Saat 26

Kubelah Sumatera dari ujung selatannya hingga ke utara. Babat sampai habis dengan tubuh tipis ini, seorang diri. Dari gagahnya Marlborough, cantiknya Ngarai Sianok, mistisnya Danau Toba, hingga Sabang yang tak memiliki lagi tetangga.

Kujalani perbatasan itu, Siem Reap hingga Bangkok, sudah dengan bus maupun kereta, sama debarannya. Selamat atau tidak ke tujuan dengan prasangka baik atau buruk yang berkecamuk sambil disertai berbagai bahasa yang tidak memiliki sejarah dengan bahasa ibuku sebagai pengiring.

Kutelusuri Bali dari kaki hingga kepalanya hanya untuk melihat Rahwana yang bertarung hebat dengan Hanoman, Kumbakarna Laga. Tempat di mana azan beramai-ramai bisa berkumandang tanpa perlu mengalah oleh dentuman musik.

Kujejakan kaki di Timur Jauh, Tokyo yang bising hingga Kyoto yang temaram sunyi. Menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya teman untuk berdiskusi. Sejauh-jauhnya seorang diri, jauh dari rumah.

Kucabik Surakarta hingga ke pecahan terkecilnya untuk menemukan piramida yang tersasar di Jawa. Memikirkan bagaimana bisa, bagaimana mungkin sesudah melihatnya dan kesenangan dengan hasil pemikiran sendiri yang tentu tidak jelas keabsahannya.

Kudatangi satu persatu reruntuhan tempat Patih yang bertahta dan bersumpah di Trowulan, tempat di mana tak jauh Bubat yang tak terelakan itu terjadi. Mengais dan membayangkan kerajaan yang pernah ditakuti di seluruh dunia.

Dan sempat kuhampiri Tuhan di rumah-Nya. Sebaik-baiknya Mekkah, mereka yang pernah ke sana tahu: Madinah selalu di hati.

Depok, 20 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *