Kebetulan Ubud

Saya pernah dikeroyok kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan datang bertubi-tubi sampai saya lelah sendiri diserang bahagia. Saya sampai takut, jangan-jangan jatah bahagia saya sudah banyak terpakai.

Sebelum saya menceritakan kebetulan-kebetulan, saya akan merunut kejadian pembukanya seperti ini; Mark Zuckerberg menciptakan Facebook pada tahun 2006 di Inggris. Dua tahun kemudian di sebuah kedai kopi yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, saya mendaftarkan diri sebagai salah satu anggotanya atas bantuan teman saya bernama Randita. Satu tahun kemudian, saya yang sedang bosan mencari sebuah bacaan di dunia maya yang akhirnya membuat saya mendarat di notes milik Fajar Nugros yang sedang membuat cerita bersambung berjudul Adriana. Setiap hari saya menunggui cerita sambungan Adriana, saling bertukar komentar dengan orang-orang yang juga membaca notes tersebut yang akhirnya membuat kami semua secara tidak sengaja memproklamirkan diri sebagai The Hermes (karena dalam cerita Adriana, tokoh utama memberikan sebuah kode yang berujung pertemuan di bawah kaki Dewa Hermes, Museum Fatahillah, Jakarta), semacam kelompok pembaca dan pada akhirnya penulis. Yang tadinya hanya berteman maya, sampai akhirnya saling mengenal wujud satu sama lain. The Hermes menjadi suatu kelompok yang menyenangkan, dari mulai menulis untuk disumbangkan berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia sampai mengisi berbagai acara yang berhubungan dengan sastra. Dua tahun setelah The Hermes lahir, tiba-tiba kelompok ini ditawari untuk membuat buku, siapapun yang memiliki naskah, boleh coba dikirim ke penerbit baru, PlotPoint, penerbit yang digagas oleh Salman Aristo dan istrinya, Gina S. Noer.

Dan rentetan kebetulan yang saya bicarakan di awal, dimulai.

Beberapa bulan kemudian saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah novel saya ke PlotPoint. Gina S. Noer berkata, “Maunya jadi novel populer atau novel sastra? Mau dibaca satu tahun, atau bertahun-tahun kemudian?”

Jelas saya mau yang kedua. Gina menjelaskan kalau naskah novel saya setengah-setengah, belum ketahuan akan jadi apa. Maka saya diminta membaca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer karena saya memilih yang kedua atas pertanyaannya. Sepulang dari kantor PlotPoint, saya menyempatkan diri ke Gramedia dan membeli Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru.

Semalaman di rumah saya membaca, sesekali mengeluarkan komentar di jejaring sosial, Twitter. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba tiga teman saya, Jia, Om Em, dan Emmy tertarik untuk membahas bersama buku Bumi Manusia, sebagian mereka sudah pernah membacanya dan ingin bertukar pikiran tentang karya Pramoedya Ananta Toer yang paling tersohor itu. Maka sebuah klub buku dibentuk, bulan berikutnya kami bertemu dan membahas kejadian-kejadian serta tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia. Menyenangkan, ini baru pertama kalinya saya membicarakan buku sedalam-dalamnya.

Tanpa diduga Ubud Writers & Readers Festival 2012 mengusung tema Bumi Manusia, hanya berjarak kurang dari tiga bulan sejak saya membahasnya dengan ketiga teman saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari-cari tiket ke Bali, menghitung-hitung biaya pulang pergi dan biaya hidup saya selama di sana. Saya mengabari ketiga teman saya untuk ikut serta, sayang Jia dan Om Em memiliki kesibukan, sedangkan Emmy masih belum tahu apakah mendapatkan jatah cuti atau tidak. Pada akhirnya Emmy mengabari bahwa dia tidak dapat ikut, dan memberikan kejutan bahwa dia memiliki voucher yang bisa saya pakai untuk terbang ke Bali. Emmy bahkan meminjamkan kartu kreditnya untuk membeli tiket kepulangan saya. (God bless you, Mmy!)

3 Oktober 2012 sekitar pukul dua siang saya sampai di Bali. Dengan bekal pengalaman-pengalaman sebelumnya di Pulau Dewata, saya santai saja berjalan kaki menuju travel Xtrans yang tidak jauh dari bandara Ngurah Rai, sekitar 10 menit. Ada yang berbeda dari perjalanan saya ke Bali kali ini, karena saya akan menuju Ubud. Tempat yang belum pernah saya kunjungi karena selalu kalah suara saat berlibur bersama teman-teman. Ubud (yang katanya) terlalu tenang memang bukan tempat yang dicari teman-teman saya bila kami berlibur ke Bali. Ini pertama kalinya saya seorang diri pergi ke Bali, saya bebas ke mana saja, termasuk ke Ubud.

