. “Ih, ngeselin banget kamu.”

Kali ini gantian Rama yang tertawa terbahak-bahak melihat Shesa merajuk.

“Kemana perjalanan menggunakan mobil kamu yang paling  jauh?” Tanya Rama setelah mampu mengontrol tawanya.

“Hmm, Bandung.” Jawab Shesa cepat tanpa berpikir, tapi kemudian dia langsung tersenyum, menyadari kesalahan jawaban yang dia berikan kepada Rama. “Bukan bukan, yang paling jauh itu Jogja. Tahun lalu, eh, dua tahun yang lalu!”

“Wah, kamu ke Jogja pake mobil? Seru?”

Shesa tersenyum, dia hampir saja melupakan perjalanan paling menyenangkan yang pernah dia lakukan. Seorang diri.

***

Waktu itu aku sedang mempunyai masalah .. baiklah baiklah, masalah percintaan. Sebenarnya sederhana saja, aku mendapati pacarku berselingkuh. Klise? Memang seklise itu. Lalu dengan bodoh aku mengatur sebuah perjalanan, perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku ke Jogja!

Aku menyewa sebuah mobil dan supir dari Jakarta. Orang tuaku tidak tahu aku pergi ke Jogja seorang diri, kalau mereka tahu, pasti mereka sudah melarangku. Aku berkata kepada orang tuaku kalau aku sedang melakukan penelitian di sebuah desa di Bandung untuk tugas kuliah bersama teman-temanku, dan aku akan menginap di rumah teman kuliahku yang mempunyai rumah di Bandung. Mereka percaya!

Selama perjalan, aku lebih sering berdiam diri, atau memandang keluar jendela sambil menangis. Tapi karena aku malu dengan Pak Bayu, supir berumur empat puluh tahunan yang aku sewa, tangisku tidak bersuara. Sampai akhirnya Pak Bayu menyadari bahwa aku sedang menangis, kemudian dia bilang bahwa dia mau mendengarkan musik dari telepon genggamnya menggunakan headset dengan volume paling kencang.

Aku tersenyum, hampir tertawa bahkan, Pak Bayu sangat pengertian. Akhirnya, setelah aku bisa mendengar lagu dangdut yang berasal dari headset di telinga Pak Bayu, aku menangis sejadi-jadinya. Selesai menangis, aku tertidur, lalu terbangun di daerah yang tidak aku ketahui. Karena aku kelaparan, akhirnya mobilku berhenti di sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Selama makan, aku curhat tentang masalah percintaanku kepada Pak Bayu, dia hanya tertawa saja mendengar ceritaku. Mungkin bagi dia kisahku itu konyol, aku masih terlalu muda untuk mendramatisir kisah cinta. Pengalamanku masih cetek sampai menganggap cinta itu hanya kasih kepada seorang laki-laki.

Saat kembali melanjutkan perjalanan, aku kembali menangis, kali ini Pak Bayu tidak menggunakan headsetnya. Dia dengan sabar membuka telinganya, mendengar aku menangis. Kemudian aku kembali tertidur.

Saat aku terbangun, aku bingung, Pak Bayu tidak lagi ada di belakang kemudi. Mobil sudah terpakir di sebuah tempat yang aneh, sebuah bukit. Saat itu pukul 5, matahari baru sedikit terlihat di timur. Pak Bayu yang sedang berbicara dengan satpam sambil merokok melihatku turun dari mobil. Dia menghampiriku sambil tersenyum dan berkata bahwa kami sudah sampai di Jogja, tapi dia tidak mau membangunkan aku, sehingga dia mengambil inisiatif untuk membawaku ke salah satu tempat yang tinggi di Jogja untuk melihat matahari terbit.

Aku tersenyum, Pak Bayu sangat baik. Dia mengajaku untuk berjalan, udara pagi Jogja membuatku harus mengambil jaket terlebih dahulu di dalam mobil. Dari penglihatanku, tempat ini adalah tempat pariwisata, ada sebuah petunjuk berbentuk tiang yang membuat pemikiranku benar.

Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku melihat sebuah candi! Dan candi itu berbentuk gerbang, tidak seperti candi-candi yang pernah aku lihat sebelumnya. Sinar matahari yang belum perkasa menimpa candi dan membuat pemandangan paling spektakuler yang pernah aku lihat. Ini terlalu indah untuk mataku!

Pak Bayu sadar akan keterkejutanku, dia hanya tersenyum sambil berkata bahwa aku harus melupakan mantan pacarku dan memulai mencari cinta yang baru, karena aku sudah melihat matahari terbit di gerbang candi Ratu Boko, Yogyakarta.

Aku tidak bertanya, aku tidak menjawab, aku tahu maksud Pak Bayu. Matahari terbit dan gerbang? Aku cukup pintar untuk tahu bahwa itu adalah analogi untuk sebuah kata: Awal. Air mataku mengalir, bukan, aku bukan sedih, aku bahagia.

