Kaya

Seharusnya semakin larut, semakin sepi. Tapi ini adalah malam pergantian tahun, semua orang memberikan pengecualian kepada malam ini. Guru TK tidak akan lagi menuliskan tahun 2011 di papan tulis besok pagi. Semua telepon genggam yang pengaturannya benar tidak akan berputar di angka 2011 lagi. Bank sudah mencatat pembukuan pemasukan dan pengeluaran yang terjadi di tahun 2011. Sudah tidak bisa diganggu gugat, 2011 sudah lewat.

“Harapan kamu di tahun ini apa?” Rama meneguk minumannya, pandangannya tidak ke arah Shesa. Rama menikmati pemandangan seorang anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob.

Shesa mengikuti arah pandangan Rama dan tersenyum. “Sama seperti tahun lalu, semoga aku kaya.”

Rama langsung menoleh, tidak menyangka jawaban Shesa akan sesederhana itu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Shesa yang mengerti dengan tatapan Rama tertawa. “Hahaha, nggak usah segitunya, Ram.”

“Ya lagian kamu, jawabannya gitu doang.”

“Tuh kan, berarti kaya versi kamu sama versi aku beda. Kamu liat anak kecil itu, kan?”

Rama kembali menoleh ke arah anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob. “Iya, aku liat. Kenapa emangnya?”

“Aku sangat yakin, kaya versi anak kecil itu adalah punya balon gas berbentuk SpongeBob.”

Rama mengangguk, mulai mengerti apa yang dimaksud Shesa dengan kaya. Bukan materi seperti apa yang tadi sempat dia pikirkan. Kata kaya memang tidak sesederhana kelihatannya. Kaya lahir memang perlu, tapi kaya bathin lah yang seseungguhnya kaya. Dan bukan perkara mudah untuk mendapatkan kekayaan bathin.

“Terus, kalo kamu? Harapan kamu tahun ini apa, Ram?”

“Lulus kuliah! Sumpah, akademik ini masalah paling ganggu dalam hidup aku, Sa.”

Shesa tertawa terbahak-bahak.

Tuhan

“Patra baik banget nraktir kita.” Kata Shesa, masih terus meneguk minuman kopinya yang pertama di dunia.

“Kamu kalau tau berapa banyak uang yang ada di mesin kasir itu pasti nggak akan mikir kalau Patra itu baik.” Balas Rama sambil tertawa.

Shesa heran, alisnya terangkat. “Maksud kamu?”

Rama tersenyum sambil mulai membuka plastik Sampoerna Mild, “Saking banyaknya uang di mesin kasir itu, Patra nggak akan ketahuan nyelundupin dua minuman gratis. Kita bukan ditraktir Patra, kita lagi ditraktir Starbucks.”

“Hahaha! Jadi kalau aku mau bilang terima kasih, ke siapa dong?”

“Hmm, ke Tuhan, aja. Atau kalau kamu mau ngirim e-mail ke yang punya Starbucks, ya, silakan.”

Shesa tiba-tiba terdiam. Tuhan?

“Kenapa? Kok diam?” Rama yang menyadari perubahan wajah Shesa, bertanya.

“Kamu percaya Tuhan, Ram?”

Rama tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Shesa, pertanyaan macam apa itu? Kamu atheis?”

“Jadi kamu percaya?” Shesa tetap serius, tidak bisa ikut tertawa dengan Rama kali ini.

“Tuhan yang mana dulu?” Rama tersenyum jahil.

Shesa ikut tersenyum, menyadari bahwa lawan bicaranya pasti seorang yang sangat terbuka sampai berani bertanya ‘yang mana’ sebagai jawaban. “Yang mana aja, Ram.” Jawab Shesa akhirnya.

“Oke, gampang. Aku percaya Tuhan, yang mana pun, karena aku percaya dengan sebab akibat. Kamu tahu, tidak mungkin ada ciptaan tanpa pencipta.”

Shesa mengangguk, setuju. Jawaban itu cukup bagi Shesa, ternyata Rama memilih untuk memahami bahwa apapun yang ada di dunia ini pastilah ada yang menciptakan, tidak hanya ada begitu saja, sama seperti dirinya.

“Terus, kamu percaya adanya surga dan neraka?” Lanjut Shesa.