Saya berdebar bukan main saat menunggu mobil elf yang akan mengantarkan saya ke Ubud. Hampir satu jam saya menunggu. Dan betapa terkejutnya saya, saya adalah satu-satunya pelanggan yang akan pergi menuju Ubud di mobil travel yang muat untuk sepuluh orang. Dengan membayar 40 ribu rupiah, saya seakan menyewa mobil beserta sopirnya!

Saya tertidur sepanjang perjalanan menuju Ubud. Saya kira perjalanan dari Kuta-Ubud memakan waktu lama, yaa, sekitar jarak Jakarta-Bandung, tapi ternyata saya salah. Kuta-Ubud hanya memakan waktu satu jam, saya dibangunkan oleh sopir ketika memasuki daerah Monkey Forest, dan dia bertanya saya mau diturunkan di mana. Berhubung saya buta akan Ubud saya hanya mengatakan yang banyak penginapannya, maka sopir travel akhirnya memutuskan untuk menurunkan saya di lapanganan terbuka, lapangan yang segala penjuru arahnya adalah penginapan. Saya turun, bingung sekaligus semangat. Saya sampai di Ubud!

Bahagia Tanpa Jeda

Tulisan ini seharusnya dibuat satu tahun yang lalu, namun entah mengapa saya mengurungkan niat menulis pengalaman ini saat itu, saat di mana ingatan saya masih kokoh dan mampu menceritakan tiap kejadian dengan terperinci.

Satu tahun lalu saya pergi ke Jogja dengan tujuan mengikuti prosesi Waisak seperti yang dilakukan oleh Meimei, tokoh dalam film Arisan! 2. Norak? Saya rela bila dianggap demikian, tapi adegan Meimei di film tersebut memang sebegitu menyihir saya. Kemudian ditambah dengan ingatan saya akan lampion yang berarakan di langit dalam film animasi Walt Disney, Tangled. Keinginanan saya untuk merasakan pengalaman menerbangkan dan melihat lampion berlipat ganda. Maka saya memutuskan pergi seorang diri.

Perjalanan saya ke Jogja kala itu mungkin akan menjadi perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan. Dimulai dari bertemunya kembali saya dengan calo tiket yang sama yang menjual tiket kepada saya di tahun sebelumnya. Bertukar cerita dengan Ucok kelahiran Kendari yang tidak punya darah Batak sama sekali di kereta ekonomi Kiaracondong-Kutoarjo. Menemani teman saya, Emmy, mencari penginapan seharga 50ribu per malam (dan hebatnya, dapat!) di dekat losmen saya di pagi hari. Ikut menemani dua teman saya, Om Em dan Jia, yang sedang promo buku kumpulan cerpen Perkara Mengirim Senja. Loncat dari tebing yang tingginya 12 meter (dan teman saya, Mike, melakukan loncat indah!). Sampai sebuah doa yang dikabulkan Tuhan.

Iya, sebuah doa yang dikabulkan Tuhan.

Akan ada saatnya saya menceritakan acara reuni saya dengan calo tiket kereta, bercerita tentang Ucok yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Sumatera Utara, tentang di mana teman saya akhirnya menemukan penginapan seharga 50ribu per malam, tentang promosi buku yang berjalan menyenangkan di Alun-alun Selatan, dan tentang bagaimana rasanya loncat dari ketinggian 12 meter. Akan ada saatnya. Kali ini cukuplah doa yang saya ceritakan.

***

Sejujurnya beberapa minggu sebelum Waisak, saya sedang mengalami rasa yang tidak mengenakan. Masalah pendidikan dan percintaan mendominasi otak dan hati hingga ke titik di mana saya ingin bunuh diri. Berlebihan? Mungkin. Tapi biarlah, merasakan sekali dalam seumur hidup (semoga!) depresi yang begitu hebat mungkin tidak ada salahnya. Toh, sekarang saya bisa dengan bangga menyatakan bahwa saya mampu melewati itu semua.

