Saat 26

Kubelah Sumatera dari ujung selatannya hingga ke utara. Babat sampai habis dengan tubuh tipis ini, seorang diri. Dari gagahnya Marlborough, cantiknya Ngarai Sianok, mistisnya Danau Toba, hingga Sabang yang tak memiliki lagi tetangga.

Kujalani perbatasan itu, Siem Reap hingga Bangkok, sudah dengan bus maupun kereta, sama debarannya. Selamat atau tidak ke tujuan dengan prasangka baik atau buruk yang berkecamuk sambil disertai berbagai bahasa yang tidak memiliki sejarah dengan bahasa ibuku sebagai pengiring.

Kutelusuri Bali dari kaki hingga kepalanya hanya untuk melihat Rahwana yang bertarung hebat dengan Hanoman, Kumbakarna Laga. Tempat di mana azan beramai-ramai bisa berkumandang tanpa perlu mengalah oleh dentuman musik.

Kujejakan kaki di Timur Jauh, Tokyo yang bising hingga Kyoto yang temaram sunyi. Menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya teman untuk berdiskusi. Sejauh-jauhnya seorang diri, jauh dari rumah.

Kucabik Surakarta hingga ke pecahan terkecilnya untuk menemukan piramida yang tersasar di Jawa. Memikirkan bagaimana bisa, bagaimana mungkin sesudah melihatnya dan kesenangan dengan hasil pemikiran sendiri yang tentu tidak jelas keabsahannya.

Kudatangi satu persatu reruntuhan tempat Patih yang bertahta dan bersumpah di Trowulan, tempat di mana tak jauh Bubat yang tak terelakan itu terjadi. Mengais dan membayangkan kerajaan yang pernah ditakuti di seluruh dunia.

Dan sempat kuhampiri Tuhan di rumah-Nya. Sebaik-baiknya Mekkah, mereka yang pernah ke sana tahu: Madinah selalu di hati.

Depok, 20 Januari 2016

Kebetulan Ubud

Saya pernah dikeroyok kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan datang bertubi-tubi sampai saya lelah sendiri diserang bahagia. Saya sampai takut, jangan-jangan jatah bahagia saya sudah banyak terpakai.

Sebelum saya menceritakan kebetulan-kebetulan, saya akan merunut kejadian pembukanya seperti ini; Mark Zuckerberg menciptakan Facebook pada tahun 2006 di Inggris. Dua tahun kemudian di sebuah kedai kopi yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, saya mendaftarkan diri sebagai salah satu anggotanya atas bantuan teman saya bernama Randita. Satu tahun kemudian, saya yang sedang bosan mencari sebuah bacaan di dunia maya yang akhirnya membuat saya mendarat di notes milik Fajar Nugros yang sedang membuat cerita bersambung berjudul Adriana. Setiap hari saya menunggui cerita sambungan Adriana, saling bertukar komentar dengan orang-orang yang juga membaca notes tersebut yang akhirnya membuat kami semua secara tidak sengaja memproklamirkan diri sebagai The Hermes (karena dalam cerita Adriana, tokoh utama memberikan sebuah kode yang berujung pertemuan di bawah kaki Dewa Hermes, Museum Fatahillah, Jakarta), semacam kelompok pembaca dan pada akhirnya penulis. Yang tadinya hanya berteman maya, sampai akhirnya saling mengenal wujud satu sama lain. The Hermes menjadi suatu kelompok yang menyenangkan, dari mulai menulis untuk disumbangkan berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia sampai mengisi berbagai acara yang berhubungan dengan sastra. Dua tahun setelah The Hermes lahir, tiba-tiba kelompok ini ditawari untuk membuat buku, siapapun yang memiliki naskah, boleh coba dikirim ke penerbit baru, PlotPoint, penerbit yang digagas oleh Salman Aristo dan istrinya, Gina S. Noer.

Dan rentetan kebetulan yang saya bicarakan di awal, dimulai.