Rama yang baru saja akan membakar rokoknya kembali tertahan, tangannya kembali turun. Lagi-lagi pertanyaan yang perlu dipikirkan sebelum dijawab. Rama berpikir, menyiapkan jawaban terbaiknya. Sampai akhirnya dia memilih untuk membakar rokoknya terlebih dahulu.

“Gimana, Ram?” Shesa tidak sabar dengan jawaban Rama.

Rama masih berpikir, setelah tiga kali tarikan pada rokoknya, Rama bisa menjawab. “Oke, aku percaya. Aku percaya adanya surga dan neraka.”

“Kenapa?”

“Aku nggak punya gambaran lain setelah mati mau pergi ke mana, kecuali ke surga atau neraka.”

“Reinkarnasi?”

Rama menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Itu menarik, sih. Tapi, apa nggak bosen ngulang kehidupan?”

Giliran Shesa yang tertawa mendengar jawaban Rama. Membuat Rama merasa kesal karena diremehkan jawabannya.

“Aku serius. Paling kalo nanti aku reinkarnasi, akan seperti ini lagi. Ketemu masalah yang sama: lahir, sekolah, kerja, nikah, punya anak, mati.”

Shesa semakin tertawa, “Hahaha! Oke oke, terus kamu mau masuk mana, surga atau neraka?”

“Ya, neraka dong.”

Shesa yang belum selesai tertawa langsung tersentak, diam. Dengan cepat otak Shesa berpikir alasan kenapa Rama memilih neraka dari pada surga. Jawaban yang mengalir cepat tanpa Rama pikirkan sama sekali, tidak seperti pertanyan-pertanyaan sebelumnya, mampu membuat Shesa terkejut. Atau mungkin, ajaran agama Rama memiliki sudut pandang yang berbeda dengan ajaran agama Shesa? Neraka itu surga, surga itu neraka?

“Kenapa, Ram? Kenapa kamu milih neraka?” Tanya Shesa akhirnya.

Rama tersenyum, “Aku anti-mainstream.”

Shesa tertawa terbahak-bahak. Malam belum selesai, masih banyak waktu untuk menanyakan Rama tentang Tuhan.

Kuat

“Loh, kok balik lagi?” Barista Starbucks yang bernama Patra, yang kebetulan teman semasa SMA Rama, menegur dengan senyum tepat di belakang mesin cashier ketika Rama dan Shesa sampai di sana.

“Nggak boleh? Ya udah, gue cabut, nih.” Jawab Rama sambil tertawa.

Patra, yang tahu bahwa itu hanya candaan kasual dari Rama, tidak mengubrisnya, dia tahu bahwa Starbucks satu-satunya tempat yang paling tenang di Cilandak Town Square sekarang, karena hall yang menjadi ciri khas mall di Jakarta Selatan ini berubah menjadi ajang rave party bagi mereka yang -mungkin- tidak bisa membayar masuk ke club.

“So, kamu yang cantik mau pesan apa? Kalo si freak ini gue yakin banget bakalan Espresso Macchiato.” Patra berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rama yang sekarang tertawa terbahak-bahak.

Shesa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Patra, berpikir minuman apa yang tepat untuk menemaninya menghabiskan malam ini. Terlalu banyak tulisan yang tergantung tepat di belakang Patra, semuanya enak terbaca. Sebelumnya, Shesa memasan Chocolate Cream Chip, dan itu satu-satunya minuman yang pernah dia coba di Starbucks. Shesa tidak pernah memesan minuman lain! Baginya, bila sudah menemukan sesuatu yang pas, untuk apalagi mencoba yang lain.

“Chocolate Cream Chip.” Ucap Shesa akhirnya, membuat percakapan Rama dan Patra terhenti.

“Sip! Tunggu sebentar, yah. Oh, by the way, kali ini, on me.” Tanpa menunggu komentar dari Rama ataupun Shesa, Patra dengan segera membuat pesanan kedua temannya itu.

Baik Rama maupun Shesa kini berjalan menuju tempat pengambilan pesanan yang ada di samping sebelah kiri mereka, agar pembeli berikutnya bisa memesan.

“Kenapa pesen itu lagi?”

“Kamu juga mesen minuman yang sama kayak tadi.” Jawab Shesa tersenyum.

