Saat 26

Kubelah Sumatera dari ujung selatannya hingga ke utara. Babat sampai habis dengan tubuh tipis ini, seorang diri. Dari gagahnya Marlborough, cantiknya Ngarai Sianok, mistisnya Danau Toba, hingga Sabang yang tak memiliki lagi tetangga.

Kujalani perbatasan itu, Siem Reap hingga Bangkok, sudah dengan bus maupun kereta, sama debarannya. Selamat atau tidak ke tujuan dengan prasangka baik atau buruk yang berkecamuk sambil disertai berbagai bahasa yang tidak memiliki sejarah dengan bahasa ibuku sebagai pengiring.

Kutelusuri Bali dari kaki hingga kepalanya hanya untuk melihat Rahwana yang bertarung hebat dengan Hanoman, Kumbakarna Laga. Tempat di mana azan beramai-ramai bisa berkumandang tanpa perlu mengalah oleh dentuman musik.

Kujejakan kaki di Timur Jauh, Tokyo yang bising hingga Kyoto yang temaram sunyi. Menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya teman untuk berdiskusi. Sejauh-jauhnya seorang diri, jauh dari rumah.

Kucabik Surakarta hingga ke pecahan terkecilnya untuk menemukan piramida yang tersasar di Jawa. Memikirkan bagaimana bisa, bagaimana mungkin sesudah melihatnya dan kesenangan dengan hasil pemikiran sendiri yang tentu tidak jelas keabsahannya.

Kudatangi satu persatu reruntuhan tempat Patih yang bertahta dan bersumpah di Trowulan, tempat di mana tak jauh Bubat yang tak terelakan itu terjadi. Mengais dan membayangkan kerajaan yang pernah ditakuti di seluruh dunia.

Dan sempat kuhampiri Tuhan di rumah-Nya. Sebaik-baiknya Mekkah, mereka yang pernah ke sana tahu: Madinah selalu di hati.

Depok, 20 Januari 2016

Surat untuk Kelak

Kamu belum mengenalku, namun kupastikan aku akan selalu berada di peringkat keempat sebagai manusia yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Pertama kali aku bertemu mata denganmu, aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagianmu. Ketika aku memelukmu, aku tahu bahwa langit mengabulkan satu permintaanku: manusia yang bisa kucintai hingga aku mati. Hari di mana aku melihatmu memang begitu menakjubkan, kamu boleh tidak percaya, tapi aku seakan mampu mendengar alunan musik pengiring surga. Aku tahu para malaikat saat itu ikut tersenyum dan mulai mendoakan kebahagian kita. Kamu melengkapi hidupku, dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi.

Namun, kamu akan membenciku. Meski sudah kujelaskan semua maksudku, kamu tidak mau mendengarnya. Kamu akan menangis, dan darahku mendidih karena tersulut amarah. Aku akan meneriakimu, memintamu untuk diam dan segera tidur. Setelahnya, aku akan merasa bersalah dan menangis dalam diam, seperti perintahku kepadamu. Suatu hari kelak, aku berharap kamu akan mengerti bahwa semua yang kulakukan saat itu adalah demi kebaikanmu, demi kesenanganmu. Aku akan berusaha semampuku untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kamu bagi kepadaku, dan aku berjanji untuk menepati semua janjiku kepadamu.

Suatu sore kita pergi berdua mengunjungi taman, dekat sebuah pasar di mana aku senang mencari buku-buku tua. Kita duduk di pinggir kolam yang berisi banyak ikan koi sambil makan es krim, makanan yang sebenarnya tidak boleh kamu makan karena kamu sedang flu tapi aku tak tega melihat wajah memelasmu ketika melihat tukang es krim yang lewat. Saat itu kamu bercerita bagaimana kawanmu mampu mengerjakan tugas lebih cepat darimu dan mendapatkan pujian. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa ada saatnya kamu akan bersinar, mungkin tidak hari ini, tapi esok selalu menjanjikan hal baru, kamu hanya perlu berusaha lebih giat dari yang lainnya. Kamu terdiam karena masih kesal mengingat kejadian di mana kawanmu dipuji, namun akhirnya kamu mengangguk dan membuat sumpah bahwa kamu akan selalu berusaha semampumu dalam mengerjakan tugas. Aku tertawa melihatnya, kamu tidak mungkin bisa lebih menggemaskan dari hari itu. Kemudian kita pulang berjalan kaki dan kamu menggenggam tanganku erat sekali.

Mungkin aku bukan yang terbaik, dan di saat kebencianmu kepadaku memuncak, kamu akan menghadirkan imaji sempurna yang mampu menggantikan peranku dalam hidupmu. Di malam ketika kita sudah saling berpamitan dan kamu seharusnya tidur, kamu berdoa kepada Tuhan untuk mendapat pengganti sosokku. Kamu ingin seorang yang lebih lemah lembut, yang bisa memberimu izin bepergian dengan kawanmu hingga larut malam, atau bahkan menginap di sebuah kota yang jauh dari kota kita. Tapi semoga suatu hari kelak kamu akan menyadari bahwa saat kamu berdoa, aku tak mau kalah dengan juga berdoa kepada Tuhan agar aku menjadi lebih baik lagi dalam menjagamu. Kita berdua berlomba dalam doa. Aku tahu bahwa aku sudah memenangkan hati Tuhan karena mengkhawatirkan dirimu tanpa memedulikan sikap yang kamu berikan kepadaku.

