Yogyakarta

“Sunday!”

Rama tertawa mendengar Shesa sedikit berteriak. “Iya, hari matahari.”

Akhirnya Rama berhenti berjalan, tepat di belakang sebuah mobil yang terparkir sembarangan, mobil itu tidak menyentuh besi belakang yang menandai batas parkir, sehingga memberikan ruang kosong antara mobil dan trotoar.

“Duduk sini aja.” Kata Rama sambil menoleh ke arah Shesa yang masih tersenyum.

“Oke.” Shesa dengan santai mengikuti Rama yang telah lebih dulu duduk di trotoar, menghadap ke arah mobil yang diparkir sembarangan oleh pemilikinya.

Baru 10 menit sejak kalender masehi resmi berganti menjadi 2012, tapi Shesa tau bahwa tahun ini adalah tahun miliknya, dia mengawali tahun baru dengan menyenangkan, bersama Rama.

“Yang markir bego. Padahal batas besinya masih jauh banget, kan kasian jatah jalan di depannya jadi berkurang.” Tiba-tiba Rama berkomentar, membuat Shesa yang sejak tadi mencari posisi nyaman untuk duduk, tertawa.

“Hahaha, kamu seenaknya aja ngatain orang bego. Belum tentu kamu tau tadi kondisinya kayak apa. Siapa tau tadi hectic banget, mobil parkir pararel, dan pemilik mobil ini kesusahan.”

Rama ikut tertawa, benar apa yang dikatakan Shesa, dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kadang kita memang dengan mudahnya membuat suatu pernyataan tanpa tahu masalah yang sebenarnya. Seperti saat ini, Rama tidak tahu alasan pemilik mobil memarkir mobilnya dengan tidak sempurna, lalu dia dengan mudahnya mengatai pemilik mobil.

“Alah, kamu juga kalo markir mobil, sembarangan, kan?” Rama memilih untuk menjahili Shesa.

Shesa yang sedang menikmati tawanya seketika terdiam. Lalu dengan cepat dia memukul kecil bahu Rama. “Ih, ngeselin banget kamu.”

Kali ini gantian Rama yang tertawa terbahak-bahak melihat Shesa merajuk.

“Kemana perjalanan menggunakan mobil kamu yang paling  jauh?” Tanya Rama setelah mampu mengontrol tawanya.

“Hmm, Bandung.” Jawab Shesa cepat tanpa berpikir, tapi kemudian dia langsung tersenyum, menyadari kesalahan jawaban yang dia berikan kepada Rama. “Bukan bukan, yang paling jauh itu Jogja. Tahun lalu, eh, dua tahun yang lalu!”

“Wah, kamu ke Jogja pake mobil? Seru?”

Shesa tersenyum, dia hampir saja melupakan perjalanan paling menyenangkan yang pernah dia lakukan. Seorang diri.

***

Waktu itu aku sedang mempunyai masalah .. baiklah baiklah, masalah percintaan. Sebenarnya sederhana saja, aku mendapati pacarku berselingkuh. Klise? Memang seklise itu. Lalu dengan bodoh aku mengatur sebuah perjalanan, perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku ke Jogja!

Aku menyewa sebuah mobil dan supir dari Jakarta. Orang tuaku tidak tahu aku pergi ke Jogja seorang diri, kalau mereka tahu, pasti mereka sudah melarangku. Aku berkata kepada orang tuaku kalau aku sedang melakukan penelitian di sebuah desa di Bandung untuk tugas kuliah bersama teman-temanku, dan aku akan menginap di rumah teman kuliahku yang mempunyai rumah di Bandung. Mereka percaya!

Selama perjalan, aku lebih sering berdiam diri, atau memandang keluar jendela sambil menangis. Tapi karena aku malu dengan Pak Bayu, supir berumur empat puluh tahunan yang aku sewa, tangisku tidak bersuara. Sampai akhirnya Pak Bayu menyadari bahwa aku sedang menangis, kemudian dia bilang bahwa dia mau mendengarkan musik dari telepon genggamnya menggunakan headset dengan volume paling kencang.