“Karena aku memang mau itu, tanpa berpikir.” Balas Rama sambil mengambil BlackBerrynya yang bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Rama membacanya cepat, lalu kembali memasukannya ke kantung celana jeansnya. “Sedangkan kamu tadi berpikir dulu, tidak yakin apa yang kamu mau.”

Shesa terkejut. Semudah itu kah membaca apa yang ada dipikirannya? Bukan kah memilih menu lalu memutuskan itu hal yang biasa? Tapi kenapa Rama begitu yakin bahwa diamku sebelum memutuskan memiliki maksud tersendiri.

“Aku tidak suka dengan pilihan. Pilihan membuat rumit.”

“Berarti kamu nggak suka soal pilihan ganda, yah?”

Baik Rama maupun Shesa tertawa.

“Dan kamu suka menjawab pilihan dengan ‘terserah’ karena bagi kamu semua sama saja.” Lanjut Rama.

Shesa masih juga terdiam, tidak mejawab, tetap mendengarkan. Hanya karena Chocolate Cream Chip pribadinya langsung terbaca oleh Rama. Sial! Rama terlalu pandai membaca gerak tubuh, batin Shesa berteriak. Tapi hanya senyum yang dapat dia tampilkan di depan Rama.

“Mau tukeran minuman nggak?”

Shesa mencari mata Rama, tertarik dengan apa yang ditawarkan. Bertukar minuman? Dan ini akan menjadi kopi pertamanya di dunia. Shesa tidak pernah meminum kopi sebelumnya, bahkan memakan permen Kopiko dia tidak pernah. Tidak tertarik dengan warna pekat pada kopi.

Shesa mengangguk, berdebar menunggu kopinya yang pertama.

“Satu Espresso Machiatto dan satu Chocolate Cream Chip.” Suara Patra membuyarkan lamunan Shesa. Minuman berwarna hitam itu tercium dengan jelas.

Rama nyaris tertawa melihat ekspresi Shesa yang terpukau melihat minuman yang kini menjadi miliknya. Dengan santai Rama mengambil Chocolate Cream Chip-nya, “Yuk!” Ajak Rama kepada Shesa untuk keluar, duduk di smoking area Starbucks.

Sesampainya di tempat duduk, Rama masih tersenyum melihat Shesa yang kebingungan dengan minumannya.

“Kamu tau nggak asal muasal kata Kopi?”

Shesa menggeleng dan melemparkan senyumnya, dia belum juga mencoba Espresso Machiatto.

Kopi itu berasal dari bahasa Arab, qahwah, kemudian mengalami perubahan menjadi kahveh di Turki. Dan akhirnya menjadi koffie di Belanda.”

“Arab? Wow, sekarang aku jadi tau kenapa namanya Arabika.” Komentar Shesa, terpukau dengan penjelasan Rama.

“Iya, bener. Kopi Arabika, kopi terbaik, hahaha.” Jawab Rama sambil menyeruput Chocolate Cream Chip-nya. “Oh iya, aku lupa. Qahwah itu artinya kekuatan dalam bahasa Arab.”

“Kekuatan?”

“Iya, aku juga nggak tau, kenapa kopi dibilang kekuatan. Tapi yang aku tau, kopi itu bisa menurunkan risiko penyakit kanker, jantung, dan diabetes, loh.” Lanjut Rama masih menjelaskan.

“Oke oke, cukup iklannya. Aku cobain, nih. Kamu do’ain dong.”

“Hahaha! Iya iya, silakan.”

Dan akhirnya Shesa menyeruput sedikit cairan yang berada di cangkirnya. Rama menunggu, kali ini dia ikut berdebar.

“Enak!” Kata Shesa akhirnya.

Dan Rama tertawa terbahak-bahak. Shesa ikut tertawa, awal tahun yang menyenangkan, mencicipi kekuatan, dan memiliki kekuatan untuk mencoba hal baru.

Coffee Beans

Enam

Malam semakin tua, jam di tangan kanan Rama sudah menujukan hampir pukul satu dini hari, tapi tentu saja malam tahun baru masih terlalu muda untuk disudahi.

Beberapa orang menuruni tangga, berpapasan dengan Rama dan Shesa yang kini sudah menjajaki anak tangga yang terakhir. Wajah orang-orang itu terlihat bahagia, mungkin ini salah satu malam tahun baru terbaik mereka, pergi bersama orang-orang tersayang sambil sekedar makan dan minum serta menyaksikan pesta kembang api yang berasal dari berbagai sudut kota.