Beberapa bulan kemudian saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah novel saya ke PlotPoint. Gina S. Noer berkata, “Maunya jadi novel populer atau novel sastra? Mau dibaca satu tahun, atau bertahun-tahun kemudian?”

Jelas saya mau yang kedua. Gina menjelaskan kalau naskah novel saya setengah-setengah, belum ketahuan akan jadi apa. Maka saya diminta membaca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer karena saya memilih yang kedua atas pertanyaannya. Sepulang dari kantor PlotPoint, saya menyempatkan diri ke Gramedia dan membeli Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru.

Semalaman di rumah saya membaca, sesekali mengeluarkan komentar di jejaring sosial, Twitter. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba tiga teman saya, Jia, Om Em, dan Emmy tertarik untuk membahas bersama buku Bumi Manusia, sebagian mereka sudah pernah membacanya dan ingin bertukar pikiran tentang karya Pramoedya Ananta Toer yang paling tersohor itu. Maka sebuah klub buku dibentuk, bulan berikutnya kami bertemu dan membahas kejadian-kejadian serta tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia. Menyenangkan, ini baru pertama kalinya saya membicarakan buku sedalam-dalamnya.

Tanpa diduga Ubud Writers & Readers Festival 2012 mengusung tema Bumi Manusia, hanya berjarak kurang dari tiga bulan sejak saya membahasnya dengan ketiga teman saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari-cari tiket ke Bali, menghitung-hitung biaya pulang pergi dan biaya hidup saya selama di sana. Saya mengabari ketiga teman saya untuk ikut serta, sayang Jia dan Om Em memiliki kesibukan, sedangkan Emmy masih belum tahu apakah mendapatkan jatah cuti atau tidak. Pada akhirnya Emmy mengabari bahwa dia tidak dapat ikut, dan memberikan kejutan bahwa dia memiliki voucher yang bisa saya pakai untuk terbang ke Bali. Emmy bahkan meminjamkan kartu kreditnya untuk membeli tiket kepulangan saya. (God bless you, Mmy!)

3 Oktober 2012 sekitar pukul dua siang saya sampai di Bali. Dengan bekal pengalaman-pengalaman sebelumnya di Pulau Dewata, saya santai saja berjalan kaki menuju travel Xtrans yang tidak jauh dari bandara Ngurah Rai, sekitar 10 menit. Ada yang berbeda dari perjalanan saya ke Bali kali ini, karena saya akan menuju Ubud. Tempat yang belum pernah saya kunjungi karena selalu kalah suara saat berlibur bersama teman-teman. Ubud (yang katanya) terlalu tenang memang bukan tempat yang dicari teman-teman saya bila kami berlibur ke Bali. Ini pertama kalinya saya seorang diri pergi ke Bali, saya bebas ke mana saja, termasuk ke Ubud.

Saya berdebar bukan main saat menunggu mobil elf yang akan mengantarkan saya ke Ubud. Hampir satu jam saya menunggu. Dan betapa terkejutnya saya, saya adalah satu-satunya pelanggan yang akan pergi menuju Ubud di mobil travel yang muat untuk sepuluh orang. Dengan membayar 40 ribu rupiah, saya seakan menyewa mobil beserta sopirnya!

Saya tertidur sepanjang perjalanan menuju Ubud. Saya kira perjalanan dari Kuta-Ubud memakan waktu lama, yaa, sekitar jarak Jakarta-Bandung, tapi ternyata saya salah. Kuta-Ubud hanya memakan waktu satu jam, saya dibangunkan oleh sopir ketika memasuki daerah Monkey Forest, dan dia bertanya saya mau diturunkan di mana. Berhubung saya buta akan Ubud saya hanya mengatakan yang banyak penginapannya, maka sopir travel akhirnya memutuskan untuk menurunkan saya di lapanganan terbuka, lapangan yang segala penjuru arahnya adalah penginapan. Saya turun, bingung sekaligus semangat. Saya sampai di Ubud!