Buku Terpilih 2016


Sebenarnya beberapa minggu lalu saya sudah memikirkannya; membuat daftar buku terpilih terbitan tahun 2016. Tapi saya lupa. Sampai akhirnya tadi pagi, di saat saya sedang asyik bermain Super Mario Run, notifikasi dari Timehop mengabarkan bahwa pada hari ini, tahun lalu, saya membuat daftar buku terpilih terbitan 2015.

Maka sepanjang hari ini, di sela kesibukan bermain Super Mario Run (duh!) di ponsel dan pertemuan dengan penerbit, saya memikirkan untuk membuat daftar buku terpilih terbitan tahun 2016 pada malam nanti, yang berarti, saat ini.

Awal mula, tentu saya membuka Goodreads, untuk melihat buku-buku terbitan tahun 2016 yang saya baca. Dan dari 50+1 buku yang saya baca di tahun 2016, setelah menimbang dan mengingat sensasi membaca tiap judul buku yang tertera di daftar ‘read’ saya tahun ini, daftar buku terpilih saya untuk terbitan tahun 2016 seperti ini:

1. Dee | Intelegensi Embun Pagi | BENTANG PUSTAKA | 26 Februari 2016

[Periode baca: 26-28 Februari 2016]

Ini masalah romantisme. Saya satu dari sekian banyak yang tergila-gila dengan serial Supernova karangan Dewi Lestari. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa Intelegensi Embun Pagi terlalu ‘penuh’ karena semua tokoh berkumpul, mungkin penyelesaiannya tidak memuaskan, mungkin terlalu tipis (ya, buku tebal ini terasa begitu tipis, hahaha), dan mungkin mungkin yang lain. Tapi ini masalah romantisme. 15 tahun, sejak saya duduk di bangku SD (sumpah! saya masih ingat Dewi Lestari membaca kepingan Supernova: Akar di MetroTV ketika saya masih menggunakan seragam SMP), hingga kini sudah bekerja dan usia menikah, serial Supernova akan selalu menjadi kesukaan, terutama Akar dan Petir. Ah, Bodhi, Elektra, kalian luar biasa. Sekali lagi, ini masalah romantisme. Dan jika sudah cinta, mau bilang apa?

2. Pareanom, Yusi Avianto | Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi | BANANA | Maret 2016

[Periode baca: 1-26 Mei 2016]

Buku ini… anjing betul! Bisa dilihat bahwa periode membaca saya untuk membaca buku ini sangat panjang, hampir satu bulan sendiri. Buku ini bukan page turner? Oh, bukan begitu! Dari awal, sejak kalimat; “Rasanya begitu luhur, Raden.” saya tahu, saya harus menjaga buku ini dengan sepenuh hati. Tiap kalimat saya ratapi dalam-dalam karena belum tentu akan ada buku seanjing ini beberapa tahun lagi. Buku yang saya pikir seharusnya masuk ke dalam daftar buku-yang-harus-dibaca-sebelum-kamu-mati. Ya, kalaupun ada daftar semacam itu.

3. Zezyazeoviennazabrizkie, Ziggy | Jakarta Sebelum Pagi | GRASINDO | Mei 2016

[Periode baca: 23-25 Juni 2016]

Nama penulisnya belum bisa saya lafalkan dengan baik sekali pun tahun lalu bukunya yang berjudul Di Tanah Lada masuk ke dalam daftar buku terpilih saya terbitan tahun 2015. Ini buku populer, buku yang saya kira akan, ya sudah, begitu saja. Toh, ini buku pesanan (istilah pribadi untuk buku-buku tematik yang biasanya digagas oleh penerbit, dan penerbit menawarkan penulis untuk ikut ke dalam proyek tersebut), jadi tidak perlu ekspektasi macam-macam seperti Di Tanah Lada yang DKJ-ish. Tapi… kejutan! Jakarta Sebelum Pagi bisa saya bilang buku hybird, populer tapi tidak populer-populer amat, sastra juga bukan kategori yang tepat. Apa pun sebutannya, saya suka buku ini!

4. Kwan, Kevin | Kaya Tujuh Turunan (Crazy Rich Asians) | GRAMEDIA | 20 Juni 2016

[Periode baca: 19-20 Juli 2016]

Buku ini… wow! Saya hanya iseng mengambil dan membeli buku ini di toko buku pada suatu hari yang saya pikir mari-bersenang-senang-dan-habiskan-uang-yang-sudah-didapatkan-sebelum-merana-menunggu-gaji-berikutnya. Namun ternyata buku ini mengubah semua pandangan saya sebelumnya mengenai Singapura. Cerita begitu menyenangkan dan mengesankan sampai-sampai sungguh sulit menutupnya sebelum tamat. Penulisnya pintar sekali membagi kisah tokoh-tokoh di tiap bab, sehingga berkali-kali pembaca dibuat menanti kisah tokoh yang difavoritkan. Buku menghibur yang baik.

5. Triwikromo, Triyano | Bersepeda ke Neraka | KPG | 4 April 2016

[Periode baca: 24 September 2016]

Cukup satu hari untuk menyelesaikan buku ini. Buku ini mengejutkan, dalam arti yang sangat baik. Apalagi sebelumnya penulis mengeluarkan buku dengan judul Surga Sungsang, yang juga saya senangi. Seakan belum sempurna jika tidak menyinggung neraka, maka buku ini pelengkap sekaligus penghiburan bagi saya yang senang dengan tulisan ringkas dan tangkas. Banyak sekali cerita-cerita yang saya tandai di buku ini. Kisah-kisah yang, menurut saya, menyenangkan untuk dipikirkan. Untuk sekadar membuang waktu dengan; “Iya, ya, bagaimana jika… ”

6. Bohang, Lala | The Book of Forbidden Feelings | GRAMEDIA | 18 Juli 2016

[Periode baca: 29 September 2016]

Buku lain yang selesai sekali duduk. Sejujurnya, saya kurang begitu memahami seni lukis di buku ini yang bagi saya terlalu aneh. Tapi entah mengapa, gambar-gambar di buku inilah yang membuat tiap kalimat menjadi sangat tegas. Sebagai orang yang senang sekali dengan demotivasi diri (hahaha!), buku ini candu sekaligus refleksi tentang pemikiran-pemikiran yang sungkan untuk dituangkan. Ya, buku ini memang membawa kebahagiaan yang pahit. Oh ya, dengan cover minimalis yang sangat bagus, buku ini terlihat bergaya untuk dibawa-bawa. Ketika saya membaca buku ini di TransJakarta koridor 1, seorang bule (yang sebelumnya menanyakan rute kepada saya di halte Dukuh Atas) sangat antusias dengan buku ini dan memuji cover dan gambar-gambar di dalamnya. Ia berjanji, dengan sungguh-sungguh, akan mencari buku yang sedang saya pegang itu saat ia bermain ke toko buku selama ia di Jakarta.

7. Ramadhina, Windry | Angel in the Rain | GAGASMEDIA | 5 Oktober 2016

[Periode baca: 13-17 November 2016]

Saya membaca e-booknya. Dan, saking sukanya dengan cara penulisan penulisnya di buku ini, saya membeli versi buku cetaknya! Terima kasih kepada Windry Ramadhina yang membuat novel populer sangat menyenangkan untuk dibaca. Saya selalu terpakau dengan cara Windry menulis. Sebelum buku ini terbit, saya dibuat kagum dengan Interlude. Dan kini, dengan begitu ringan, namun memiliki muatan, Angel in the Rain berhasil membuat saya sungguh-sungguh bahagia dan puas. Meski tebal buku diluar kebiasaan GagasMedia, tapi terasa pas. Tokoh-tokoh begitu matang. Jahitan antar cerita sangat halus. Saya benar-benar mencintai buku ini.

8. Zezyazeoviennazabrizkie, Ziggy | San Francisco | GRASINDO | 25 Juli 2016

[Periode baca: 19-22 November 2016]

*baca ulasan nomor 3*

**beberapa minggu setelah selesai membaca buku ini, penulisnya dianugerahi Pemenang 1 Sayembara DKJ 2016, tak sabar!**

9. Rinni, Dyah | Asa Ayuni | FALCON | 12 Desember 2016

[Periode baca: 17 Desember 2016]

Sepertinya tahun ini tahun ‘populer’ bagi saya. Dari The Blue Valley Series yang diterbitkan penerbit baru, Falcon, ini, Asa Ayuni bagi saya adalah juaranya. Saat membaca buku ini, saya seakan disuguhkan berbagai keruwetan hidup. Ini buku Dyah Rinni pertama yang saya baca, tapi jelas bukan yang terakhir. Penulis ini menulis dengan sangat rapi dan menyenangkan, membuat adegan tutup buku hanya terjadi ketika saya berganti posisi atau tempat baca, dan tentu, ketika ceritanya habis.

—–

Jadi begitulah. Sembilan buku terpilih yang terbit di tahun 2016 yang saya sempat baca. Agak mengejutkan sebenarnya karena buku populer mendominasi daftar saya karena saya sering diledeki oleh teman-teman sebagai pemuja sastra. Kalimat dari Ada Apa Dengan Cinta: “Oh, surat saya dibaca juga? Kirain cuma mau baca bacaan penting aja; karya… sastra!” sering menjadi candaan yang kadang saya tanggapi dengan serius.

Mungkin 2016 menjadi tahun yang muram, semua orang hampir sepakat mengenai itu jika kita melihat postingan-postingan di media sosial. Dan secara tidak sengaja, kemuraman itu yang menggiring saya untuk memilih buku-buku populer yang ceria di tahun ini, buku-buku yang tidak perlu memiliki muatan sosial, budaya, hukum, atau agama.

Oh ya, untuk pertama kalinya, sejak mengikuti Reading Challenge di Goodreads pada tahun 2013, saya berhasil merampungkan goal saya, yaitu 50 buku. Prestasi pribadi yang ingin saya pamerkan ke orang-orang, meski tidak penting sama sekali. Dan perihal +1 di judul, saya sedang membaca dua judul buku secara bersamaan, fiksi dan non-fiksi, yang kemungkinan akan selesai sebelum malam tahun baru karena keduanya sudah sangat sedikit lagi sampai di penghujung.

Selamat menyambut tahun 2017! Semoga tahun depan buku-buku semakin baik kualitasnya, baik sastra maupun populer. Selamat berlibur.