“Eh, aku boleh ke Foodmart dulu? Mau beli rokok.” Kata Rama, teringat bahwa sebungkus rokok yang dia bawa dari rumah telah habis terbakar.

Shesa hanya mengangguk, lalu mengikuti Rama yang berjalan ke arah kanan, tempat dimana Foodmart berada.

“Rokok nggak baik buat kesehatan.” Tiba-tiba Shesa berbicara tanpa menoleh ke arah Rama.

Rama tersenyum. “Iya, soalnya bisa menyebabkan kanker, ya?”

“Itu kamu tau, selain itu, sayang bakar-bakar uang.”

“Kenapa kamu nggak bilang begitu ke mereka yang main kembang api tadi?”

Shesa tertawa, dia sangat tahu kalau perokok selalu mempunyai pembenaran untuk melakukan aktivitas mematikan itu.

Kemudian Rama dan Shesa masuk ke dalam Foodmart, di pintu masuk terdapat banyak sayur-sayuran dan bahan makanan olahan yang tinggal dimasak saja, Shesa tertarik untuk melihat-lihat. Rama menemani.

“Aku selalu suka ngeliat sushi maki, mereka berenam ngumpul, kayak lagi ngegossip.” Shesa berpendat polos saat melihat-lihat di counter sushi.

Rama yang sejak tadi bingung dengan bahan makanan yang dikomentari Shesa tergelak, “Hahaha! Kamu ini lucu, ya? Main sama si kembar gemini lah, sushi ngegossip lah. Hahaha!”

Shesa meninju lengan Rama sambil terus berjalan menuju kasir. “Ah, kamu ini nggak punya daya khayal. Padahal gemini harusnya punya daya khayal yang tinggi.”

Rama sedikit mengaduh, dan menyapu lengan kirinya. “Hmm, mungkin aku gemini murtad.”

Kali ini Shesa yang tertawa mendengar perkataan Rama. “Hahaha! Kamu juga aneh tau.”

Akhirnya setelah Shesa puas melihat-lihat bahan makanan, mereka berdua berjalan ke arah kasir yang hanya menerima sepuluh item belajaan setiap transasksinya, karena hanya disanalah counter kasir yang menjual rokok.

“Angka yang paling kamu suka?” Tiba-tiba Rama bertanya, membuat bahan pembicaraan baru selagi mengantri.

Shesa terdiam, berpikir. Bola matanya berputar, dan dahinya berkerut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Rama yang tiba-tiba.

“Enam, aku suka angka enam!”

“Kenapa? Karena Sushi tadi? Hahaha.”

“Bukan, dong.” Jawab Sesha sambil memukul kecil bahu Rama dengan belakang telapak tangannya.

“Terus, kenapa memilih enam?”

Shesa tersenyum, Sesha tidak langsung menjawab karena kini tiba bagi Rama untuk membayar rokoknya di cashier.

“Sampoerna Mild nya, Mbak. Dua.” Ucap Rama cepat sambil mengeluarkan dompetnya yg sejak tadi tersimpan di kantung belakang sebelah kanan jeansnya.

“Semuanya dua puluh dua ribu, Mas.”

Rama meraih selembar uang bergambar Otto Iskandar Dinata dan selembar uang bergambar Pangeran Antasari dan menyerahkannya. Tidak perlu menunggu kembalian.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama, Mbak. Selamat tahun baru, by the way.”

“Eh, iya, Mas. Selamat tahun baru juga.”

Setelah beberapa langkah Shesa tidak tahan untuk berkomentar. “Kamu ngucapin selamat tahun baru ke petugas cashier? So sweet banget.”

“Hahaha! Ya nggak apa-apa, kan? Kasian tau, lagi tahun baru begini dia kerja.”

“Iya, juga, yah. Apa perlu kita ajak ngobrol-ngobrol di Starbucks?”

“Ya, nggak perlu seramah itu juga kali.”

Tanpa dikomando, baik Rama dan Shesa tertawa, kali ini mereka tinggal berjalan lurus untuk mencapai kedai kopi internasional, Starbucks.

“Oh, iya. Kenapa enam?” Rama mendadak ingat pertanyaannya yang belum dijawab oleh Shesa.

