Dialog Diri Sendiri

Saya mendapatkan penginapan! Dan lucunya, penginapan yang saya temui tepat berdiri di depan rumah anak kecil yang memeperi saya bubuk putih. Mungkin karena saat itu saya terlalu fokus dengan anak kecil tersebut sehingga saya tidak melihat dan menanyakan ketersediaan kamar di penginapan yang berada tepat di seberang rumahnya. Sebenarnya saya tidak bergitu senang karena harga yang ditawarkan cukup tinggi, 550 baht atau setara dengan 165.000 rupiah untuk satu malam. Saya membaca di berbagai blog dan buku panduan di Jakarta, banyak orang yang mendapatkan kamar jauh di bawah harga tersebut, apalagi jika mendapatkan kamar type dorm yang berarti membagi kamar dengan beberapa orang lainnya, bisa seharga 50.000 rupiah!

“Huge room, I give you only 550 baht because you’re alone. Usually this room 700 baht!”, begitu penjelasan receptionist ketika saya menanyakan apakah ada kamar yang lebih murah dari kamar yang ia tawarkan.

Namun, setelah masuk ke dalam kamar penginapan yang berada di lantai dua, saya terkejut. Kamar itu dilengkapi dengan twin bed, televisi, kipas angin, AC, air panas, dan yang paling membuat saja takjub, adalah keberadaan kulkas. Dan bukan kulkas kubus, melainkan kulkas satu pintu setinggi dada saya. Well, 550 baht ternyata harga yang terlalu murah untuk fasilitas yang saya dapatkan di penginapan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaian serta meminum tolak angin dan membaluri tubuh dengan minyak angin (sungguh, ini bukan iklan, namun saat melakukan perjalanan, kedua ‘obat’ ini tidak mungkin saya tinggalkan) saya mencoba untuk berisitrahat. Sebenarnya saya lapar, tapi saat itu masih sore dan saya pikir, lebih baik sekalian makan malam saja untuk berhemat. Lagipula Khao San Road hidup 24 jam, dan sekarang sedang Songkran, pastilah nanti malam juga tetap ramai dengan pedagang. Dan semoga saja acara sempot-menyemprot sudah selesai sehingga saya bisa berjalan-jalan malam dengan tenang tanpa takut kebasahan.

Saya berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Keramaian di luar pengiapan seperti menggedor pintu kamar saya. Suara tawa di luar penginapan, suara pembicaraan di kamar sebelah yang tidak bisa saya deteksi menggunakan bahasa apa, sampai suara tangisan anak kecil. Akhirnya saya homesick. Ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan luar bisa rindu akan rumah, rindu akan wajah-wajah yang telah saya kenal. Aneh, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan sendirian dan tidak pernah merasa begitu kesepian. Baru kali ini, dan konyolnya, saya baru meninggalkan Jakarta pagi tadi! Mungkin karena ini untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, langsung ke negeri yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dan di saat semua orang sedang merayakan kehidupan, bersenang-senang.

“Their happy is too loud,” — We Bought A Zoo (2011)

Berkat password wifi penginapan, saya bisa menghubungi adik saya, menanyakan kabarnya dan semua orang di rumah. Kenyataan bahwa ada orang yang tahu keberadaan dan kondisi saya meski jauh jaraknya dan peduli akan kabar yang saya berikan membuat pikiran saya menjadi lebih nyaman. Manusia-manusia tersayang ternyata memang mampu membuat suasana hati merasa lebih baik. Pikiran saya melayang jauh, saya memikirkan keluarga, teman-teman, para sahabat, mereka sedang melakukan apa? Apakah mereka pernah berpikir untuk melakukan perjalanan seorang diri ke tempat jauh yang asing, dan terlibat dalam pemikiran-pemikiran seperti apa yang sedang saya pikirkan?

Akhirnya di atas tempat tidur yang tidak begitu nyaman, berselimut rumah sakit yang sudah bolong-bolongnya akibat jatuhnya abu rokok pengunjung kamar sebelumnya, saya banyak memikirkan hidup, dan mati. Saya memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam hidup selama beberapa hari ke depan dan ketakuan akan imaji yang saya bikin sendiri. Berjalan sendiri memang kadang begitu menakutkan pada awalnya, tapi saya tahu, bahwa pengalaman saya nantinya akan membuat saya lebih kuat lagi. Bangkok adalah tempat pertama di mana saya berjalan jauh seorang diri. Ini bukan Jogja, bukan Bali, tempat di mana saya bisa lari ke kantor polisi dan berbicara dengan cepat apa yang saya keluhkan atau meminta pertolongan kepada orang yang terlihat baik-baik di jalan atas suatu kejadian buruk yang menimpa saya. Dan saya harus memaklukmi diri saya sendiri yang memiliki ketakutan akan hal tersebut.