Aku tersenyum, hampir tertawa bahkan, Pak Bayu sangat pengertian. Akhirnya, setelah aku bisa mendengar lagu dangdut yang berasal dari headset di telinga Pak Bayu, aku menangis sejadi-jadinya. Selesai menangis, aku tertidur, lalu terbangun di daerah yang tidak aku ketahui. Karena aku kelaparan, akhirnya mobilku berhenti di sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Selama makan, aku curhat tentang masalah percintaanku kepada Pak Bayu, dia hanya tertawa saja mendengar ceritaku. Mungkin bagi dia kisahku itu konyol, aku masih terlalu muda untuk mendramatisir kisah cinta. Pengalamanku masih cetek sampai menganggap cinta itu hanya kasih kepada seorang laki-laki.

Saat kembali melanjutkan perjalanan, aku kembali menangis, kali ini Pak Bayu tidak menggunakan headsetnya. Dia dengan sabar membuka telinganya, mendengar aku menangis. Kemudian aku kembali tertidur.

Saat aku terbangun, aku bingung, Pak Bayu tidak lagi ada di belakang kemudi. Mobil sudah terpakir di sebuah tempat yang aneh, sebuah bukit. Saat itu pukul 5, matahari baru sedikit terlihat di timur. Pak Bayu yang sedang berbicara dengan satpam sambil merokok melihatku turun dari mobil. Dia menghampiriku sambil tersenyum dan berkata bahwa kami sudah sampai di Jogja, tapi dia tidak mau membangunkan aku, sehingga dia mengambil inisiatif untuk membawaku ke salah satu tempat yang tinggi di Jogja untuk melihat matahari terbit.

Aku tersenyum, Pak Bayu sangat baik. Dia mengajaku untuk berjalan, udara pagi Jogja membuatku harus mengambil jaket terlebih dahulu di dalam mobil. Dari penglihatanku, tempat ini adalah tempat pariwisata, ada sebuah petunjuk berbentuk tiang yang membuat pemikiranku benar.

Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku melihat sebuah candi! Dan candi itu berbentuk gerbang, tidak seperti candi-candi yang pernah aku lihat sebelumnya. Sinar matahari yang belum perkasa menimpa candi dan membuat pemandangan paling spektakuler yang pernah aku lihat. Ini terlalu indah untuk mataku!

Pak Bayu sadar akan keterkejutanku, dia hanya tersenyum sambil berkata bahwa aku harus melupakan mantan pacarku dan memulai mencari cinta yang baru, karena aku sudah melihat matahari terbit di gerbang candi Ratu Boko, Yogyakarta.

Aku tidak bertanya, aku tidak menjawab, aku tahu maksud Pak Bayu. Matahari terbit dan gerbang? Aku cukup pintar untuk tahu bahwa itu adalah analogi untuk sebuah kata: Awal. Air mataku mengalir, bukan, aku bukan sedih, aku bahagia.

***

“Wow! Ini kisah nyata?” Rama bertanya dengan nada tinggi, bersemangat.

“Iya dong, kalo nggak percaya, tanya aja Pak Bayu. Sekarang dia jadi supir pribadiku, hahaha.” Jawab Shesa bangga.

“Terus, selain ke Ratu Boko, kamu kemana lagi?”

Shesa mencoba mengingat-ingat, “Hmm, Pasar Beringharjo, Prambanan, Bangun Jiwo, hmm, banyak pokoknya.”

Rama semakin tertarik, tidak menyangka kalau Shesa ternyata mempunyai kisah perjalanan yang sangat menyenangkan.

“By the way, ini mobilku, tadi di belakang sini ada troley. Makanya nggak bisa sampe mundur banget.” Kata Shesa ketus.

Rama terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahaha!”

Ratu Boko

Minggu

Akhirnya selesai sudah acara pesta kembang api. Semua orang membubarkan diri dari ruangan yang menghadap parkiran. Para orang tua yang membawa anaknya pulang, sedangkan para muda mudi melanjutkan pesta di tengah hallway yang mendadak menjadi tempat rave party.

“Yuk, ke parkiran.”

“Ngapain?” Shesa bingung, lupa bahwa dia sudah mengangguk saat ditawari Rama untuk duduk di parkiran.

Rama tesenyum. “Bukannya tadi kamu bingung mau duduk dimana setelah acara selesai?” Rama berkata sambil melihat ke arah kedai kopi tempat dimana mereka berdua duduk, masih ramai.

“Oh, iya. Aku lupa. Ya udah, yuk!” Akhirnya Shesa mengikuti Rama yang selangkah lebih di depan saat berjalan. Sesekali masih ada kembang api yang berkibar di langit.