“Karena enam batas yang sempurna, Ram.”

Giliran Rama yang mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti. Shesa tersenyum, tahu bila kalimatnya tidak dimengerti oleh Rama.

“Oke, gampangnya begini. Kalau kamu dapat nilai enam di, hmm, ulangan matematika. Kamu nggak remedial, tapi kamu punya motivasi untuk dapat lebih dari sekedar enam di ulangan berikutnya. Kamu nggak bisa sombong, karena masih ada nilai tujuh sampai sepuluh. Kamu dibuat bersyukur karena ada yang bernilai nol sampai lima.”

Rama terdiam, Shesa selesai berbicara. Mereka sudah sampai di depan pintu Starbucks.

“Mendadak, aku suka angka enam, nih.”

Shesa tertawa sambil membuka pintu Starbucks.

Sushi: California Roll

Mahadewi

“Lagian kenapa nggak kamu pindahin dulu troleynya?” Rama masih juga tertawa, tidak menyangka bila mobil yang terparkir sembarangan yang tepat berada di hadapannya ternyata mobil Shesa.

Shesa mengulum bibirnya, “Ya tadi ribet banget. Aku sendirian, masa aku turun dulu terus ngegeser troleynya, masuk mobil lagi?”

Rama tidak bisa berhenti tertawa membanyangkan kesulitan Shesa saat memarkir tadi.

I will never know, cause you will never show. C’mon you love me now, c’mon you love me now.

Shesa yang sedang sebal kepada Rama, yang tidak bisa berhenti menertawai dirinya, terkejut dengan ringtone yang berbunyi. Dengan cepat dia kembali mencari BlackBerrynya di tas tangan yang sejak tadi dipangku olehnya.

“Aduh, Nyokap.” Kata Shesa melihat layar BlackBerrynya. “Sebentar yah, Ram.”

Rama hanya mengangguk, sambil mencoba untuk berhenti tertawa.

“Halo Ma. Iya, ini aku di Citos. Ya ampun, ini malam tahun baru, aku sama temen-temen aku. Iya iya, sebelum Subuh aku udah nyampe rumah, kok.” Shesa kesal, umurnya sudah dua puluh dua, tapi masih saja diperlakukan seperti laiknya anak umur sepuluh tahun.

Akhirnya sambungan telepon itu putus setelah Shesa sedikit berteriak kepada ibunya untuk tidak perlu mengkawatirkannya karena sekarang dia berada di tempat yang aman.

“Nyokap nyariin?” Tanya Rama setelah Shesa meletakan kembali BlackBerrynya ke dalam tas.

Shesa mengangguk. Ini kekesalannya yang pertama di tahun 2012, dan Shesa tidak menyangka kekesalan pertama berasal dari ibunya.

“Enak ya, kamu masih punya ibu.” Kata Rama lirih.

Kalimat itu berdampak besar untuk Shesa, dia menoleh ke arah Rama, mencari mata Rama. Namun Rama hanya menunduk, seakan disanalah lawan bicaranya berada.

“Eh, sorry Ram. Aku nggak bermak.. ”

“Loh, santai, Sa. Aku biasa aja kok.” Jawab Rama cepat, memotong kalimat Shesa.

Shesa merasa tidak nyaman, bingung bagaimana harus bertindak. Shesa berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan keadaan seperti semula, penuh tawa dan keterkejutan. Shesa mengharapkan Rama kembali melemparkan topik pembicaraan, tapi hampir satu menit berlalu, Rama masih juga tidak menatapnya.

“Kapan?” Akhirnya Shesa menyerah, dia berpendapat mungkin Rama mau membahasnya. Sehingga Shesa berani untuk menanyakan itu.

Rama menoleh, menatap Shesa yang kini berharap cemas dengan jawaban yang diberikan olehnya. Rama tersenyum.

“Tepat di hari ulang tahun aku. Beliau meninggal waktu melahirkan aku, Sa.”

Pukulan kedua bagi Shesa, karena dia tidak menyangka akan begini ceritanya, bahwa Rama berarti tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Rama tidak tahu rasanya dikhawatirkan oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibuatkan masakan favorit oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibacakan cerita oleh seorang ibu sebelum tidur, tidak seperti Shesa yang merasakan itu semua, bahkan sampai dia kesal sendiri.