Kesempatan ini membuat saya berpikir tentang apa yang sudah terjadi seharian ini setibanya saya di Bangkok. Dan saya tersenyum ketika kembali melihat tulisan yang dibuat Pak Zaki yang saya tidak pahami artinya, apakah dia sudah sampai ke kampungnya? Bisakah saya menepati janji untuk pergi ke Yala dan kembali bertemu dengannya? Lalu Kell, apa yang dia lakukan sekarang? Berpesta di Khao San Road, sudah mendapatkan teman untuk bersenang-senang? Rumahnya pasti lebih jauh dari Jakarta, apakah ia merasakan homesick juga? Dan penipu di Hua Lamphong, apakah ia sudah mendapatkan orang untuk ditipu?

Tidak lama kemudian sebuah kabar baik datang dari telepon genggam yang masih tersambung wifi. Seorang teman yang juga sedang ikut merasakan serunya Songkran di Bangkok memberitahu bahwa penginapannya tak jauh dari penginapan saya.

Sebuah wajah familiar di tengah riuhnya tempat asing? Saya tahu, saya akan baik-baik saja.

Kell

Saya tidak membawa Lonely Planet Thailand karena nantinya ada seorang teman yang membawa kitab suci tersebut. Sebagai gantinya, saya membawa Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Salah satu buku favorit saya sepanjang masa yang sudah saya baca lebih dari dua puluh kali. Di dalam buku tersebut, tokoh utama yang bernama Bodhi bertemu dengan tokoh bernama Kell di Bangkok, di Khao San Road. Maka tulisan kali ini saya dedikasikan untuk ‘Kell’ yang saya temui di Bangkok, di Khao San Road.

Saat itu saya sedang mengeringkan pakaian dari semprotan, siraman, sampai guyuran kemeriahan Songkran di sebuah gang yang dekat dengan Masjid. Wajah saya sudah dipeperi bubuk halus seperti bedak yang dicampur air, sebuah tanda mata dari seorang anak laki-laki berumur lima tahun ketika saya sedang berjalan di depan rumahnya. Ia, yang tingginya hanya sepaha saya, meloncat-loncat girang untuk memeperi saya bubuk halus tersebut, sampai akhirnya saya lah yang membungkuk, membiarkan pipi saya dipeperinya. Anak itu begitu manis, dan kelucuannya semakin bertambah ketika ia berkata, “Songkran krub.” kepada saya. Maka di situlah saya sadar bahwa saya baru saja resmi menyambut tahun baru Thailand, Songkran.

Akhirnya, tidak jauh dari rumah anak kecil itu saya berhenti berjalan. Karena tidak ada keramaian di sana, saya rasa cukup aman untuk duduk di pinggir jalan untuk mengeringkan pakaian tanpa takut terkena semprotan air lagi.

Saya bingung bukan main karena begini kondisinya: Saya kurang tidur, saya sudah berhadapan dengan penipu, saya belum makan, saya tidak tahu arah, saya basah, saya masih memanggul backpack, dan saya belum menemukan penginapan. Kondisi yang bisa dibilang tepat untuk bersumpah serapah. Maka saya duduk di sana, meletakan tas di samping saya, membaca peta yang sudah basah, mencoba memikirkan lekuk gang demi gang daerah Khao San Road sambil mengeringkan badan.

Lalu tiba-tiba seorang laki-laki dengan wajah kelelahan lewat di depan saya, ia menanyakan sebuah alamat dan mengeluh betapa sulitnya mencari penginapan dalam satu kalimat. Jujur saja, saya juga sudah memiliki daftar penginapan yang saya siapkan dari Jakarta, lebih dari sepuluh penginapan untuk berjaga-jaga, tapi … bagaimana caranya mencari alamat yang kita dapatkan dari internet dengan tulisan latin sedangkan di Thailand, hampir semua alamat ditulis dengan huruf Thai? Yes, good luck with that. Maka ketika ada seorang kaukasian bertanya kepada saya tentang alamat dan mengeluh, saya tertawa dan berkata bahwa saya bukan orang lokal, saya tidak ada beda dengannya, buta Thailand. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah mengelilingi semua jalan sekitar Khao San Road untuk mencari penginapan. Kebanyakan penuh, lebih banyak lagi yang pegawainya mengunci penginapan dan merayakan Songkran, tidak jelas lagi mana penjaga penginapan ini, mana penjaga penginapan itu. Entah bagaimana nasib tamu penginapan yang ingin masuk (atau bahkan keluar? semoga mereka tidak mengunci tamu mereka sendiri) ke kamar mereka. Ia tertawa mendengar penjelasan saya yang terakhir.

“We’re really screwed, aren’t we?”

“About that, I can’t agree more,” balas saya. Entah kenapa, kami bedua akhirnya dapat tertawa bahagia atas kesialan yang menimpa kami.

Saya memerhatikan laki-laki yang duduk di samping saya. Ia berumur tigapuluhan, memiliki rambut pirang yang dipotong rapi, hampir potongan ABRI, mengenakan t-shirt berwarna biru langit dan celana jeans pendek berwarna biru dongker, tubuhnya terpahat sempurna, backpack berwarna hitam polos menggantung di belakang punggungnya, di betis sebelah kanan terdapat tato entah gambar -lebih mirip sebuah simbol- yang saya tidak ketahui. Karena tato tersebut, saya memanggilnya Kell, tokoh yang ada di Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Dan percayalah, Kell gambaran sempurna seorang model pria yang bisa ditemui di majalah fashion luar negeri.

Kell orang yang menyenangkan, kami bertukar cerita tentang kejadian-kejadian yang masing-masing kami lalui di Bangkok dalam tempo kurang dari 24 jam. Kami menertawai diri sendiri, mengeluhkan huruf Thailand, mengagumi Songkran yang begitu riuh, sampai berbisik membicarakan Raja Thailand yang menurut saya terlalu narsis karena banyak baliho dan poster dengan gambarnya di seluruh penjuru Bangkok. Kell setuju dengan pendapat saya.

“Let me see.” Saya meminta Kell memperlihatkan kertas yang sejak tadi ia genggam, sebuah kertas yang berisi alamat penginapan yang diberikan temannya yang sudah pernah ke Bangkok, dan temannya itu sudah membuat reservasi atas nama Kell di penginapan tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat kertas yang diberikan Kell dituliskan dengan huruf latin dan Thai, bahkan ada nomor teleponnya. Sebelum saya bertanya mengenai nomor telepon, Kell buru-buru menjelaskan bahwa sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi tidak diangkat.

“At least, you have an address with Thai language,” kata saya akhirnya. “Let’s try my luck.”

Saya mengajak Kell berjalan, mencari orang Thai yang bisa membaca alamat di kertas Kell. Dengan wujud yang menyerupai warga lokal, tidak sulit bagi saya untuk berkomunikasi dibandingkan Kell. Kami berdua sudah tidak lagi peduli dengan semprotan air, kami menikmatinya, karena memang itulah tujuan Songkran, menikmati percikan air dari segala penjuru. Dan setelah kurang lebih lima belas menit hilir mudik, penginapan Kell ketemu.

“I don’t know how to say thanks to you. Thank you, mate!” Kell menghujani saya ucapan terima kasih.

Saya tersenyum. Orang yang berkata bahwa membantu seseorang dapat membuat bahagia pastilah orang yang jenius. Karena benar, saya bahagia Kell menemukan penginapannya. Sayang, penginapan Kell sudah penuh, teman Kell membuat reservasi satu bed di dorm type, saya tidak bisa menumpang di penginapan Kell. Kell berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa membantu saya memecahkan masalah penginapan untuk saya. Saya menggeleng, karena sungguh ia tidak perlu meminta maaf karena masalah itu. Setelah duduk dan mengistiratkan badan di lobby penginapan Kell, saya pamit, berharap bertemu Kell lagi suatu saat.

Keluar dari penginapan Kell, saya kembali bingung. Tapi kemudian pemikiran lain menimpali, perasaan senang bukan main mendominasi karena saya baru saja mengalami sedikit bagian dari Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Saya menjelma Bodhi yang bertemu laki-laki kaukasian bertato simbol aneh di Bangkok, di Khao San Road.

Supernova: Akar - Dee
Supernova: Akar – Dee

Dan … Khao San Road

Mungkin saya sedang sial. Karena setelah beristirahat di halte dan mulai mencari petunjuk dari orang-orang tentang arah Khao San Road, tidak ada yang bisa membantu saya. Saya memiliki tiga peta Bangkok yang berbeda yang saya dapatkan dari Bandara Suvarnabhumi, seharusnya mudah saja bagi mereka untuk menunjukan arah Khao San Road. Namun aneh, dari tiga orang yang saya tanya, mereka semua menggeleng. Saya sampai harus mengganti pertanyaan dengan: “Di mana kita berada sekarang?”, berpikir setidaknya saya harus tahu tempat saya bediri di peta untuk kemudian berjalan ke arah Khao San Road.

Negatif. Bahkan tiga orang tersebut tidak tahu di mana kami berada menurut peta, padahal saya yakin benar Khao San Road tidaklah begitu jauh dari tempat saya berdiri. Saya memaklumi tiga orang tersebut karena mungkin saya bertanya pada orang yang salah, yang saya tanya adalah pedagang kelontong berumur tigapuluhan, seorang ibu yang membawa banyak belanjaan, dan seorang kakek yang baru saja turun dari bus, mereka bertiga mungkin tidak mengerti bahasa Inggris yang saya gunakan. Maka saya mencari orang yang seusia dengan saya, pelajar atau mahasiswa. Mereka pasti bisa bahasa Inggris, dan seminim apapun kemampuannya, mereka pasti tahu jawaban, “Where are we?”

Sampai akhirnya saya melihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh. Ia mengenakan t-shirt berwarna putih dan celana jeans pendek, lengkap dengan semacam nametag yang menggantung di lehernya, berfungsi untuk melindungi barang-barang berharga dari semprotan air, dan di semacam name tag yang ia gunakan itu terdapat iPhone serta beberapa pecahan uang, rambutnya naik berkat bangtuan gel rambut, wajahnya bersih, persis artis-artis di film Thailand. Otak saya seketika: “Dia anak gaul Bangkok! Dan anak gaul pasti bisa bahasa Inggris.” Maka saya bertanya. Tapi betapa mengejutkan karena laki-laki ini menggeleng begitu cepat bahkan sebelum saya sempat bertanya. Saya baru mengeluarkan kalimat “Excuse me, do you … ” sambil menunjukan peta, tapi ia begitu ketakutan seakan saya adalah dosen yang mendadak memberikan kuis. Ia pergi meninggalkan saya yang kebingungan. Saya menyerah. Saya fokus mencari taksi atau tuk-tuk meskipun agak mustahil mendapatkan kedua transportasi tersebut karena saya-tahu-Khao-San-Road-tidak-jauh.

Saya senang mencoba berbagai transportasi umum, di dalam maupun luar negeri. Ada kesenangan sendiri ketika saya berhasil menggunakan transportasi umum. Berperan sebagai warga lokal alih-alih wisatawan (lokal/mancanegara) selalu membuat saya berdebar senang. Selain itu, menggunakan transportasi umum jelas menghemat pengeluaran. Untungnya, saya bukan orang yang mudah mabuk dalam perjalanan. Maka saya bebas bertualang, menjelajah suatu kota dengan transportasi umum.

Dan pengalaman pertama saya menaiki tuk-tuk, kendaraan seperti bajaj namun terbuka di bagian belakang dan kanan kirinya, di Bangkok akhirnya terjadi. Saat itu saya yang sudah menyerah mencari tuk-tuk sepanjang jalan, berdiri mematung di sebuah perempatan besar. Saya memerhatikan mobil-mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala, sempat terpikir untuk mengetuk salah satu jendela mobil dan menumpang hingga Khao San Road, tapi jelas itu hal yang konyol karena saya sedang berada di kota besar, bukan pedesaan di mana hitchhiking menjadi hal yang lumrah. Tiba-tiba, saya mendengar suara berteriak di belakang mobil-mobil, supir tuk-tuk! Ia (seperti) memanggil saya. Maka saya berjalan ke arahnya. Ia mengajak saya berbicara Thai (saya sudah tidak bisa tertawa lagi karena dianggap warga lokal), namun setelah melihat raut wajah saya yang bingung, ia mengganti bahasanya menjadi bahasa Inggris yang lumayan baik.

“Where are you going?”

“Khao San Road.”

“I can take you, close to Khao San Road. There, traffic. Not good.”

“Okay, take me to the closest you can get. How much?”

“60 Baht.”

“40 Baht.”

“50 Baht.”

“Okay.”

Dan saya pun naik tuk-tuk. Sebelum tuk-tuk yang saya naiki jalan, karena masih menunggu lampu merah, sopir tuk-tuk bertanya apakah saya tidak bermasalah jika tersiram air sepanjang perjalanan. Saya mengangguk, saya siap basah. Semua perlengkapan elektronik sudah saya masukan ke dalam plastik dan dimasukan ke dalam lipatan pakaian. Saat itu hampir pukul tiga, pakaian yang saya kenakan sudah tidak lagi basah akibat semprotan sebelumnya, hanya sepatu yang masih lembab.

Percayalah, pengalaman menaiki tuk-tuk ini begitu mengesankan, karena sepanjang perjalanan saya disiram, disemprot, bahkan yang paling sial, saya nyaris diguyur menggunakan gayung ketika tuk-tuk yang saya tumpangi berhenti karena lampu merah oleh warga sekitar, untung supir tuk-tuk langsung menekan gasnya sehingga saya terhindar dari basah kuyup. Jalanan yang dipilih supir tuk-tuk adalah jalan-jalan kecil yang muat dua mobil jika dipaksakan, tiga menit yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Sampai akhirnya tibalah saya di jalan yang sangat besar. Supir tuk-tuk berkata bahwa Khao San Road ada di seberang jalan. Saya melihatnya, jalanan yang penuh dengan manusia, benar-benar penuh. Jalanan itu disulap seperti jalan-jalan ketika perayaan 17 Agustus, bendera yang terbuat dari plastik dan berwarna-warni mengelilingi jalan itu membentuk pola segitiga, dikaitkan dari satu tiang ke tiang lain. Air menari-nari di atas jalan. Saya girang bukan main. Saya memberikan 60 Baht kepada supir tuk-tuk karena itu harga yang pantas, bahkan mungkin kurang. Saya lebihkan dari kesepakatan untuk ungkapan rasa terima kasih. Lagipula, hey, 10 Baht hanya setara dengan 3000 Rupiah. Dan saya hanya iseng menawarnya.