***

“Wow! Ini kisah nyata?” Rama bertanya dengan nada tinggi, bersemangat.

“Iya dong, kalo nggak percaya, tanya aja Pak Bayu. Sekarang dia jadi supir pribadiku, hahaha.” Jawab Shesa bangga.

“Terus, selain ke Ratu Boko, kamu kemana lagi?”

Shesa mencoba mengingat-ingat, “Hmm, Pasar Beringharjo, Prambanan, Bangun Jiwo, hmm, banyak pokoknya.”

Rama semakin tertarik, tidak menyangka kalau Shesa ternyata mempunyai kisah perjalanan yang sangat menyenangkan.

“By the way, ini mobilku, tadi di belakang sini ada troley. Makanya nggak bisa sampe mundur banget.” Kata Shesa ketus.

Rama terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahaha!”

Ratu Boko

Minggu

Akhirnya selesai sudah acara pesta kembang api. Semua orang membubarkan diri dari ruangan yang menghadap parkiran. Para orang tua yang membawa anaknya pulang, sedangkan para muda mudi melanjutkan pesta di tengah hallway yang mendadak menjadi tempat rave party.

“Yuk, ke parkiran.”

“Ngapain?” Shesa bingung, lupa bahwa dia sudah mengangguk saat ditawari Rama untuk duduk di parkiran.

Rama tesenyum. “Bukannya tadi kamu bingung mau duduk dimana setelah acara selesai?” Rama berkata sambil melihat ke arah kedai kopi tempat dimana mereka berdua duduk, masih ramai.

“Oh, iya. Aku lupa. Ya udah, yuk!” Akhirnya Shesa mengikuti Rama yang selangkah lebih di depan saat berjalan. Sesekali masih ada kembang api yang berkibar di langit.

“Tahun ini pasti aneh. Awal tahunnya jatuh di hari Minggu, hari terakhir.” Kata Shesa, kembali membuka pembicaraan saat menuruni tangga menuju parkiran.

Rama berhenti berjalan dan menoleh, “Siapa bilang Minggu itu hari terakhir?”

“Loh, memang iya, kan?”

Rama mencari BlackBerrynya yang tersimpan di kantung celana jeansnya. Shesa menunggu dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang mulai berjalan mencari mobil mereka untuk keluar dari mall ini.

“Nih, liat.” Rama menunjukan aplikasi kalender yang ada di telepon genggamnya kepada Shesa.

Shesa tau apa maksud Rama dan dia terkejut. “Oh iya! Eh, ini pasti karena kamu udah ubah settingannya.”

Shesa segera mencari BlackBerrynya yang berada di tas tangan yang sejak tadi dia gantungkan di bahu tangan kanannya. “Sebentar, sebentar. Aku mau ngecek juga.” Setelah mendapatkan benda yang dia cari, Shesa segera membuka aplikasi kalender, dan mengubahnya menjadi month view, ternyata hasilnya sama seperti apa yang ditunjukan Rama tadi. Minggu berada di awal, menunjukan bahwa dia adalah hari pertama.

“Gimana?” Rama tersenyum jail.

“Ya ampun, aku baru sadar loh.” Balas Shesa akhirnya sambil kembali memasukan telepon genggamnya ke dalam tas tangan.

“Kita, kan, menggunakan kata minggu untuk merujuk awal pekan yang baru. Karena dia hari pertama. Lagian, satu tahun itu ada 52 minggu, bukan 52 senin, kan?” Jelas Rama sambil melanjutkan perjalanan mencari spot untuk duduk di parkiran.

Shesa mengikuti Rama sambil terus berpikir, “Bener, juga yah.”

“Kadang, kita memang suka nggak sadar sama hal yang sederhana.”

“Iya, padahal aku sering banget kalo lagi ngatur jadwal nulis minggu kesekian, minggu kesekian, dan minggu kesekian. Nggak pernah tuh nulis senin kesekian, atau selasa kesekian.”

Rama tertawa mendengar penjelasan Shesa. “Kamu ngatur jadwal kamu? Memangnya kamu sesibuk apa sampai harus membagi minggu? Hahaha.”

Shesa hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rama. Lagipula Shesa tahu, Rama tidak mengharapkan jawaban darinya. “Tunggu! Terus kenapa Minggu termasuk dalam kategori weekend?” Shesa tersadar ada yang salah dari pembicaraan ini.

Rama terdiam, berpikir. “Aku juga nggak tau. Kamu mau aku buat cerita sok taunya?”

Shesa mengangguk cepat.

***

Masalah terjadi saat Dewa Surya mengambil jatah waktu istrinya, Dewi Chandra, dan membuat siang lebih panjang dari sebelumnya. Seharusnya mereka seimbang membagi waktu tugas, 12 jam setiap harinya.

Dulu, Dewa Surya sudah dapat dilihat setiap pukul 4, dan dia akan menyerahkan tugasnya kepada Dewi Chandra tepat pada pukul 16. Semuanya berjalan dengan baik sampai Kartika, anak Dewa Surya dan Dewi Chandra yang selalu ada diantara jam tugas mereka, tiba-tiba tidak mau menemani ayahnya bertugas.

Kartika lebih suka menemani ibunya bertugas, karena disaat malam tiba, para manusia akan tertidur dan dia bebas memamerkan cahayanya untuk dikagumi para manusia yang masih terbangun, kadang, dia berlarian kesana-kemari. Kalaupun tertangkap oleh mata manusia, Kartika bisa tenang, karena dia akan dianggap sebagai meteor. Ini jelas berbeda saat Kartika menemani ayahnya bertugas, dia tidak bisa memamerkan cahanya seenaknya dan bermain kesana-kemari, karena manusia banyak yang melakukan aktivitas di siang hari.

Dewa Surya marah karena Kartika membangkang, sehingga dia memutuskan untuk menunggu Kartika muncul di waktu yang sudah ditetapkan sebagai waktu tugas Dewi Chandra. Saat itu manusia keheranan karena siang tak kunjung selesai, langit menjadi berwarna merah karena ada dua sumber cahaya.

Dewi Chandra pun sempat khawatir, dengan cepat dia mengadu kepada Dewa Siwa, karena jika ini dibiarkan, keseimbangan Bumi akan hancur. Hingga pukul 19, Dewa Surya masih bisa dilihat oleh manusia. Sampai-sampai manusia berpikir bahwa ini adalah akhir dari dunia.

Karena hal tersebut, Dewa Siwa akhirnya memutuskan untuk melakukan perubahan di Bumi. Kartika dihukum untuk menemani ayahnya, Dewa Surya, selamanya tanpa terlihat oleh mata manusia, sehingga Kartika tidak lagi bisa memamerkan cahayanya. Dan Dewa Surya, karena kesalahannya muncul lebih lama di langit, dihukum dengan bertugas lebih lama, sampai pukul 18.

Sejak saat itu, manusia menamai hari dimana Dewa Surya muncul lebih lama sebagai hari Surya. Karena di hari itu, manusia bisa lebih lama menikmati cahaya, anak-anak lebih lama bermain di luar. Manusia bersenang-senang di hari itu. Keesokan paginya mereka harus sudah siap untuk beraktivitas kembali karena sudah diberikan cahaya yang lebih di hari sebelumnya.

***

“Hahaha!” Shesa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang dikarang habis-habisan oleh Rama. Shesa tidak mengira bahwa Rama ternyata pandai mengacak-acak mitologi, tidak hanya kepada Siren, tapi sampai ke Dewa-Dewi.

“Kok ketawa? Gimana pendapatnya?” Tanya Rama sambil terus memandang Shesa.

“Kamu lucu, Ram.” Kata Shesa disela tawanya. “Kamu sampe nyiptain hari Surya segala. Kita, kan, lagi ngomongin hari Minggu.” Shesa melanjutkan tawanya.

“Kamu lupa hari Minggu itu bahasa inggrisnya apa?”

Shesa terdiam. Dia baru menyadari bila Rama sangat cerdas.

Surya
Chandra

Gemini ♊

“Apa kamu keberatan kalau kita kesana?” Shesa bertanya kepada Rama. Ternyata dia tidak tahan untuk bangun dan melihat kembang api lebih dekat.

Rama menggeleng. “Yuk!”

Akhirnya mereka berdua pun berdiri dan berjalan ke tempat dimana orang-orang berkerumun menyaksikan pesta kembang api. Mereka berdua merelakan tempat duduk mereka diisi oleh orang lain yang sejak tadi berdiri karena kehabisan tempat duduk di semua tempat makan dan minum yang ada di mall itu.

“Eh, nanti kita duduk dimana kalau udah selesai?” Tiba-tiba Shesa menoleh ke arah Rama, di langit berbagai kembang api sedang berkejaran membuat pola yang paling indah.

“Ya nanti aja dipikirinnya. Sekarang liat kembang api dulu.” Jawab Rama santai, tidak melihat ke arah Shesa karena dia sedang asik menyaksikan kembang api.

Shesa mencoba tenang dan menikmati kembang api. Tapi usahanya gagal, berkali-kali dia menoleh ke belakang dan memperhatikan meja dan kursinya yang kini sudah ditempati oleh sepasang suami istri paruh baya.

Rama menjadi merasa tidak nyaman karena melihat Shesa yang gelisah. “Kamu pernah duduk-duduk di parkiran mobil?”

Shesa terkejut mendengar pertanyaan Rama. Dia tidak mengira bahwa Rama sejak tadi memperhatikannya.

“Belum, memangnya kenapa?”

“Ya udah, nanti kita duduk disana aja. Gratis loh.”

Shesa tertawa, dan mendadak kegelisahannya sirna. Dengan santai dia menyaksikan kembang api yang belum juga habis menghiasi angkasa.

“Ram.” Shesa mencubit kecil kemeja Rama dan sedikit menggoyangkannya.

“Kenapa, Sa?”

“Kamu Gemini?”

Rama yang sejak tadi terpukau dengan kembang api mengalihkan perhatiannya ke Shesa. “Kok kamu tahu?”

Shesa tertawa penuh kemenangan. “Ya, kamu santai banget. Keliatan, lah, kalau kamu Gemini.”

Rama tertarik. Sebenarnya dia bukan orang yang sibuk memperhatikan ramalan bintang di suatu majalah mingguan atau membedakan orang melalu zodiaknya. Baginya zodiak hanyalah sebuah tanda, sebuah kepemilikan yang dimiliki siapapun sehingga bisa membanggakan dirinya. Zodiak hanya untuk lucu-lucuan.

“Iya, aku Gemini. Kenapa dengan dia? Eh, atau mereka? Mereka kembar, kan?”

Shesa tersenyum.

***

Mereka berdua bernama Castor dan Pollux. Uniknya, walaupun kembar mereka memiliki ayah yang berbeda. Ayah Castor adalah Tyndareus, seorang Raja Sparta. Sedangkan Pollux berayahkan Zeus, seorang Dewa. Karena ayah Castor adalah manusia, dia tidak bisa hidup abadi seperti Pollux yang berayahkan dewa.

Mereka berdua tinggal di Sparta. Sebagai pangeran, Castor dan Pollux diperlakukan dengan sangat baik oleh rakyatnya. Bersama dengan Clytemnestra dan Helen, kedua adik perempuan mereka yang juga kembar, Castor dan Pollux muda mempelajari semua ilmu yang diberikan kepada guru mereka di istana. Dari mulai astronomi, berkuda, memanah, strategi perang, sampai bermain musik.

Tapi tidak seperti kedua adik perempuannya yang lebih suka melarikan diri saat pelajaran dimulai, Castor dan Pollux menyukai semua bidang pelajaran. Mereka berdua sering kedapatan keluar istana oleh ayah mereka disaat malam untuk sekedar bermain dan mengaplikasikan pelajaran yang mereka dapatkan. Biasanya mereka berdua akan dihukum untuk menghitung jumlah bintang yang sedang terlihat. Dan mereka berdua melakukannya sambil bercanda, sehingga kadang membuat ayah mereka kewalahan. Ibu mereka, Leda, kadang tertawa melihat kelakuan Castor dan Pollux yang selalu tidak mempunyai beban, padahal tahta kerajaan Sparta akan dipikul oleh mereka berdua.

Pada suatu malam, Castor dan Pollux yang sudah merencakan untuk pergi ke kota tetangga, Troya, mendapati seseorang mencuri di salah satu rumah. Mereka berdua dengan semangat mengejar pencuri tersebut. Kebetulan arah yang dituju pencuri adalah Troya, tempat yang semula juga ingin mereka datangi.

Castor dan Pollux tidak tahu bahwa yang mereka datangi adalah bahaya. Mereka menyergap pencuri di tempat yang salah, yaitu di markas gerombolan pencuri itu. Akhirnya Castor tewas disana, sedangkan Pollux yang sudah terluka parah, kembali ke Sparta.

Pollux yang tidak kuat untuk hidup seorang diri meminta kepada ayah kandungnya, Zeus, untuk membagi nyawanya kepada Castor. Zeus pun menyanggupi. Akhirnya keabadian Pollux diangkat, dan bersama Castor dia membentuk rasi bintang Gemini di langit.

Tyndareus yang marah karena kehilangan kedua putranya memilih untuk menyerang kota tetangga, akhirnya pecah apa yang disebut dengan Perang Troya.

***

“Kasian mereka.” Rama berkomentar sambil memperhatikan Shesa yang baru saja selesai bercerita.

“Iya, sedih banget, kan?”

“Terus apa hubungannya sama aku yang santai banget?”

“Ya, Castor sama Pollux adalah tokoh paling nyantai yang aku tau di mitologi. Mereka seru banget kayaknya untuk diajak main.”

“Hahaha!” Rama tertawa dengan keras, membuat orang disekitarnya sempat memalingkan wajah ke arahnya. “Kamu ini ada-ada aja. Masa diajak main?!”

Shesa ikut tertawa, membayangkan dirinya bermain bersama si kembar dari Sparta.

Gemini, The Twins