“Tahun ini pasti aneh. Awal tahunnya jatuh di hari Minggu, hari terakhir.” Kata Shesa, kembali membuka pembicaraan saat menuruni tangga menuju parkiran.

Rama berhenti berjalan dan menoleh, “Siapa bilang Minggu itu hari terakhir?”

“Loh, memang iya, kan?”

Rama mencari BlackBerrynya yang tersimpan di kantung celana jeansnya. Shesa menunggu dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang mulai berjalan mencari mobil mereka untuk keluar dari mall ini.

“Nih, liat.” Rama menunjukan aplikasi kalender yang ada di telepon genggamnya kepada Shesa.

Shesa tau apa maksud Rama dan dia terkejut. “Oh iya! Eh, ini pasti karena kamu udah ubah settingannya.”

Shesa segera mencari BlackBerrynya yang berada di tas tangan yang sejak tadi dia gantungkan di bahu tangan kanannya. “Sebentar, sebentar. Aku mau ngecek juga.” Setelah mendapatkan benda yang dia cari, Shesa segera membuka aplikasi kalender, dan mengubahnya menjadi month view, ternyata hasilnya sama seperti apa yang ditunjukan Rama tadi. Minggu berada di awal, menunjukan bahwa dia adalah hari pertama.

“Gimana?” Rama tersenyum jail.

“Ya ampun, aku baru sadar loh.” Balas Shesa akhirnya sambil kembali memasukan telepon genggamnya ke dalam tas tangan.

“Kita, kan, menggunakan kata minggu untuk merujuk awal pekan yang baru. Karena dia hari pertama. Lagian, satu tahun itu ada 52 minggu, bukan 52 senin, kan?” Jelas Rama sambil melanjutkan perjalanan mencari spot untuk duduk di parkiran.

Shesa mengikuti Rama sambil terus berpikir, “Bener, juga yah.”

“Kadang, kita memang suka nggak sadar sama hal yang sederhana.”

“Iya, padahal aku sering banget kalo lagi ngatur jadwal nulis minggu kesekian, minggu kesekian, dan minggu kesekian. Nggak pernah tuh nulis senin kesekian, atau selasa kesekian.”

Rama tertawa mendengar penjelasan Shesa. “Kamu ngatur jadwal kamu? Memangnya kamu sesibuk apa sampai harus membagi minggu? Hahaha.”

Shesa hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rama. Lagipula Shesa tahu, Rama tidak mengharapkan jawaban darinya. “Tunggu! Terus kenapa Minggu termasuk dalam kategori weekend?” Shesa tersadar ada yang salah dari pembicaraan ini.

Rama terdiam, berpikir. “Aku juga nggak tau. Kamu mau aku buat cerita sok taunya?”

Shesa mengangguk cepat.

***

Masalah terjadi saat Dewa Surya mengambil jatah waktu istrinya, Dewi Chandra, dan membuat siang lebih panjang dari sebelumnya. Seharusnya mereka seimbang membagi waktu tugas, 12 jam setiap harinya.

Dulu, Dewa Surya sudah dapat dilihat setiap pukul 4, dan dia akan menyerahkan tugasnya kepada Dewi Chandra tepat pada pukul 16. Semuanya berjalan dengan baik sampai Kartika, anak Dewa Surya dan Dewi Chandra yang selalu ada diantara jam tugas mereka, tiba-tiba tidak mau menemani ayahnya bertugas.

Kartika lebih suka menemani ibunya bertugas, karena disaat malam tiba, para manusia akan tertidur dan dia bebas memamerkan cahayanya untuk dikagumi para manusia yang masih terbangun, kadang, dia berlarian kesana-kemari. Kalaupun tertangkap oleh mata manusia, Kartika bisa tenang, karena dia akan dianggap sebagai meteor. Ini jelas berbeda saat Kartika menemani ayahnya bertugas, dia tidak bisa memamerkan cahanya seenaknya dan bermain kesana-kemari, karena manusia banyak yang melakukan aktivitas di siang hari.

Dewa Surya marah karena Kartika membangkang, sehingga dia memutuskan untuk menunggu Kartika muncul di waktu yang sudah ditetapkan sebagai waktu tugas Dewi Chandra. Saat itu manusia keheranan karena siang tak kunjung selesai, langit menjadi berwarna merah karena ada dua sumber cahaya.

Dewi Chandra pun sempat khawatir, dengan cepat dia mengadu kepada Dewa Siwa, karena jika ini dibiarkan, keseimbangan Bumi akan hancur. Hingga pukul 19, Dewa Surya masih bisa dilihat oleh manusia. Sampai-sampai manusia berpikir bahwa ini adalah akhir dari dunia.

Karena hal tersebut, Dewa Siwa akhirnya memutuskan untuk melakukan perubahan di Bumi. Kartika dihukum untuk menemani ayahnya, Dewa Surya, selamanya tanpa terlihat oleh mata manusia, sehingga Kartika tidak lagi bisa memamerkan cahayanya. Dan Dewa Surya, karena kesalahannya muncul lebih lama di langit, dihukum dengan bertugas lebih lama, sampai pukul 18.

Sejak saat itu, manusia menamai hari dimana Dewa Surya muncul lebih lama sebagai hari Surya. Karena di hari itu, manusia bisa lebih lama menikmati cahaya, anak-anak lebih lama bermain di luar. Manusia bersenang-senang di hari itu. Keesokan paginya mereka harus sudah siap untuk beraktivitas kembali karena sudah diberikan cahaya yang lebih di hari sebelumnya.

***

“Hahaha!” Shesa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang dikarang habis-habisan oleh Rama. Shesa tidak mengira bahwa Rama ternyata pandai mengacak-acak mitologi, tidak hanya kepada Siren, tapi sampai ke Dewa-Dewi.

“Kok ketawa? Gimana pendapatnya?” Tanya Rama sambil terus memandang Shesa.

“Kamu lucu, Ram.” Kata Shesa disela tawanya. “Kamu sampe nyiptain hari Surya segala. Kita, kan, lagi ngomongin hari Minggu.” Shesa melanjutkan tawanya.

“Kamu lupa hari Minggu itu bahasa inggrisnya apa?”

Shesa terdiam. Dia baru menyadari bila Rama sangat cerdas.

Surya
Chandra

Gemini ♊

“Apa kamu keberatan kalau kita kesana?” Shesa bertanya kepada Rama. Ternyata dia tidak tahan untuk bangun dan melihat kembang api lebih dekat.

Rama menggeleng. “Yuk!”

Akhirnya mereka berdua pun berdiri dan berjalan ke tempat dimana orang-orang berkerumun menyaksikan pesta kembang api. Mereka berdua merelakan tempat duduk mereka diisi oleh orang lain yang sejak tadi berdiri karena kehabisan tempat duduk di semua tempat makan dan minum yang ada di mall itu.

“Eh, nanti kita duduk dimana kalau udah selesai?” Tiba-tiba Shesa menoleh ke arah Rama, di langit berbagai kembang api sedang berkejaran membuat pola yang paling indah.

“Ya nanti aja dipikirinnya. Sekarang liat kembang api dulu.” Jawab Rama santai, tidak melihat ke arah Shesa karena dia sedang asik menyaksikan kembang api.

Shesa mencoba tenang dan menikmati kembang api. Tapi usahanya gagal, berkali-kali dia menoleh ke belakang dan memperhatikan meja dan kursinya yang kini sudah ditempati oleh sepasang suami istri paruh baya.

Rama menjadi merasa tidak nyaman karena melihat Shesa yang gelisah. “Kamu pernah duduk-duduk di parkiran mobil?”

Shesa terkejut mendengar pertanyaan Rama. Dia tidak mengira bahwa Rama sejak tadi memperhatikannya.

“Belum, memangnya kenapa?”

“Ya udah, nanti kita duduk disana aja. Gratis loh.”

Shesa tertawa, dan mendadak kegelisahannya sirna. Dengan santai dia menyaksikan kembang api yang belum juga habis menghiasi angkasa.

“Ram.” Shesa mencubit kecil kemeja Rama dan sedikit menggoyangkannya.

“Kenapa, Sa?”

“Kamu Gemini?”

Rama yang sejak tadi terpukau dengan kembang api mengalihkan perhatiannya ke Shesa. “Kok kamu tahu?”

Shesa tertawa penuh kemenangan. “Ya, kamu santai banget. Keliatan, lah, kalau kamu Gemini.”