Saya menyebrangi jalan yang luasnya mungkin setara dengan Sudirman-Thamrin. Tidak mungkin mengelak semprotan yang simpang-siur di sekitar saya. Semua orang menggenggam pistol air, dari yang kecil sampai besar bukan main. Saya rela basah meski masih mengenakan pakaian berangkat dari Jakarta yang bahkan sudah sempat basah kemudian kering kembali.

Akhirnya, saya sampai di Khao San Road. Seorang diri. Leonardo DiCaprio pasti bangga.

Tuk-tuk
Tuk-tuk

Setengah Jalan

Saya adalah salah satu orang yang kesal bukan main jika ada sekelompok orang yang memblokade jalan demi kepentingan kelompok atau pribadinya. Membuat orang lain kesusahan tentu bukan perilaku yang baik. Namun, bagaimana jika mungkin itu cara mereka untuk membuat kita lebih baik? Sebuah pengalaman membuat cara pandang saya menjadi berbeda.

Saya meninggalkan stasiun Hua Lamphong dengan kenangan baik dan buruk, bertemu dengan (mungkin bisa dibilang) scam dan bertemu orang yang membantu saya. Seimbang. Sekarang saya dengan tenang duduk di bus nomor satu menuju Khao San Road sambil sesekali tertawa melihat tuk-tuk atau bus yang disiram oleh warga yang sudah menyiapkan bergentong-gentong air di depan toko atau rumah mereka.

Meskipun sudah menunjukan tulisan Pak Zaki kepada supir bus (kondekturnya tidak ada) yang dijawab anggukan meyakinkan dari sang supir, saya tetap waspada dengan membuka google maps melalui telepon genggam. Selain memperhatikan layar, saya juga memperhatikan orang-orang yang naik-turun bus.

Ada yang janggal.

Semua orang yang naik tidak membayar kepada supir. Saya pun ketika naik tidak membayar, saya pikir nanti ketika turun saya akan menghampiri supir dan memberikannya sejumlah uang, seperti naik angkot di Indonesia. Tapi penumpang yang saya lihat seenaknya saja menekan bel di samping pintu bus menandakan mereka akan turun di halte berikutnya. Dan mereka turun begitu saja tanpa membayar ketika bus berhenti di sebuah halte. Apa naik bus di Thailand itu tidak perlu membayar? Begitu pikir saya. Tapi kenapa Pak Zaki meminta saya menunjukan uang 20 Baht untuk membayar? Pikir saya selanjutnya. Aneh.

Tiba-tiba saya menemukan kejanggalan lain. Bus yang saya tumpangi menjauhi Khao San Road saat saya melihatnya di google maps. Gawat! Akhirnya saya cepat-cepat menekan tombol di samping pintu bus, dan di halte berikutnya saya turun tanpa membayar (untung tidak diteriaki, mungkin memang gratis).

Jarak ke Khao San Road tidak begitu jauh dari tempat saya turun, sekitar dua kilometer. Tapi ya, lumayan juga, apalagi backpack masih tergantung di bahu. Dengan percaya diri saya berjalan menuju pusat keramaian tak jauh dari halte tempat saya turun. Di sana ternyata ada sebuah mall yang sepertinya setengah tutup, mungkin karena sedang ada perayaan Songkran, sehingga mall setengah tutup. Maksud saya setengah tutup adalah pintu utama mall tidak dibuka, gerai-gerai yang buka hanya gerai yang memiliki akses pintu dari luar mall, seperti McDonald’s.

Dan saya menemukan sesuatu yang menarik, di depan McDonald ada patung Ronald McDonald yang sedang memberikan salam ala Thailand. Seakan mengucapkan Sawasdee krub/ka kepada pengunjung yang datang. Saya tersenyum melihatnya. Ronald McDonald di Thailand memang tidak bisa diduduki, seperti Ronald McDonald di Indonesia karena dia memang dalam posisi asyik duduk dan seakan merangkul kita bila kita duduk disebelahnya karena tangannya yang memanjang di atas bangku, tapi Ronald McDonald di Thailand terkesan sangat ramah dengan kepalanya yang sedikit ditundukan.