Apa yang ingin saya lakukan ketika prosesi Waisak sebenarnya sederhana saja. Saya ingin menuliskan doa di lampion yang saya beli dan kemudian akan saya terbangkan sendiri. Hanya itu. Tanpa bermaksud meremehkan kekuatan doa di rumah ibadah, tapi mungkin saya membutuhkan sebuah simbol. Dan melepaskan lampion bertuliskan doa sepertinya simbol paling sederhana namun bisa memberikan rasa lega yang luar biasa.

Saya suka kata melepaskan. Terdengar menenangkan. Terdengar teduh. Terdengar sabar. Terdengar ikhlas. Tapi lucunya, sejak kecil kita tidak pernah diajar untuk melepaskan. Kita hanya diajarkan untuk terus meraih. Ingat ‘Kupegang erat-erat’?

Maka muncul lah sebuah pertanyaan, doa apa yang akan saya tuliskan di lampion? Berhari-hari saya berpikir. Doa ini harus luar biasa, terdengar menggelegar dan mampu membuat orang menggelengkan kepala saking hebatnya. Tapi sampai jam sebelas malam di hari Waisak di pelataran Candi Borobudur, ketika lampion sudah berada di tangan dan spidol yang sejak tadi bersembunyi di saku celana jeans merengek minta digunakan, saya tidak menemukan doa apa pun.

Untunglah saat diperjalanan menuju Jogja, saat Ucok tertidur dan saya tidak memiliki teman berbicara di kereta, dua teman saya menitipkan doanya melalui BBM. Doa teman saya yang pertama, ‘Berikan saya kekuatan untuk kembali melihat cahaya’. Saya kesal sebenarnya, karena ini doa yang luar biasa, doa yang saya rasa pantas untuk saya panjatkan. Sedangkan doa teman saya yang kedua adalah, ‘Bahagia tanpa jeda’. Saya lebih kesal lagi ketika membaca ini. Bagaimana mereka, kedua teman saya, dengan cepat menemukan kalimat yang begitu luar biasa ketika saya menawarkan jasa penitipan doa di lampion? Sedangkan saya yang sudah mencari-cari doa seperti itu berhari-hari, tak kunjung dihampiri.

Akhirnya saya mengalah tengah malam itu. Ketika orang-orang sudah menerbangkan lampionnya, saya sibuk menulis doa kedua teman saya. Om Em, Jia, Emmy, Liony, Mike, dan teman-teman saya yang lain yang seluruhnya berjumlah 12 orang mendadak ingin juga menuliskan doa. Tapi ketika melihat dua doa yang sudah tertulis, mereka batal membubuhkan tulisan lain di sana. Akhirnya kami sepakat bahwa doa ‘Bahagia tanpa jeda’ adalah doa kolektif kami. Orang waras mana yang tidak mau berbahagia secara terus menerus? Doa itu cukup.

Lucunya, lampion yang bertuliskan doa itu sangat lama proses penguapan udaranya, dan ketika berhasil terbang pun, dia naik dengan sangat perlahan. Kami pun bercanda dengan berkata bahwa lampion dengan doa itu keberatan permintaan, keberatan harapan. Tapi akhirnya, dengan susah payah lampion itu terbang, menyusul lampion-lampion yang sudah lebih dulu mencapai angkasa atau mungkin telah mendarat entah di mana.

Saya tidak lagi mampu melihat lampion milik saya. Saya sudah melepaskannya ke angkasa, membiarkannya pergi. Melepaskan dengan harapan. Malam itu hati dan otak saya lega, beban saya seakan terangkat. Saya sudah bisa lagi menertawakan apa pun yang sebenarnya tidak lucu. Masalah pendidikan dan percintaan tentu bukan masalah baru di dunia, saya tidak mungkin menjadi orang pertama yang membuat drama karena dua hal tersebut. Maka saya memutuskan untuk menertawakannya saja. Ribuan lampion masih dapat saya lihat di langit, namun doa saya sudah terkabul. Saya melihat kembali cahaya untuk membuat hidup yang bahagia tanpa jeda.

Dan sekarang, setelah satu tahun saya menuliskan doa di lampion, apakah saya bahagia tanpa jeda?

Saat menuliskan ini saya tersenyum, berharap teman-teman saya yang ada saat pelepasan lampion tersebut mampu menjawab pertanyaan itu serupa dengan saya.

Karena jawaban saya, “Iya, saya bahagia. Tanpa jeda.”

***

Bhavatu Sabba Mangalam/Semoga semua makhluk berbahagia

PS: Om Em, Jia, Emmy, Liony, Mike, Kiki, Dini, Tyas, Kak Bet, dan Anti, kapan kita jalan bareng lagi?