Kamu lebih senang menghabiskan waktumu bersama kawan-kawanmu. Kita menjadi jarang  bertemu, jarang berbicara, dan jarang memerhatikan satu sama lain. Setiap kita bertukar pandangan, ada jarak tak kasat mata yang menahanku untuk mencium kedua pipimu atau bahkan sekadar memelukmu. Kamu berubah menjadi gadis paling cantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Sesekali ketika kita keluar bersama untuk menghabiskan malam, kamu lebih senang menatap pesan-pesan yang tertangkap telepon genggamu meski makanan sudah dihidangkan dan kubilang kamu boleh memesan es krim sebanyak-banyaknya. Waktuku tidak begitu banyak tersisa, dan sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama berbicara kepadamu meski kamu sudah tidak tahan untuk duduk dan berbicara kepadaku demi menghabiskan waktu.

Kesibukanmu kian bertambah. Tugas-tugas yang mengharuskanmu menginap entah di tempat kawanmu atau bahkan hotel yang kupesankan membuat kita tak lagi bisa bertatap muka setiap hari. Namun aku memaklumi karena aku tahu bahwa segala yang kamu kerjakan adalah demi masa depanmu, dan aku tidak boleh menghalanginya. Aku ingin kamu menjadi manusia yang berguna bagi sesama, atau setidaknya bagi dirimu sendiri, tidak merepotkan orang lain. Aku selalu memanjatkan doa untuk keselamatanmu, di malam-malam kamu mengerjakan berbagai pekerjaan, aku sibuk meminta malaikat-malaikat mengawasimu.

Lalu pada akhirnya aku tahu ada laki-laki lain yang sedang kau kagumi. Aku merasa cemburu, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kembali berdoa kepada Tuhan agar laki-laki itu memperlakukanmu sama baiknya sepertiku, bahkan lebih. Sampai akhirnya aku harus melepasmu pergi dengan laki-laki itu, aku selalu menganggumu dengan pertanyanyaan-pertanyaan tidak penting perihal kesehatanmu, kegelisahanmu, ketakutanmu, dan hal-hal yang kini sudah malas kau bahas denganku. Di akhir percakapan aku akan merasa bodoh karena kamu sudah memiliki pendamping hidup yang bisa menjadi tempatmu berbagi. Maaf, aku tidak bisa tidak memikirkanmu.

Jika suatu saat kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi ada. Tapi kamu tenang saja. Seperti janjiku, aku akan selalu menjadi manusia keempat yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Kamu hanya perlu meyakini itu, dan aku merasa cukup.

father daughter

Kisah Kekasihku

Kekasihku adalah seorang yang senang berlaku baik. Ia penuh kasih dan gemar membuat sekelilingnya tertawa bersama. Setiap langkah yang kekasihku jejak adalah demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Kekasihku selalu bangun lebih pagi, ia seakan memastikan matahari terbit di tempatnya dan berkata, “Hey, Matahari, berbaik hatilah kepada orang yang kusayangi.” Kekasihku selalu berusaha memenuhi keinginan mereka yang ia sayangi. Merasa kesusahan dan membenci dirinya sendiri ketika tak mampu mewujudkan impian mereka yang ia sayang meski itu bukan kesalahannya. Kekasihku memang begitu, ia tidak tega, ia tidak suka melihat yang lain tidak berdaya. Kekasihku pekerja keras, ia tidak suka berdiam diri di kamar dan tidur sepanjang hari. Ia selalu ingin melakukan sesuatu, membuat dirinya berguna bagi yang lain. Kekasihku memang tidak bisa diam, pikirannya selalu berputar ke mana-mana. Kadang ia memikirkan adiknya, lalu ia memikirkan kawannya, tanpa disadari ia memikirkan pekerjaannya, kemudian ia memikirkan pendidikannya, belum habis, ia memikirkan aku.

Kekasihku selalu peduli. Dan ia berulang tahun hari ini.

Kekasihku mencapai usia duapuluh lima, usia petaka. Usia di mana semua manusia tidak tahu apa yang perlu dilakukan, apa yang perlu ditinggalkan. Namun, aku tahu bahwa kekasihku cukup pintar untuk memilah mana yang terbaik untuknya, untuk masa depannya. Kekasihku senang sekali mengabaikan kondisi tubuhnya, meski lelah, kekasihku tidak mau melewatkan kehidupan yang terjadi, maka ia bepergian, ia mencari kemungkinan, ia melihat peluang, dan membuat sesuatu untuk merayakan kehidupan. Aku suka kesal saat kekasihku mengeluhkan apa yang di luar kuasanya, dan menganggap bahwa apapun yang ia pikirkan harus terjadi. Kekasihku seorang pemikir, namun ia selalu lupa memikirkan dirinya sendiri. Mungkin lain waktu aku harus mengingatkan bahwa ia juga berharga, bahwa ia juga bebas memilih untuk bahagia, untuk mengetahui bahwa ia kadang tak perlu memikirkan apapun selain dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun, selamat menjadi perak, Kekasihku.