Di depan mall setengah tutup itu terdapat halte yang (sepertinya) mengarah ke Khao San Road. Saya yang sebenarnya kelelahan karena kurang tidur ingin sekali duduk di kursi yang ada di halte, namun semua kursi tunggu penuh terisi. Tiba-tiba ada seorang Biksu yang saya taksir berumur sama dengan saya, sekitar pertengahan dua puluh, berjalan ke arah halte. Salah satu wanita yang duduk di kursi tunggu berdiri, kemudian dua wanita disebelah kanan kirinya pun ikut berdiri, memberikan tempat kepada Biksu muda untuk duduk. Kursi yang mampu menampung sekitar sepuluh orang kini hanya berisi delapan pria termasuk Biksu yang baru saja duduk. Saya heran, umur para wanita yang berdiri itu terlihat tidak lebih muda dari umur sang Biksu muda, malah satu orang wanita bisa dikatakan tua, kenapa pula mereka berdiri? Lagipula bukan kah Biksu muda itu hanya membutuhkan satu tempat? Lalu kenapa tidak ada pria yang berdiri? Saya melihat ada anak yang lebih muda (mungkin SMP) yang anteng saja melihat kejadian itu. Pertanyaan memenuhi otak saya.

Beberapa menit melihat kursi di sebalah kanan dan kiri Biksu muda tersebut kosong, membuat saya tidak tahan untuk mengisinya. Saya pun duduk di sana. Ketika mata saya dan matanya bertemu, saya mencoba tersenyum. Biksu muda tersebut membalasnya. Kemudian mata sang Biksu muda mengarah kepada bus yang datang, dia berdiri. Dan sebuah pemandangan yang awam untuk saya kembali terjadi. Para pria ikut berdiri kemudian melakukan semacam blokade kepada Biksu muda untuk jalan memasuki pintu bus, para wanita sabar menunggu Biksu muda untuk masuk. Setelah Biksu muda masuk, beberapa pria yang tadi ikut memblokade, naik ke dalam bus, disusul oleh para wanita. sisa pria yang lain duduk kembali. Sebelum bus berangkat, saya sempat melihat Biksu muda seakan dilapisi jaraknya oleh para pria dari wanita. Dan saat itulah saya tersadar, Biksu tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis!

Saya tertawa dengan pemikiran saya sebelumnya tentang para pria yang duduk di halte ini, mereka bukan tidak peduli, sebaliknya, mereka sangat peduli kepada para Biksu. Begitu juga dengan para wanitanya. Hebat! Saya kagum dengan cara warga Thailand memperlakukan Biksu muda, lain ceritanya bila Biksu yang tadi berumur lebih dari lima puluh tahun, mungkin saya akan merasa biasa saja dengan perlakuan mereka.

Entah mengapa setelah melihat kejadian Biksu tersebut membuat saya berpikir ulang tentang beberapa kelompok keagamaan yang menggelar acara di ruang publik. Mungkin memang mengganggu, tapi saya rasa tidak pantas melarang atau marah kepada mereka untuk mendapatkan satu jatah tempat di surga menurut agama mereka. Saya memang bukan orang yang taat beragama, dan mungkin itu cara mereka mengajak saya untuk lebih taat karena cara lain yang lebih ramah tidak lagi mampu membuat saya tergerak. Mungkin.

Dan Khao San Road masih setengah jalan.

Ronald McDonald - Thailand
Ronald McDonald – Bangkok, Thailand

Ada Melayu di Bangkok

Entah sejak kapan saya memiliki janji pribadi untuk tidak pernah menginjakan kaki di Malaysia. Berkali-kali tawaran teman yang mengajak berlibur ke Kuala Lumpur, Malaka, atau Penang saya tolak karena janji tanpa alasan tersebut. Sampai detik ini pun bila saya mencari tiket, saya menghindari penerbangan yang menyinggahkan penumpangnya di tanah Malaysia. Mungkin orang-orang bisa dengan mudah menyimpulkan janji saya itu didasari akan perang dingin antara Malaysia-Indonesia, saya tidak bisa mengamini pendapat itu karena saya sungguh tidak peduli dengan ‘perkelahian’ tersebut. Saya hanya tidak mau, dan sepertinya tidak perlu alasan untuk tidak mau.

Tapi mungkin janji saya nantinya bisa terpatahkan karena menemukan pengalaman bertemu ‘Malaysia’ di Kota Bangkok.

Semua teman saya yang sudah pernah ke Bangkok menyarankan untuk menaiki Airport Rail Link dari Suvarnabhumi menuju Phaya Thai dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi untuk sampai di daerah Songkran paling ramai, Khao San Road. Saya keras kepala. Saya memilih untuk menaiki Airport Rail Link dan turun di Hua Lamphong. Sungguh, di tiga peta Kota Bangkok yang saya dapatkan di bandara, Hua Lamphong lebih dekat daripada Phaya Thai. Masalah pun akhirnya datang. Hua Lamphong ternyata sebuah stasiun (sekaligus terminal?) besar yang menghubungkan hampir semua penjuru Thailand. Saya kebingungan mencari taksi dan tuk-tuk yang jarang sekali ditemui, kalau pun ada, terisi. Kalau pun kosong, mereka menolak mengantarkan ke daerah Khao San Road yang terlalu dekat dan macet. Hingga akhirnya dengan sok tahu saya berjalan sekitar Stasiun Hua Lamphong. Melihat-lihat sambil terus mencari kendaraan menuju Khao San Road.