“Ibuku jago masak loh, kata ayah. Ibuku juga pintar kata kakakku yang pertama, beliau selalu menemaninya membuar PR. Dan ibuku luar biasa cantik kata kakakku yang kedua.” Lanjut Rama, masih dengan tersenyum.

Shesa tidak bisa menjawab apa-apa, dia membiarkan Rama bercerita tentang ibunya yang dia dengar dari orang lain. Rama tidak mempunyai kenangan apapun dengan ibunya, dan itu berhasil membuat Shesa merasa sedih.

“Kata nenek, ibuku anak yang baik. Tapi, ya, mungkin karena nenek orang tuanya, ya? Hahaha.”

Shesa tersenyum.

“Aduh, aku jadi sensitif begini. Malu ah!” Rama tertawa terbahak-bahak, matanya sudah berkaca-kaca.

“Cowok yang sayang sama ibunya itu, punya tempat tersendiri di hati para perempuan loh.” Timpal Shesa sambil tersenyum.

Tawa rama semakin meledak, dan dia tidak tahu apakah air mata yang jatuh adalah air mata kesedihan atau air mata karena tawa yang melebihi dosisnya. Dia biarkan saja dua air mata itu bertemu menjadi satu. Dileburkan.

“Ibuku namanya Dewi, tapi aku tahu kalau beliau lebih cocok menjadi Mahadewi.” Lanjut Rama sambil menyapu air matanya. “Semua ibu di dunia itu Mahadewi, setara dengan Durga, Parwati, Kali, Lakshmi, dan Saraswati.”

“Aku cuma tau Mahadewi lagunya Padi, Ram.”

Setelah mengucapkan itu, Shesa terdiam. Rama juga terdiam mendengar perkataan Shesa. Tidak berapa lama kemudian, mereka berdua tertawa bersama-sama. Sadar bahwa perkataan Shesa sangat jauh keluar dari topik.

“Lain kali, aku ceritain tentang kelima dewi itu, deh. Kamu mau denger?”

“Mau banget!” Jawab Shesa cepat, bersemangat.

Mereka berdua saling melempar senyum.

“Mau ke Starbucks lagi, nggak? Mungkin udah sepi disana. Disini mulai banyak nyamuk.” Kata Shesa akhirnya.

“Ayo.”

Akhirnya mereka berdua berdiri dari trotoar yang sejak tadi difungsikan sebagai tempat duduk, tepat di belakang mobil Shesa yang terparkir. Selama perjalanan menuju Starbucks, Rama tidak menyadari kalau Shesa sibuk dengan BlackBerrynya. Shesa tertinggal beberapa langkah dari Rama.

“Ma, maaf yah. Tadi aku kasar sama Mama. Aku tau Mama khawatir sama aku. Terima kasih ya, Ma. Nanti aku kabarin lagi. Selamat tahun baru, Ma. :)”

D

R

Tidak berapa lama suara PING! nyaring terdengar, membuat Rama yang sejak tadi menatap lurus ke depan tanpa mempeduliakn Shesa yang jalannya melambat karena menatap layar BlackBerrynya, menoleh.

“Iya sayang, nggak apa-apa. Mama juga yang nggak tau situasi untuk khawatir. Kamu kan sudah besar, bisa menjaga diri sendiri, dan ini malam tahun baru. Hati-hati yah, nak. Selamat tahun baru juga.”

Shesa tersenyum di depan layar, ketika wajahnya diangkat untuk mencari Rama, Rama sudah memandangnya dengan bingung.

“Kenapa Sa?”

“Nggak apa-apa.” Jawab Shesa dengan senyuman sambil memasukan BlackBerrynya ke dalam tas.

Kemudian Shesa berjalan menyusul Rama yang sudah ada tiga langkah di depannya. Setalah mereka bersebelahan, perjalanan pun dilanjutkan.

“Terima kasih yah, Ram.” Kata Shesa ketika mereka berdua sudah berada di tangga menuju ruangan kosong yang tadi dipenuhi oleh orang-orang untuk menonton pesta kembang api.

“Buat?”

“Ngenalin aku ke Mahadewi.”

Rama menoleh bingung, namun Rama memilih untuk tidak bertanya. “Sama-sama, Shesa.”

Durga
Parvati
Kali