Semoga Tuhan selalu berbaik hati kepadamu dan malaikat-Nya senantiasa memanjatkan doa demi keselamatanmu. Mulailah mengerti bahwa hidup selalu menyenangkan, bahwa hidup selalu menawarkan warna yang bisa dicicipi.

Tahu Diri

Ini adalah permintaan maafku karena diam-diam aku pernah berani bermimpi memilikimu.

Mimpi yang terlalu tinggi, tapi memang sebuah gagasan yang menyenangkan membayangkan kamu sebagai kekasihku. Maaf, aku kesulitan menolak berbahagia dengan pikiranku sendiri. Mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku berkata bahwa kita sudah berbagi begitu banyak malam, sudah terlalu banyak cerita, terlau banyak impian, dan terlalu banyak cita-cita yang kita aminkan bersama yang akhirnya membuat aku berani untuk memimpikanmu menjadi kekasihku.

Bukankah cinta datang karena biasa? Dan memang salahku lah membiasakan diri berada di sisimu.

Kini sudah saatnya aku tahu diri bahwa mimpi itu tidak lah mungkin. Memang sepertinya lebih mustahil jika dibandingkan cita-citaku yang ingin menjadi penyair, cita-cita yang selalu kamu tertawai. Aku harus kembali memijak bumi dan menghentikan kesenanganku melukis langit. Demi kebaikanku, dan mungkin kebaikanmu.

Bisa jadi ini adalah caraku untuk undur diri dari kehidupanmu. Ternyata sakit rasanya melihatmu berbahagia. Ternyata hatiku tidak sebesar itu. Ternyata cinta harus memiliki. Karena itu, jangan mencariku lagi, demi apa pun. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk menciptakan malam panjang yang lain bersama orang yang menginginkan aku sebagai kekasihnya. Yang mau menerimaku apa adanya. Yang mau memberikan segalanya bahkan tanpa aku pinta. Persis seperti yang dulu aku lakukan kepadamu.

Aku menyerah. Aku selesai menyiksa diri sendiri.

Usahakanlah untuk berbahagia sendiri tanpa mengajakku. Aku sudah ingin tidak peduli. Bantulah aku untuk berhasil dengan tidak terus hadir di hadapanku. Karena bukan suatu hal yang mudah bagiku untuk melihatmu terus menerus seperti ini. Kita tidak pernah bersama di saat kita bersama-sama. Cukup bagiku untuk mengerti bahwa memang bukan aku yang kamu cari.

Aku tahu diri.

Maka sekali lagi tolong maafkan aku yang pernah berani bermimpi memilikimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah. Berbahagialah.

 

Perahu Kertas

 

PS: tulisan dibuat setelah ‘mabok’ mendengarkan Tahu Diri (OST. Perahu Kertas) yang dinyanyikan ulang oleh Tri Suhariyagi.

Bagaimana Bagaimana

Banyak bagaimana yang aku simpan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang tidak akan pernah aku temukan jawabannya karena itu hanya akan berakhir dengan tanda tanya.

Seperti, bagaimana jika kamu tidak datang sore itu? Apakah akan ada pertemuan lain yang membuat kita berjabat tangan dan saling menyebutkan nama?

Seperti, bagaimana jika kamu menjawab tidak atas pernyataan cintaku? Apakah akan ada kesempatan lain yang membuat kita menjadi sepasang kekasih?

Banyak bagaimana yang aku temukan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang membuat dadaku sesak karena tidak kunjung bermuara ke pusat jawaban.

Seperti, bagaimana jika aku lupa dengan hari ulang tahunmu? Apakah kamu akan memberhentikanku sebagai kekasih saat itu juga?

Seperti, bagaimana jika aku tidak menemanimu hingga kamu tertidur di malam hari setelah kamu menyaksikan film hantu? Apakah kamu akan berkata bahwa aku tidak ada di saat kamu membutuhkan?

Banyak bagaimana yang aku ciptakan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang enggan pergi dari pikiran dan membuatku mengambil peran sebagai orang gila di bumi ini.

Seperti, bagaimana jika aku tidak terlalu lelah hari itu, bagaimana jika aku tidak lupa mengabarimu, bagaimana jika benar jadi aku menjemputmu, dan bagaimana jika tidak ada pengemudi yang mabuk dan menabrakmu hingga mati malam itu.

Bagaimana jika satu dari banyak kejadian-kejadian itu tidak pernah terjadi? Apakah kamu akan tetap berada di sampingku sekarang?