Saat sedang berjalan (sok) percaya diri (padahal sudah panik), saya dicegat oleh seorang pria yang usianya sekitar akhir tiga puluh. Dia berbicara menggunakan bahasa Thailand, dan saya berkata, “Sorry, I’m not local.” Percayalah, saya melihat mata pria tersebut membesar dan senyumnya langsung mengembang. Kemudian dia bertanya apakah saya berasal dari Filipina, dan saya melongo. Saya pikir setelah dia mengira saya orang Thailand (karena dia mengajak saya berbicara dengan bahasanya), dia akan menganggap saya sebagai orang Malaysia. Saya menggeleng dan menjelaskan kalau saya berasal dari Indonesia. Percayalah, matanya kembali membesar. Dan semakin membesar lagi ketika tahu saya berasal dari Jakarta. Setelah bertanya apakah saya dalam rangka liburan dan saya mengangguk, dia segera memberikan sebuah peta Bangkok dan dengan cepat menjelaskan rute terbaik menuju Khao San Road. Di mulai dengan menggunakan tuk-tuk ke daerah A, kemudian menggunakan perahu (iya, melalui sungai!) ke daerah B, lalu menonton pertunjukan C sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke daerah D, kemudian E, lalu F, dan G, akhirnya sampai lah di Khao San Road.

“HAH?” Saya refleks berteriak ketika dia menyebutkan berapa harga Hua Lamphong-Khao San Road dengan rutenya tersebut … 3500 Baht! Lebih dari satu juta rupiah dan saya bahkan belum menemukan penginapan! Saya segera pamit saat itu juga, mencoba sopan dengan berkata bahwa saya masih ingin mengelilingi Hua Lamphong. Pria tersebut memaksa, “You can’t find anything here.” Dan saya berjalan tanpa arah, yang penting menghidar dari pria tersebut.

Jalan yang saya pilih membuat saya ketakutan sebenarnya, padahal saat itu masih pukul dua siang. Tapi suasananya sangat mencekam, bayangkan daerah Glodok yang penuh dengan pertokoan dalam keadaan tutup dan jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk tidak dilalui satu mobil pun. Semua warga Thailand sedang merayakan Songkran, sedangkan otak saya lebih memilih membayangkan peristiwa Mei 1998.

Saya memutar jalan untuk kembali ke Stasiun Hua Lamphong, menghindari pria yang menawarkan perjalanan satu juta rupiah ke Khao San Road. Sepanjang jalan, bila ada mobil pick-up yang lewat saya ‘ditembak’ oleh orang-orang yang berada di atasnya menggunakan pistol air mainan. Saya yang masih memanggul backpack, berjalan tanpa tujuan, masih mengenakan pakaian rapi karena baru sampai, menggunakan sepatu, dan akhirnya basah kena semprotan. Hebat! Saya bahkan belum enam jam di Thailand.

Saya akhirnya masuk ke Stasiun Hua Lamphong, mungkin Khao San Road bisa menunggu. Saya berpikir untuk langsung saja membeli tiket ke Ayutthaya, mumpung sudah berada di stasiun. Tapi saya memikirkan ulang keinginan tersebut. Jelas tujuan saya ke Bangkok adalah menghadiri Songkran, walaupun nantinya di Ayutthaya juga ‘main siram-siraman’, tentu Khao San Road lebih menarik. Maka akhirnya saya keluar dari Stasiun Hua Lamphong, berjalan sedikit ke arah sungai yang memiliki kursi-kursi di pinggirnya.

Saya duduk di sana, saya biarkan tubuh saya diterpa sinar matahari agar bagian-bagian yang basah dari pakaian mengering. Sambil merokok dan memikirkan langkah selanjutnya, saya menertawakan diri sendiri yang sok tahu menjelajahi Bangkok seorang diri. Tapi dengan cepat otak saya menimpali, “Loe bukan orang pertama yang pergi sendirian ke Bangkok untuk pertama kalinya. Nggak usah drama!”

Saat sedang melihat bus-bus yang singgah di Stasiun Hua Lamphong, seorang pria berumur sekitar lima puluhan duduk di samping saya. Sebenarnya saya agak terganggu, karena melihat masih banyak kursi yang kosong, saya tidak keberatan bila semua kursi sudah terisi.