Rama tertarik. Sebenarnya dia bukan orang yang sibuk memperhatikan ramalan bintang di suatu majalah mingguan atau membedakan orang melalu zodiaknya. Baginya zodiak hanyalah sebuah tanda, sebuah kepemilikan yang dimiliki siapapun sehingga bisa membanggakan dirinya. Zodiak hanya untuk lucu-lucuan.

“Iya, aku Gemini. Kenapa dengan dia? Eh, atau mereka? Mereka kembar, kan?”

Shesa tersenyum.

***

Mereka berdua bernama Castor dan Pollux. Uniknya, walaupun kembar mereka memiliki ayah yang berbeda. Ayah Castor adalah Tyndareus, seorang Raja Sparta. Sedangkan Pollux berayahkan Zeus, seorang Dewa. Karena ayah Castor adalah manusia, dia tidak bisa hidup abadi seperti Pollux yang berayahkan dewa.

Mereka berdua tinggal di Sparta. Sebagai pangeran, Castor dan Pollux diperlakukan dengan sangat baik oleh rakyatnya. Bersama dengan Clytemnestra dan Helen, kedua adik perempuan mereka yang juga kembar, Castor dan Pollux muda mempelajari semua ilmu yang diberikan kepada guru mereka di istana. Dari mulai astronomi, berkuda, memanah, strategi perang, sampai bermain musik.

Tapi tidak seperti kedua adik perempuannya yang lebih suka melarikan diri saat pelajaran dimulai, Castor dan Pollux menyukai semua bidang pelajaran. Mereka berdua sering kedapatan keluar istana oleh ayah mereka disaat malam untuk sekedar bermain dan mengaplikasikan pelajaran yang mereka dapatkan. Biasanya mereka berdua akan dihukum untuk menghitung jumlah bintang yang sedang terlihat. Dan mereka berdua melakukannya sambil bercanda, sehingga kadang membuat ayah mereka kewalahan. Ibu mereka, Leda, kadang tertawa melihat kelakuan Castor dan Pollux yang selalu tidak mempunyai beban, padahal tahta kerajaan Sparta akan dipikul oleh mereka berdua.

Pada suatu malam, Castor dan Pollux yang sudah merencakan untuk pergi ke kota tetangga, Troya, mendapati seseorang mencuri di salah satu rumah. Mereka berdua dengan semangat mengejar pencuri tersebut. Kebetulan arah yang dituju pencuri adalah Troya, tempat yang semula juga ingin mereka datangi.

Castor dan Pollux tidak tahu bahwa yang mereka datangi adalah bahaya. Mereka menyergap pencuri di tempat yang salah, yaitu di markas gerombolan pencuri itu. Akhirnya Castor tewas disana, sedangkan Pollux yang sudah terluka parah, kembali ke Sparta.

Pollux yang tidak kuat untuk hidup seorang diri meminta kepada ayah kandungnya, Zeus, untuk membagi nyawanya kepada Castor. Zeus pun menyanggupi. Akhirnya keabadian Pollux diangkat, dan bersama Castor dia membentuk rasi bintang Gemini di langit.

Tyndareus yang marah karena kehilangan kedua putranya memilih untuk menyerang kota tetangga, akhirnya pecah apa yang disebut dengan Perang Troya.

***

“Kasian mereka.” Rama berkomentar sambil memperhatikan Shesa yang baru saja selesai bercerita.

“Iya, sedih banget, kan?”

“Terus apa hubungannya sama aku yang santai banget?”

“Ya, Castor sama Pollux adalah tokoh paling nyantai yang aku tau di mitologi. Mereka seru banget kayaknya untuk diajak main.”

“Hahaha!” Rama tertawa dengan keras, membuat orang disekitarnya sempat memalingkan wajah ke arahnya. “Kamu ini ada-ada aja. Masa diajak main?!”

Shesa ikut tertawa, membayangkan dirinya bermain bersama si kembar dari Sparta.

Gemini, The Twins

Siren

“Aku bingung kenapa bisa sedepresi ini.”

“Hahaha! Mungkin karena kamu mendengar suara Siren.”

“Siren?”

“Iya, tokoh yang ada di mitologi Yunani.”

Shesa memandang Rama dengan kebingungan. Rama yang menikmati detik-detik rasa penasaran Shesa hanya tersenyum kecil, senang karena pembicaraan ini semakin menarik untuk lawan bicaranya.

Shesa tidak langsung bertanya, dia memilih untuk membuang pandangannya ke segala arah. Shesa memperhatikan orang-orang yang mulai ramai memadati ruangan kosong yang menghadap ke arah parkiran. Mereka semua nyaris melakukan hal yang sama, mendongak, melihat langit malam yang sebentar lagi akan dipenuhi oleh bara-bara kecil berwarna-warni.

Sudah hampir pergantian tahun memang, tapi Rama maupun Shesa tidak sedikit pun mempunyai niat untuk bangun dari tempat duduk mereka, di sebuah kedai kopi internasional di salah satu mall Jakarta Selatan yang dekat dengan ruang kosong yang kini menjadi sasaran penglihatan Sesha, dan bergabung memadati kerumunan untuk melihat pesta kembang api.

Shesa kembali meletakan pandangannya ke arah orang yang duduk di hadapannya. “Oke, aku nyerah. Coba ceritain tentang Siren itu.”

Rama tersenyum. Puas.

***

Dulu, ada seorang nelayan yang memaksakan diri untuk melaut disaat cuaca sedang sangat tidak bersahabat, angin berhembus sangat kencang, sampai-sampai untuk berjalan saja sulit. Semua orang tahu, bahwa malam ini hujan badai akan terjadi.

Tapi si nelayan bersih keras ingin melaut karena dia membutuhkan uang untuk membiayai ibunya yang sedang sakit. Teman-temannya sudah melarang, namun dia tetap teguh dengan pendiriannya. Sampai akhirnya, si nelayan benar-benar pergi melaut seorang diri.

Karena gelombang yang sangat besar, perahu si nelayan terombang-ambing tidak karuan. Hujan mulai turun, dan membuat kapalnya penuh dengan air. Belum sempat dia melempar jala, dia sudah terhempas dari perahunya karena ombak yang menghantam.

Walaupun si nelayan bisa berenang, namun arus laut bukanlah tandingannya. Dia banyak menelan air, hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Siren yang tidak sengaja sedang melintas di tempat dimana si nelayan nyaris tenggelam, membantu si nelayan dan membawanya ke karang terdekat. Karang-karang besar adalah rumah Siren.

Siren sekuat tenaga membantu agar si  nelayan bisa sadarkan diri. Dari mulai membuat nafas buatan, sampai memukul dada si nelayan dengan keras. Tapi nihil. Akhirnya saat matahari mulai terlihat di timur, si nelayan sudah tidak bernafas. Dia meninggal.

Sejak itu, hampir setiap malam Siren memainkan harpanya dan bernyanyi. Dia merasa gagal menolong si nelayan. Suaranya mampu membius siapapun yang mendengarnya. Suara Siren memang indah, namun nadanya selalu menyakitkan. Membuat semua orang yang mendengar terpukau sekaligus bersedih hati tanpa alasan.

***

“Kenapa Siren bisa sedepresi itu?” Shesa bertanya sambil menegak kopinya yang sudah mulai dingin.

Rama mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak tau.”

Tiba-tiba Shesa tertawa, gelas kopinya segera dia letakkan kembali di atas meja. “Hahaha! Aku tau kenapa Siren depresi.”

“Kenapa?”

Shesa meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya dan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Rama. “Karena dia pikir, si nelayan itu Pangeran. Seharusnya ending cerita dia seperti Ariel di Little Mermaid!”

Rama hanya memincingkan matanya, tidak setuju dengan pendapat itu. Dia juga tidak menemukan kelucuan kalau pun itu hanya candaan yang dibuat oleh Shesa.

“Kamu aneh.” Ujar Rama sambil kembali menegak kopinya.

“Biarin, weee!” Balas Shesa dengan menjulurkan lidahnya.

Akhirnya Rama tertawa, dan Shesa kembali melanjutkan tawanya.

“HAPPY NEW YEAR!”

Semua orang serentak berteriak. Mereka semua menyaksikan hiburan yang hanya bisa disaksikan setahun sekali, yaitu, parade kembang api di langit. Rama dan Shesa dengan cepat melemparkan pandangan ke atas. Langit sedang dilukis oleh para manusia.

“Selamat tahun baru, Ram.” Kata Sesha tanpa menoleh.

“Selamat tahun baru juga, Sa.” Balas Rama juga tanpa menoleh.

The Siren by John William Waterhouse