Bila Rindu

Sekali lagi aku rindu.
Wajahmu sulit aku hilangkan dari hati.
Mengapa bayangmu selalu hadir?
Selalu berhasil mengisi kekosongan diri.

Sekali lagi aku rindu.
Suaramu tidak terbantahkan menggema telinga.
Mengapa kamu selalu beresonansi?
Selalu berhasil menyenandungkan cerita.

Bila rindu dinilai menggunakan deret hitung, maka rinduku tidak akan habis terhitung.
Bila rindu dijabarkan dengan deret aksara, maka rinduku tidak akan habis terbaca.

Sekali lagi aku rindu.
Sentuhanmu masih terasa menyengat kulit.
Tapi terasa, bukanlah nyata.
Hadirlah lagi dengan tegas.

Karena bila rindu dipadankan dengan alam semesta, maka rinduku tidak akan habis dipelajari manusia.

Kuta, 30 Juli 2012

Katakan Dengan Rindu

Saya rindu.
Jarak bukan penghalang, dinding tak kasat mata yang membuat kita berseberang.
Walaupun tidak pernah ada kita, saya ingat itu. Yang ada, saya dan kamu membicarakan cinta. Lalu terbawa suasana.

Saya benar-benar rindu.
Kemarin tetesannya masih sederhana, malam ini tidak, dijatuhkannya bertubi-tubi. Rasa kenangan ternyata pahit. Saya kembali diam-diam mendoakan kebahagianmu sebelum tidur.

Rindu saya padamu.
Tidak berani menyapa karena gentar menganggu. Boleh kah saya sombong dengan berharap bahwa kamu berharap saya akan menyapa? Kemudian tawa mengeluh karena candaan saya tak lucu.

Saya sudah rindu.
Langit lupa bagaimana caranya menghadirkan romantis. Yang diperlihatkan hanya gulita yang diam. Saya kelam. Hati berontak untuk keluar dari dada, rela menyerahkan diri kepadamu.

Ambil hati saya.
Dia mengatakan rindu dengan sempurna.

Cinta Paksa

Diketuknya tanah dengan kaki. Pedas rasanya setelah berkali-kali. Bisa bukan karena biasa, tapi karena terpaksa. Bagaimana rasanya memaksakan cinta?

Kalajengking melengking dengan bisanya. Membuat apa yang dipompa jantung tidak lagi sehat untuk dialirkan ke segela penjuru. Ke mana perginya cinta? Kata mereka, dia menawarkan racun. Dusta!

Tidak perlu kesepakatan dari manusia yang lain untuk menilai cinta kita. Tapi ikatan darah punya kuasa. Kita bisa apa? Besok kita mati saja. Bagaimana?

Jangan Lagi Kau Datang

Jangan lagi kau datang tanpa permisi. Aku sudah terlampau lelah mengubur pemakaman cintaku sendiri. Cari dia yang lain untuk kau jemput kematiannya. Untuk pertama, aku yakin dia tidak akan keberatan.

Jangan lagi kau datang tanpa diundang. Pesta hatiku tidak menerima tamu yang berniat menganggu. Hadirlah ke acara hati yang lain untuk kau tertawakan. Untuk permulaan, aku yakin hati itu tahan.

Jangan lagi kau datang tanpa salam. Telingaku sudah kebas mendengar suaramu bahkan sejak dari kejauhan. Bersalam lah untuk yang belum pernah mendengarkan bualanmu. Untuk awal, aku yakin suaramu merdu.

Lagi, jangan lagi kau datang.

Kencan Tanpa Mata

Bukankah malam itu sangat menyenangkan?

Aku ingat bagaimana caramu mengulurkan tangan, menjabat tanganku yang masih sembab karena aku terlalu malas mengeringkannya dengan mesin pengering.

Kau datang terlambat, aku sudah menghabiskan kentang goreng yang kupesan asal-asalan demi memeriahkan meja, memberikan teman kepada es teh manis yang kini juga sudah kandas.

Tidak apa-apa, toh, kau terlihat cantik. Aku tidak keberatan menunggu lebih lama bila waktu menungguku berbanding lurus dengan paras yang kau bawa.

Kita berbicara seadanya, basa-basi perkenalan yang kali ini tidak terdengar basi untuk dikonsumsi oleh telingaku. Aku tertarik, seakan suara yang kau hasilkan adalah gravitasi.

Aku tertawa, kau juga. Tidak terasa es teh manis kedua untukku sudah hilang. Begitupun cokelat panas yang tadi kau pesan. Kencan tanpa mata pertama bagimu, pun bagiku mengalir begitu saja. Dan waktu selalu selangkah lebih maju.

Kau ingat betapa sederhananya malam itu? Sebuah cafe kecil yang pengunjungnya tidak seberapa, dengan tiga pelayan, itu pun bila yang menjaga mesin ekonomi masuk ke dalam hitungan, menjadi tempat kenangan yang tidak bisa diusik dari ingatanku.

Bagian kesukaanku dari malam itu, selain kau tentunya, adalah saat kita membuat skenario untuk diceritakan kepada sahabatku dan sahabatmu. Kita memilih untuk merahasiakan bahwa kita saling tertarik. Agar mereka tidak terlalu semangat, begitu katamu.

Aku tertawa, kau juga. Sampai akhirnya, tibalah waktunya untuk pulang. Kita tidak mau berpisah dulu, masih merasa perlu untuk saling mencari tahu, tapi kita juga tahu, masih banyak waktu. Tidak perlu buru-buru.

Kau keberatan untuk diantar pulang. Merepotkan, begitu alasanmu. Aku tidak memaksa. Akhirnya kita menunggu taksi di depan cafe kecil itu, melanjutkan sedikit kegiatan mencari tahu.

Aku akan mengabarkan sesampainya di rumah, begitu katamu saat masuk ke dalam mobil berwarna biru. Tidak perlu aku mengingatkan, kau sudah menyiapkan kalimatnya.

Sepanjang jalan pulang, kita menyulam kejadian yang baru kita lewati. Mengulang adegan pertama saat bertemu mata, sampai lambaian tangan di pinggir jalan. Tersenyum senang.

Lalu setibanya di rumah, kita kembali melihat hasil sulaman yang tadi kita buat, memeriksanya apakah sudah sempurna sesuai contoh. Bila tidak, kita menambahnya.

“Aku sudah sampai, malam ini menyenangkan, terima kasih.”

Pesan singkat itu begitu sederhana, tidak kekurangan tidak berlebihan, kalimat itu cukup. Dan masih tersimpan di telepon genggamku sampai sekarang.

Kemudian kita bersiap untuk tidur, dan kita akan melewati bagian keempat di kejadian yang sama tanpa berpikir bahwa itu deja vu.

Malam itu begitu menyenangkan, aku tahu kau setuju. Karena kita sudah melewatinya, mengulang kejadiannya, memperbaiki hasil ulangannya, dan akan kembali menikmatinya sebelum tidur.

“Benar, malam ini menyenangkan. Terima kasih, dan selamat tidur.”

Sent.

Delivered.

Bukankah malam itu begitu menyenangkan?