Dia mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Thailand, lagi-lagi saya harus menjelaskan bahwa saya bukan orang Thailand. Dan sungguh aneh saat pria itu bertanya, “Are you Pinoy?” Dua kali dalam sehari dianggap orang Filipina jelas bukan kebetulan, sepertinya saya memang mirip dengan warga negara yang ibukotanya Manila itu. Saya memilih tertawa, berkata bahwa saya berasal dari Indonesia. Dan keajaiban pertama saya di Thailand dimulai.

“Indonesia? So, you bisa bahasa Melayu?”

“Bahasa Indonesia? Bisa.”

Saya keheranan saat pria sekitar lima puluhan ini berbicara menggunakan bahasa yang sangat saya mengerti.

“… Liburan di Bangkok? Naik ape?”

“Iya, tadi naik pesawat.”

“… Turun di mane? Don Mueang?”

“Bukan, Suvarnabhumi.”

“Sorry?”

“Suvarnabhumi.”

“Ah, Suvarnabhum.”

“Iya, Suvarnabhum. Baru saja sampai tadi jam sebelas.”

“Muslim?”

” … Iya, Muslim.”

“Saye Zaki.” Pria itu menawarakan berjabat tangan.

“Alvin.” Saya menyambutnya.

“Arifin?”

“Alvin.”

“Ya, Arifin. You nak ke mane … sekarang?”

“… Khao San Road.”

“Tahu … take with you untuk ke sana?”

“… I’m looking for cab or tuk-tuk, actually.”

“Sorry?”

“Taksi atau tuk-tuk.”

“Oh ya ya. Mahu saye tanya bus passing Khao San Road?”

“Sure! Thank you.”

Dan akhirnya pria yang bernama Zaki itu menanyakan bus nomor berapa yang bisa membawa saya ke Khao San Road kepada sopir bus yang sedang memarkirkan busnya tidak jauh dari tempat kami duduk.

“You … take bus number one. Do you … have any … paper and pen?”

“Wait.”

Setelah saya memberikan kertas dan pulpen kepada pria tersebut, dia menuliskan huruf Thailand yang sampai detik ini tidak saya pahami dan kertasnya masih tersimpan rapi di kamar saya. Saya sok tahu dengan mengartikan, “Anak ini mau ke Khao San Road, turunkan dia di sana.”

Dia memberikan kertas itu kepada saya dan berkata bahwa saya harus menunjukan kertas itu kepada sopir atau kondektur bus. Kami berdua akhirnya berjalan menuju tempat pemberhentian bus di Stasiun Hua Lamphong. Saat berjalan, Zaki meminta saya menunjukan isi dompet saya. Sungguh, saya kembali panik saat itu juga. Sepertinya Zaki tahu bila saya tidak suka dengan permintaannya, tapi akhirnya saya mengeluarkan dompet saya juga.

“Yang itu cukup untuk membayar.” Zaki menunjuk uang pecahan 20 Baht. Dia bahkan tidak menyentuhnya. Saya jadi menyesal sempat panik dan berpikiran yang tidak-tidak.

“Paper and pen?” Lanjut Zaki ketika kami sudah sama-sama di ruang tunggu tempat pemberhentian bus.

“You someday … harus ke tempat saye. Banyak Muslim.” Kata Zaki sambil terus menulis. Saya mempehatikan dia menulis, berkali-kali dia terlihat kesulitan menuliskan sesuatu dalam huruf latin. Tapi akhirnya sebuah alamat, lengkap dengan kode posnya, bahkan nomor telepon genggam berhasil Zaki tulis menggunakan huruf latin. “Yala, rumah saye … tak jauh dari Masjid Besar Yala. Tanya saja.”

“I took train … jam empat nanti.” Kata Zaki akhirnya sambil menyerahkan kertas berisi alamatnya kepada saya. “Oh, see … bus number one! Don’t forget … to show the paper!”

“Yes, Sir. Thank you for your kindness.”

“Sorry?”

“Thank you!”

“Sama-sama. As-salamu alayikum, Arifin.”

“Wa alaykumu s-salam, Pak Zaki.”

Sepanjang perjalanan di bus nomor satu, saya tidak henti-hentinya tersenyum.

Bukan kebetulan Pak Zaki memilih untuk duduk di samping saya padahal masih ada kursi-kursi kosong yang tersedia di pinggir sungai di dekat Stasiun Hua Lamphong. Bukan kebetulan Pak Zaki berinisiatif untuk mengajak saya berbicara. Bukan kebetulan ternyata Yala adalah provinsi di Thailand yang paling selatan sehingga berbatasan dengan Malaysia yang membuat Pak Zaki bisa sedikit berbahasa Inggris dan Melayu serta menulis huruf latin. Bukan kebetulan kami mengimani Tuhan yang sama padahal Muslim di Thailand hanya 4,6% dari jumlah penduduknya.

Yang saya yakini sekarang sejak pertemuan itu, nama Islam saya adalah Arifin.

Hua Lamphong-Khao San Road
Hua Lamphong-Khao San Road