Langit

“Ke daerah Pancoran yah, Pak.”

Supir Taksi itu hanya mengangguk, tanda mengerti. Setelah itu Sagitta mengeluarkan handphonenya, sudah menjadi kebiasaan bagi Sagitta untuk mengabarkan kedua orang tuanya siapa yang membawanya pulang ke rumah. Dalam hal ini tentu Supir Taksi, sehingga Sagitta dengan cekatan mengetik nama Taksi, kode pintu, sampai nama supirnya untuk dikirim kepada Ayah dan Ibunya.

Express, no. pintu: AZ167, nama: Panca …

Sagitta berhenti menulis dan memperhatikan nama yang tertera jelas diatas dashboard mobil, tempat dimana nama supir nomor pintu sampai masa berlaku identitas itu dipajang. Sagitta tersenyum, nama supir ini menarik perhatiannya. Walaupun ini aneh, tapi Sagitta memang percaya akan kekuatan nama, nama adalah do’a. Tidak mungkin supir yang bernama indah itu akan berbuat jahat kepadanya.

“Itu beneran nama Bapak?”

“Maaf?” Supir itu sedikit menoleh, namun tetap fokos kepada jalan.

“Iya, nama Bapak beneran Pancaran Langit?”

Supir yang sedang menyetir mobil tertawa mendengar pertanyaan Sagitta, dan Sagitta sendiri tidak keberatan untuk diketawai karena pertanyaan anehnya itu.

Kemudian supir itu mengangguk cepat, seakan bangga dengan keunikan namanya. “Iya, itu beneran nama yang dikasih sama almarhum Ayah saya.”

Sagitta tidak bisa melihat wajah supir itu, tapi dia yakin bahwa sekarang supir itu sedang tersenyum. Dan Sagitta pun ikut tersenyum membanyangkannya.

“Kita nggak jadi ke Pancoran Pak, lurus aja terus, saya mau ke Kota Tua.”

Sagitta Constellation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *